Pendahuluan
Luka bakar merupakan salah satu cedera trauma yang paling sering terjadi dan memiliki morbiditas serta mortalitas yang signifikan. Luka bakar Grade II (dermal partial thickness) melibatkan epidermis dan sebagian dermis. Karakteristik klinisnya meliputi eritema, nyeri hebat karena ujung saraf masih utuh, edema, dan timbulnya bula (lepuh) yang berisi cairan jernih. Penanganan awal yang cepat dan tepat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sangat krusial untuk mencegah kejadian syok hipovolemik, infeksi, dan meminimalkan deformitas jaringan.
Dokumen ini membahas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien An. Y.N yang datang ke IGD RSUD Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang dengan diagnosis utama Luka Bakar Grade II. Fokus utama asuhan adalah manajemen nyeri, pemantauan cairan, dan pencegahan infeksi primer.
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan secara menyeluruh mulai dari tiba di IGD menggunakan pendekatan ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure).
A. Anamnesis (Data Subjektif)
- Identitas Pasien: An. Y.N (Dewasa).
- Keluhan Utama: Nyeri dan terasa panas hebat pada daerah luka yang terkena percikan air mendidih pada lengan kanan dan dada.
- Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien mengalami kecelakaan kerja sekitar 1 jam yang lalu. Air mendidih tumpah secara tidak sengaja mengenai lengan kanan dan sebagian dinding dada. Pasien mengeluh kesemutan dan nyeri tekan.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Pasien mengaku tidak memiliki penyakit kronis seperti diabetes melitus atau hipertensi. Tidak ada riwayat alergi obatan atau makanan.
B. Pemeriksaan Fisik (Data Objektif)
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, didapati dua masalah keperawatan utama yang prioritas:
Ditandai dengan: Pasien melaporkan nyeri hebat, wajah meringis, posisi antalgik, takikardi, dan respons nyeri tekan pada area luka.
Ditandai dengan: Edema lokal pada lengan kanan, eritema, dan potensi hipovolemia akibat kebocoran cairan kapiler.
3. Intervensi dan Implementasi
Implementasi dilakukan segera di area triage/ruang tindakan IGD RSUD Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang sesuai protokol kegawatdaruratan trauma bakar.
Untuk Nyeri Akut:
- Kolaborasi Pemberian Analgesik: Obat anti-nyeri diberikan sesuai order dokter (misal: Ketorolac atau Paracetamol IV) untuk menurunkan sensasi nyeri dan memudahkan prosedur tindakan luka.
- Manajemen Non-Farmakologis: Perawat mengajarkan teknik relaksasi napas dalam dan menenangkan pasien secara verbal untuk mengurangi kecemasan yang dapat meningkatkan persepsi nyeri.
- Elevasi Ekstremitas: Lengan kanan pasien dielevasikan (diangkat) menggunakan dua bantal untuk meningkatkan pemulangan vena dan mengurangi edema yang menekan ujung saraf.
- Perawatan Luka (Wound Care): Membersihkan luka dengan NaCl 0.9% secara aseptik. Menjaga integritas bula yang masih utuh (jika kecil) untuk mencegah infeksi, sementara bula yang besar tundah dikelola dengan prinsip debridemen ringan. Balut dengan kassa steril non-adheren (jelonet) dan kassa penutup untuk melindungi luka dari trauma mekanis dan kontaminasi lingkungan.
Untuk Resiko Perubahan Perfusi & Cairan:
- Pemonitoran Tanda Vital: Pemeriksaan tanda vital dilakukan setiap 15 menit sekali di fase awal untuk mendeteksi tanda-tanda syok hipovolemik (hipotensi, takikardi).
- Pemberian Cairan Resusitasi: Kolaborasi dokter untuk infus RL (Ringer Laktat) sesuai formula Parkland atau Broselow TTV 12% untuk menjaga hemodinamik. Pemasangan infus dilakukan pada area yang tidak terluka.
- Pantau TTV dan Luas Luka: Menghitung ulang luas luka bila perlu dan memantau perubahan warna distal luka (sianosis atau pucat) untuk memastikan perfusi jaringan tetap baik.
4. Evaluasi
Evaluasi keperawatan dilakukan setelah pemberian tindakan selama 2 jam masa tanggap di IGD:
- Subjektif: Pasien melaporkan skala nyeri menurun dari 8/10 menjadi 4/10. Pasien tampak lebih tenang.
- Objektif: Tanda vital stabil dalam batas normal (TD 115/75, N 84). Edema pada lengan kanan berkurang dengan proses elevasi. Luka sudah tertutup balut steril bersih. Tidak ditemukan tanda-tanda syok atau gangguan respirasi.
- Status Lanjutan: Pasien dinyatakan stabil untuk selanjutnya direncanakan perawatan inap di ruang Bedah atau Rawat Inap Bedah untuk observasi lebih lanjut dan terapi wound care lanjutan.
Kesimpulan: Asuhan keperawatan yang komprehensif pada kasus luka bakar Grade II di IGD RSUD Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang berfokus pada pencegahan komplikasi syok, pengendalian nyeri, dan perlindungan luka agar proses granulasi berjalan optimal.
