Admin 06 Jun 2026 16:24

 

HUBUNGAN JENIS TERAPI DENGAN DERAJAT KONTROL PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL DI RUMAH SAKIT WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR PERIODE FEBRUARI-MEI 2016

ABSTRAK

Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran napas kronis yang menjadi masalah kesehatan global. Pengendalian gejala asma merupakan tujuan utama dari penanganan asma saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis terapi yang diberikan dengan derajat kontrol pada penderita asma bronkial di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Februari-Mei 2016. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel penelitian ini merupakan pasien asma bronkial yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diambil melalui rekam medis dan wawancara menggunakan kuesioner standar untuk menilai derajat kontrol asma. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square untuk melihat hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan derajat kontrol asma yang baik lebih tinggi pada pasien yang mendapatkan terapi kombinasi (Inhaled Corticosteroids dan Long-acting Beta2 Agonists) dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan monoterapi. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara jenis terapi dengan derajat kontrol asma (p < 0,05). Disimpulkan bahwa pemilihan jenis terapi yang tepat, khususnya penggunaan terapi kombinas i, berhubungan erat dengan pencapaian kontrol asma yang lebih baik pada pasien.

Kata Kunci: Asma Bronkial, Jenis Terapi, Derajat Kontrol, Wahidin Sudirohusodo.

LATAR BELAKANG

Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemen seluler. inflamasi ini menyebabkan timbulnya gejala berulang seperti mengi, sesak napas, rasa berat di dada, dan batuk terutama pada malam hari atau dini hari. Berdasarkan data Global Initiative for Asthma (GINA), diperkirakan sekitar 300 juta orang di seluruh dunia menderita asma, dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Di Indonesia, prevalensi asma juga cukup tinggi, memberikan beban signifikan terhadap sistem kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Tujuan utama dari pengelolaan asma secara jangka panjang bukan hanya untuk meredakan serangan akut, tetapi lebih penting lagi adalah mencapai kontrol asma yang optimal. Kontrol asma didefinisikan sebagai minimasi gejala siang dan malam hari, tidak ada keterbatasan aktivitas, tidak memerlukan obat pelega jiwa (rescue inhaler) berlebih, dan memiliki fungsi paru yang normal atau near-normal. GINA menekankan bahwa asma dapat dikontrol effectively pada sebagian besar pasien jika pengobatan dilakukan sesuai panduan yang ada.

Pengobatan asma umumnya diklasifikasikan menjadi dua kategori utama yaitu pengendali (controller) dan pereda symtom (reliever). Obat pengendali, seperti kortikosteroid inhalasi (IKK), berperan penting dalam mengurangi inflamasi saluran napas. Obat pereda, seperti beta-2 agonis kerja singkat (SABA), berfungsi untuk meredakan bronkospasme akut. Selain itu, terapi kombinasi yang mengandung IKK dan beta-2 agonis kerja panjang (LABA) sering direkomendasikan untuk pasien asma persisten sedang hingga berat untuk mencapai kontrol yang lebih baik.

Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Indonesia Timur melayani banyak pasien dengan kasus asma yang kompleks. Penting untuk mengevaluasi apakah pilihan jenis terapi yang diberikan kepada pasien di rumah sakit ini selama periode Februari-Mei 2016 telah efektif dalam mencapai tujuan terapi, yaitu kontrol asma. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara jenis terapi yang diterima pasien dengan derajat kontrol asma yang mereka capai.

METODE

Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional (potong lintang). Pendekatan ini dipilih karena peneliti hanya mengamati dan mengukur variabel independen (jenis terapi) dan variabel dependen (derajat kontrol asma) pada satu waktu tertentu tanpa melakukan intervensi.

Penelitian dilaksanakan di Poli Paru Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar. Populasi penelitian adalah seluruh pasien asma bronkial yang berkunjung dan menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut selama periode Februari sampai Mei 2016. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling, yaitu semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diambil sebagai sampel selama periode penelitian berlangsung.

Kriteria inklusi meliputi pasien yang telah didiagnosis menderita asma bronkial berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta telah menjalani pengobatan rutin minimal 3 bulan terakhir. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan komplikasi penyakit paru berat lainnya seperti TBC paru aktif, bronkiektasis, atau pasien yang memiliki riwayat merokok aktif dengan indeks masa pakai (Brinkman Index) tinggi yang dapat mempengaruhi status kontrol selain asma.

Variabel independen dalam penelitian ini adalah jenis terapi yang dikategorikan menjadi monoterapi (hanya IKK atau hanya SABA) dan terapi kombinasi (IKK + LABA). Variabel dependen adalah derajat kontrol asma, yang dinilai berdasarkan kriteria GINA (Global Initiative for Asthma) yang mencakup frekuensi gejala siang/malam, penggunaan obat pereda, dan pembatasan aktivitas. Derajat kontrol dikategorikan menjadi terkontrol (well controlled), terkontrol sebagian (partly controlled), dan tidak terkontrol (uncontrolled).

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan pemeriksaan rekam medis untuk memastikan jenis obat yang dikonsumsi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.

HASIL

Selama periode penbruari-Mei 2016, terdapat 85 pasien asma bronkial yang memenuhi kriteria inklusi dan participated dalam penelitian ini. Karakteristik demografi menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia produktif, yaitu 26-55 tahun, dengan dominasi jenis perempuan dibandingkan laki-laki.

