Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Salah satu ruang rawat inap yang ada di RSUD adalah Ruangan Komodo yang umumnya menangani pasien dengan berbagai kondisi medis. Keperawatan merupakan salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit, yang bertanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan yang holistik dan terpadu.
Kebutuhan dasar manusia adalah hal-hal yang diperlukan untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraan. Salah satu kebutuhan dasar tersebut adalah kebutuhan akan rasa aman dan nyaman. Rasa aman adalah kondisi di mana seseorang merasa terlindungi dari ancaman atau bahaya, baik fisik maupun psikologis. Sementara rasa nyaman adalah keadaan di mana seseorang merasa puas dan bebas dari rasa sakit atau penderitaan.
| Data | Informasi |
|---|---|
| Nama | Tn. M.F |
| Usia | 54 Tahun |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Alamat | Jl. Merpati No. 12, Kota Samarinda |
| Status Perkawinan | Menikah |
| Pekerjaan | Wiraswasta |
| Agama | Islam |
| Tanggal Masuk RS | 15 Mei 2023 |
| No. RM | 12-34-567 |
| Diagnosa Medis | Post Operasi Laparatomi Appendicitis Perforasi |
Klien masuk RS dengan keluhan nyeri perut bagian bawah kanan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan intensitas nyeri yang meningkat dari waktu ke waktu. Klien mengatakan setiap bernafas terasa nyeri. Klien juga mengalami mual dan muntah sebanyak 3 kali. Pasien mengatakan badan terasa lemah dan belum bisa buang air besar sejak 2 hari yang lalu. Pasien kemudian menjalani pemeriksaan fisik dan penunjang serta dinyatakan harus menjalani operasi laparatomi karena diduga mengalami appendicitis perforasi.
Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit yang berat sebelumnya. Perlu ditanyakan apakah klien pernah mengalami keluhan nyeri perut sebelumnya. Klien mengatakan pernah mengalami nyeri perut namun tidak memeriksakan ke fasilitas kesehatan karena dianggap biasa. Klien juga mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung, atau penyakit lainnya.
Klien mengatakan keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit yang sama seperti klien. Klien mengatakan ayahnya mempunyai riwayat penyakit darah tinggi dan kencing manis yang sudah dapat terkontrol dengan baik. Ibu klien tidak mempunyai riwayat penyakit yang berat.
Klien masuk ruangan Komodo dengan kondisi post operasi laparatomi hari ke-1. Klien terpasang infus RL 20 tetes/menit di tangan kiri dengan terpasang infuse pump. Klien terpasang selang kateter (kantong urine) berisi urine keruh berwarna kuning. Klien terpasang selang NGT (Nasogastric Tube) dan terhubung dengan botol penghisap. Klien terpasang drain pada luka operasi yang berdarah sedikit. Ditempatkan TTV: TD 120/80 mmHg, N 88x/menit, R 20x/menit, S 36,5C, SpO2 98%.
Keadaan umum: Kesadaran compos mentis, posisi pasien supine, tampak nyeri di daerah luka operasi. TTV: TD 120/80 mmHg, N 88x/menit, R 20x/menit, S 36,5C, SpO2 98%
Frekuensi napas 20x/menit, irama napas regular, kedua paru tampak simetris, penggunaan otot bantu napas normal, suara napas vesikuler kedua lapang paru, tidak ada sputum.
Nadi 88x/menit, reguler, kuat teraba, tekanan darah 120/80 mmHg, tidak ada edema ekstremitas, CRT < 2 detik.
Pasien post operasi appendicitis perforasi, abdomen tidak teraba, ada luka operasi di daerah abdomen kanan bawah dengan dressing masih baik, selang NGT terpasang, abdomen distensi sedikit, bising usus (+) berkurang, BAB belum, belum ada flatus.
BAB belum, belum ada flatus, selang kateter terpasang, urine berwarna kuning keruh, volume urine sekali 150cc.
Pasien tampak mengalami kelemahan otot ekstremitas atas dan bawah, skala mobilitas 3 (bila dibantu), pasien dapat melakukan gerakan aktif namun terbatas karena efek operasi.
Kulit tampak pucat, turgor baik, tidak ada edema, ada luka operasi di abdomen kanan bawah dengan dressing tipis jahit, ada selang drain terpasang. Tidak ada tanda-tanda inflamasi.
Kesadaran compos mentis, pupil isokor, refleks cahaya positif (+/+), dapat merespons dengan baik terhadap rangsangan verbal dan taktil, tidur cukup.
