Pendahuluan
Luka bakar listrik merupakan salah satu kondisi darurat yang menuntut pendekatan multidisiplin dalam asuhan keperawatan. Di Instalasi Gawat Darurat Luka Bakar RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, kasus TN S datang dengan dua derajat luka bakar listrik: GradeIII (6%) dan GradeIIB (1%). Kedua komponen tersebut menimbulkan tantangan klinis khusus: kerusakan jaringan dalam, kehilangan cairan, risiko infeksi, serta komplikasi kardiovaskular yang sering menyertai luka bakar listrik.
Diagnosa Medis
| Diagnosa | Persentase Luas Bakar | Keterangan |
|---|---|---|
| Electrical Burn Injury Grade III | 6% | Luka dalam melibatkan jaringan subkutan, otot, bahkan tulang dengan necrosis luas. |
| Electrical Burn Injury Grade IIB | 1% | Luka kedalaman menembus dermis hingga lapisan subkutan, dengan risiko pembentukan ulkus. |
Kedua diagnosa tersebut menuntut penanganan early resuscitation, debridement, dan pemantauan organ vital secara intensif. Dalam konteks kegawatdaruratan, prioritas utama adalah mencegah hipovolemia, menjaga keseimbangan elektrolit, serta mengidentifikasi komplikasi sekunder seperti aritmia atau kerusakan organ internal.
Penilaian Keperawatan
Penilaian komprehensif harus mencakup empat domain utama:
- Fisiologis pemeriksaan vital sign, penilaian luas dan derajat luka, status cairan, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), serta laboratorium (Hb, elektrolit, fungsi ginjal).
- Psychososial tingkat kecemasan pasien, dukungan keluarga, dan pemahaman tentang prosedur medis yang akan dilakukan.
- Lingkungan kondisi ruang ICU/IGD, ketersediaan peralatan monitoring, serta keamanan listrik di area perawatan.
- Kulturospiritual menghormati kepercayaan dan nilai budaya pasien, termasuk kebijakan berdoa atau ritual khusus.
Data penilaian harus dicatat secara sistematis pada SOAP Note untuk memastikan kontinuitas perawatan.
Intervensi Keperawatan
1. Resusitasi Awal (ABCDE)
- A Airway: Pastikan jalan napas terbuka, hindari aspirasi dengan posisi semiFowler.
- B Breathing: Berikan oksigen 1015L/min lewat face mask; monitor saturasi SpO.
- C Circulation: Infus kristaloid 20mL/kg dalam 1jam (Parkland formula) dilanjutkan dengan koloid bila diperlukan; pantau tekanan arteri.
- D Disability: Skor Glasgow Coma Scale (GCS) dan pemeriksaan pupil.
- E Exposure: Buka seluruh area luka, hindari hipotermia dengan selimut hangat dan ruangan bersuhu 2426C.
2. Pengelolaan Luka Bakar Listrik
- Debridement mekanik atau bedah segera setelah stabilisasi hemodinamik.
- Aplikasi balutan nonadhesif (hydrocolloid/alginate) untuk melindungi jaringan yang belum terdebridement.
- Penggunaan topikal antibakteri (silver sulfadiazine 1%) pada area grade IIB; bila terdapat nekrosis luas, pertimbangkan terapi antibiotik spektrum luas berdasarkan kultur.
3. Pengendalian Nyeri
Nyeri pada luka bakar listrik bisa sangat intens. Skema analgesia:
- Paracetamol 1g IV tiap 6jam.
- Opioid (misalnya morphine 24mg IV tiap 4jam atau sesuai kebutuhan) dengan skala NRS untuk titrasi.
- Adjunct: ketorolac 15mg IV bila tidak kontraindikasi, atau gabapentin bila terdapat neuropati.
4. Penatalaksanaan Komplikasi Sistemik
- Hiperkalemia: Monitor K, berikan calcium gluconate 10mL 10% IV bila K >6mmol/L.
- Rhabdomyolysis: Berikan cairan tambahan 1,52L/hari, pantau myoglobin dan fungsi ginjal.
- Aritmia: Gunakan monitor kardiyak kontinu, siapkan defibrillator, dan konsultasikan kardiologis.
5. Edukasi & Dukungan Keluarga
Informasikan kepada keluarga tentang proses debridement, kemungkinan kebutuhan cangkok kulit, serta pentingnya perawatan luka di rumah. Berikan materi tertulis dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami.
Monitoring & Evaluasi
Setiap 12 jam lakukan pemeriksaan berikut:
- Vital sign (TD, nadi, RR, suhu, SpO).
- Masukan/keluaran cairan, termasuk urin dan drainase.
- Skor nyeri (NRS 010).
- Kondisi luka: ukuran, kemerahan, eksudat, dan tanda infeksi.
- Laboratorium: Hb, Ht, elektrolit, kreatinin, CK, dan kultur bila diperlukan.
Hasil evaluasi dicatat dalam Progress Note. Tindakan korektif diambil segera bila terjadi penurunan tekanan darah, peningkatan kadar serum K, atau tanda infeksi.
Kesimpulan
Manajemen keperawatan pada kasus TN S dengan electrical burn injury grade III dan IIB memerlukan pendekatan terpadu yang menitikberatkan pada resusitasi awal, kontrol nyeri, pencegahan komplikasi sistemik, serta perawatan luka yang agresif namun konservatif. Kolaborasi antara perawat, dokter, ahli bedah, fisioterapis, dan tim psikososial menjadi kunci utama untuk mempercepat proses penyembuhan dan meminimalkan morbiditas jangka panjang.
Dengan pemantauan yang ketat, edukasi berkelanjutan kepada pasien dan keluarga, serta penyesuaian intervensi secara dinamis, diharapkan hasil klinis yang optimal dapat dicapai pada lingkungan IGD Luka Bakar RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