Berdasarkan analisis jenis terapi, didapatkan bahwa sebagian besar pasien (sekitar 60%) menerima terapi kombinasi Inhaled Corticosteroids (IKS) dan Long-acting Beta2 Agonists (LABA). Sisanya mendapatkan monoterapi IKS atau monoterapi obat pereda simtomatik saja.

Berdasarkan tabel distribusi berikut, tampak hubungan antara jenis terapi dengan derajat kontrol asma:

Jenis Terapi Ter Kontrol (n) Ter Kontrol Sebagian (n) Tidak Ter Kontrol (n) Total
Monoterapi 5 15 10 30
Kombinasi (IKS+LABA) 25 20 10 55
Total 30 35 20 85

Dari tabel di atas, terlihat bahwa proporsi pasien dengan derajat terkontrol lebih tinggi pada kelompok terapi kombinasi (25 dari 55 pasien) dibandingkan dengan kelompok monoterapi (hanya 5 dari 30 pasien). Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,032. Karena nilai p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara jenis terapi dengan derajat kontrol pada penderita asma bronkial.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan terapi kombinasi IKS dan LABA memiliki derajat kontrol asma yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapatkan monoterapi. Temuan ini sejalan dengan panduan GINA dan berbagai studi literatur sebelumnya yang menyatakan bahwa penatalaksanaan asma persisten memerlukan pendekatan anti-inflamasi yang intensif dan bronkodilasi yang berkepanjangan.

Inhaled Corticosteroids (IKS) bekerja sebagai agen anti-inflamasi utama yang menurunkan hipereaktivitas saluran napas dengan menekan proses inflamasi kronis pada asma. Namun demikian, penggunaan IKS saja pada kasus asma persisten seringkali tidak adekuat untuk mengontrol gejala bronkospasme sepenuhnya. Penambahan Long-acting Beta2 Agonists (LABA) memberikan efek sinergis dimana LABA bekerja merelaksasi otot polos bronkus secara prolongated, sementara IKS meningkatkan ekspresi reseptor beta-2 dan mengurangi peradangan.

Pada kelompok monoterapi, tingginya angka pasien yang "tidak terkontrol" atau "terkontrol sebagian" kemungkinan disebabkan oleh ketidakmampuan monoterapi IKS dosis rendah untuk menekan inflamasi secara maksimal pada pasien dengan derajat keparahan moderat, atau sebaliknya, penggunaan obat pereda simtomatik saja tidak mengatasi mekanisme dasar penyakit yaitu inflamasi. Penggunaan SABA saja tanpa obat pengendali inflamasi akan menyebabkan gejala mudah kambuh karena patofisiologi penyakit tidak diobati.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah kepatuhan pasien dalam menggunakan inhaler. Terapi kombinasi yang biasanya tersedia dalam satu alat inhaler (dry powder inhaler) dapat meningkatkan kepatuhan pasien karena kemudahan penggunaan dibandingkan harus menggunakan dua inhaler terpisah. Kepatuhan yang baik merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan asma.

Meskipun demikian, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak semua pasien dengan terapi kombinasi mencapai status terkontrol sepenuhnya. Hal ini mengindikasikan bahwa selain jenis terapi, faktor lain seperti teknik inhalasi yang benar, paparan alergen lingkungan, dan komorbiditas seperti rhinitis alergi atau GERD juga berperan penting dalam menentukan derajat kontrol asma.

Secara keseluruhan, penelitian ini memvalidasi pentingnya adhere pada protokol penatalaksanaan asma standar yang mengutamakan terapi pengendali jangka panjang, khususnya terapi kombinasi, untuk pasien asma yang tidak terkontrol dengan monoterapi saja.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jenis terapi dengan derajat kontrol pada penderita asma bronkial di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar periode Februari-Mei 2016. Pasien yang mendapatkan terapi kombinasi Inhaled Corticosteroids dan Long-acting Beta2 Agonists menunjukkan proporsi kontrol asma yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang hanya menerima monoterapi. Oleh karena itu, disarankan bagi tenaga kesehatan untuk mempertimbangkan penggunaan terapi kombinasi lebih agresif pada pasien asma persisten guna mencapai tujuan terapi yang optimal.

```

File Referensi Untuk HUBUNGAN JENIS TERAPI DENGAN DERAJAT KONTROL PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL DI RUMAH SAKIT WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR PERIODE FEBRUARI MEI 2016
Screenshoot
Nama File
c11114374_skripsi__1_2.pdf

Ukuran File
2.67 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk HUBUNGAN JENIS TERAPI DENGAN DERAJAT KONTROL PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL DI RUMAH SAKIT WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR PERIODE FEBRUARI MEI 2016 . Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

HUBUNGAN JENIS TERAPI DENGAN DERAJAT KONTROL PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL DI RUMAH SAKIT...


admin
Admin
2026-06-06 16:24:12

RANCANG BANGUN APLIKASI STATUS PASIEN PENDERITA PENYAKIT JANTUNG DI PUSAT JANTUNG TERPADU...


admin
Admin
2026-06-07 19:24:10

Manajemen Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Pada TN S Dengan Diagnosis Medis Electrical...


admin
Admin
2026-06-06 21:14:11

Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Pada Tn Y Dengan Diagnosis Thermal Burn Injuri (Combus...


admin
Admin
2026-06-13 12:48:32

Hubungan Antara Golongan Darah Sistem ABO Dengan Derajat Dan Berat Perdarahan Pada Penderi...


admin
Admin
2026-06-07 07:34:15