Kebutuhan oksigenasi: terpenuhi (SpO2 98%)
Kebutuhan nutrisi: pasien terpasang NGT, belum dapat diperbolehkan makan (NPO)
Kebutuhan eliminasi: belum BAB, pasien terpasang selang kateter, urine 150cc
Kebutuhan aktifitas dan istirahat: pasien bed rest, aktifitas dibantu orang lain
Kebutuhan cinta dan kasih sayang: dukungan keluarga sangat baik, istri selalu menemani
Kebutuhan aman dan nyaman: pasien mengeluh nyeri pada luka operasi, pasien merasa cemas dengan keadaannya sekarang
| Subyektif (S) | Obyektif (O) | Analisa (A) |
|---|---|---|
| Klien mengatakan merasa nyeri pada luka operasi | - Pasien tampak meringkuk dan menahan perut saat ada gerakan - Skala nyeri 6 (sedang) - TTV TD 120/80 mmHg, N 88x/menit - Ekspresi wajah meringkut terlihat saat posisi dipindah | Gangguan rasa nyaman: nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah dan trauma jaringan |
| Klien mengatakan khawatir dengan kondisi penyakitnya | - Pasien mengalami ketidaktidaktahuan kondisi dan perawatan post operasi - Pasien sering bertanya kepada keluarga dan perawat mengenai kondisinya - Keluarga tampak menunjukkan dukungan emosional namun terbatas | Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur bedah dan pemulihan |
| Klien mengatakan ingin segera sembuh | - Pasien tampak membutuhkan bantuan dalam aktivitas - Pasien tampak lemah dan kurang energi - Pasien belum dapat mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari | Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik pasca operasi dan pembatasan gerak |
| Klien mengatakan belum bisa tertidur nyenyak | - Pasien tampak sering terbangun malam hari - Pasien mengatakan kondisi lingkungan mengganggu tidur (lampu, suara) - Klien tampak mengalami ketidaknyamanan saat mengubah posisi | Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri fisik dan lingkungan perawatan |
Tujuan:
Intervensi:
Tujuan:
Intervensi:
Tujuan:
Intervensi:
Tujuan:
Intervensi:
Perawat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Perawat membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan dirinya seperti mandi, makan, dan eliminasi. Perawat memberikan edukasi tentang pentingnya mobilitas dini setelah operasi. Perawat mengukur tanda-tanda vital setiap 4 jam. Perawat memantau cairan masuk dan keluar pasien. Perawat memberikan obat pereda nyeri sesuai program terapi. Perawat memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga. Perawat mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam untuk mengurangi nyeri.
Perawat terus memantau kondisi pasien. Pasien sudah mulai dapat melakukan beberapa aktivitas dengan bantuan. Perawat membantu pasien untuk mulai bernafas dalam dan menggerakkan ekstremitas. Perawat memantau luka operasi dan drain. Perawat mulai memberikan diet cair ringan jika pasien sudah mengeluarkan flatus. Perawat terus memberikan edukasi tentang perawatan luka dan diit yang harus dijalani pasca operasi.
Perawat memantau proses penyembuhan luka operasi. Pasien sudah mulai dapat melakukan aktivitas lebih mandiri. Perawat mengajarkan teknik perawatan luka operasi kepada pasien dan keluarga. Perawat mengevaluasi pengetahuan pasien dan keluarga tentang perawatan di rumah. Perawat mempersiapkan pasien untuk pulang jika kondisi sudah memungkinkan.
Skala menurun dari 6 menjadi 3, pasien dapat beristirahat lebih baik, tanda-tanda vital dalam batas normal (TD 120/80 mmHg, N 80x/menit, R 18x/menit, S 36,6C).
Pasien dapat mengungkapkan perasaannya, tampak lebih tenang, mengurangi tanda-tanda kecemasan seperti gelisah dan takikardia, sudah memahami kondisi dan prosedur yang dilakukan.
Kebutuhan perawatan diri tetap terpenuhi, pasien mulai dapat melakukan beberapa aktivitas mandiri seperti makan dan minum, pasien dapat mempraktikkan metode perawatan diri yang diajarkan.
Pasien sudah tidur lebih nyenyak, nyeri sudah terkontrol sehingga tidak mengganggu tidur, pasien mengatakan merasa lebih fresh di pagi hari.
Asuhan keperawatan pada Tn. M.F dengan gangguan kebutuhan dasar aman dan nyaman di Ruangan Komodo RSUD telah dilaksanakan sesuai dengan proses keperawatan yang sistematis mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, hingga evaluasi. Masalah utama yang dihadapi pasien adalah gangguan rasa nyaman akibat nyeri pasca operasi, kecemasan, defisit perawatan diri, dan gangguan pola tidur.
Intervensi keperawatan yang diberikan berfokus pada manajemen nyeri, dukungan emosional, bantuan pemenuhan kebutuhan perawatan diri, dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk istirahat. Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, terjadi perbaikan dalam kondisi pasien. Skala nyeri menurun, pasien lebih tenang, dapat melakukan aktivitas mandiri sebatas kemampuan, dan tidur lebih nyenyak.
Peran keluarga dalam memberikan dukungan kepada pasien sangat penting dan terbukti membantu dalam pemulihan pasien. Edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga tentang perawatan luka, diit, dan aktivitas yang boleh dilakukan sangat bermanfaat untuk mempersiapkan pasien untuk pulang dan menjalani perawatan di rumah.
Perawat diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas asuhan keperawatan melalui pendekatan yang holistik dan berpusat pada pasien, dengan memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dalam proses penyembuhan pasien.
