Asuhan Keperawatan Pada Anak M.T dengan Demam Berdarah Dengue di Ruangan Mawar RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Pendahuluan
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur. RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sebagai rumah sakit rujukan utama sering kali menangani pasien anak dengan kasus DBD, khususnya di ruang perawatan anak Mawar.
Penyakit ini secara klinis ditandai dengan demam tinggi mendadak, manifestasi perdarahan, dan kadang-kadang disertai tanda-tanda syok (penurunan tekanan darah dan nadi yang cepat dan lemah). Pada anak, kondisi ini dapat memburuk dengan cepat, sehingga memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif dan ketat untuk mencegah komplikasi lanjut seperti Syook Demam Berdarah (SDB) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) derajat III dan IV.
Tinjauan Kasus
Identitas Pasien:
Nama: Anak M.T
Umur: 8 Tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Alamat: Kota Kupang
Tanggal Masuk: 14 Oktober 2023
Diagnosa Medis: Demam Berdarah Dengue (DBD) derajat II
Subjektif (anamnesis)
Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu kandung pasien di Ruangan Mawar, diketahui bahwa pasien mengeluh demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Suhu tubuh pasien naik turun, namun paling tinggi mencapai 39,5C. Ibu pasien juga melaporkan bahwa anak mengeluh sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, mual, dan muntah sebanyak 2-3 kali sehari. Nafsu makan menurun drastis sejak sakit. Pasien belum mengalami muntah darah atau BAB hitam, namun ibu melihat bintik-bintik merah pada kaki dan tangan pasien.
Objektif (Pemeriksaan Fisik)
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh perawat dan dokter di ruang Mawar, didapatkan data sebagai berikut:
- Kesadaran: Compos Mentis (CM).
- Tanda-tanda Vital:
- Tekanan Darah: 100/70 mmHg.
- Nadi: 110 x/menit (takikardia).
- Suhu: 38,5C.
- Pernapasan: 24 x/menit.
- SPO2: 98%.
- Pemeriksaan Fisik Umum:
- Konjungtiva anemis (-), ikterik (-).
- Terdapat tanda tourniquet test positif (Rumpel-Leede).
- Tampak petechiae (bintik merah) pada ekstremitas atas dan bawah.
- Kulit terasa hangat dan lembab (diasisrosis).
- Abdomen tampak datar, teraba hepar dan lien membesar (hepatosplenomegali) tipis.
- Hasil Laboratorium:
- Trombosit: 85.000/L (Trombositopenia ringan).
- Hematokrit: 40% (Hemoconcentration).
Patofisiologi
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan bereplikasi di sistem retikuloendotelial. Virus ini kemudian menyebar ke dalam aliran darah menyebabkan viremia. Respon imun tubuh memicu pelepasan mediator inflamasi yang menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskuler. Peningkatan permeabilitas ini menyebabkan kebocoran plasma ke ruang ekstravaskular, yang berujung pada hemoconcentration (peningkatan hematokrit) dan penurunan volume plasma (hipovolemia). Selain itu, virus juga menekan sumsum tulang sehingga menyebabkan penurunan produksi trombosit (trombositopenia), yang meningkatkan risiko perdarahan seperti petechiae pada Anak M.T.
Analisis Data
| Diagnosa Keperawatan | Etiologi | Tanda dan Gejala |
| 1. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler. | - | Tambak vital: TD normal/rendah, Nadi cepat (110x/menit). Kulit lembab. Peningkatan Hematokrit (40%). |
| 2. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue. | - | Suhu tubuh 38,5C. Kulit terasa hangat. Anak mengeluh demam. |
| 3. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi (sakit kepala dan nyeri sendi). | - | Anak mengeluh sakit kepala hebat. Mimisan gelisah. Tampak menyipitkan mata saat sakit. |
Intervensi dan Implementasi
Berikut adalah tindakan keperawatan yang diberikan kepada Anak M.T di Ruangan Mawar:
1. Defisit Volume Cairan
- Kolaborasi: Lakukan pemasangan infus RL (Ringer Laktat) sesuai program terapi dokter untuk mengganti kebutuhan cairan. Monitor keseimbangan cairan haris (catat intake dan output secara ketat).
- Observasi: Pantau tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Nadi, Suhu) setiap 3 jam sekali atau sesuai kondisi. Perhatikan tanda-tanda syok seperti nadi yang cepat dan lemah, atau penurunan kesadaran.
- Edukasi: Jelaskan kepada ibu pasien pentingnya minum cairan sebanyak mungkin (minum air putih, oralit, atau jus buah minimal 1500-2000cc per hari).
- Intervensi: Berikan kompres hangat pada dahi untuk kenyamanan dan hindari menggigil yang dapat meningkatkan metabolisme dan kebutuhan cairan.
2. Hipertermia
- Monitor: Pantau suhu tubuh setiap 4 jam untuk melihat tren penurunan demam.
- Kolaborasi: Berikan antipiretika (Parasetamol) sesuai dosis yang diresepkan dokter jika suhu > 38C. Hindari pemberian obat anti inflamasi non-steroid (NSAID) seperti aspirin atau ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
- Komfort: Berikan kompres air suam-suam kuku pada tikungan lipatan tubuh (axilla, lipat paha) untuk membantu penurunan panas melalui konduksi.
- Lingkungan: Atur ventilasi ruangan agar sirkulasi udara baik dan tidak pengap. Ganti pakaian pasien dengan pakaian tipis dan menyerap keringat jika berkeringat banyak.
3. Nyeri
- Observasi: Kaji skala nyeri menggunakan skala wajah (FLACC) yang sesuai untuk usia anak 8 tahun.
- Kolaborasi: Konsultasikan pemberian analgesik jika nyeri kepala tidak tertahani.
- Komfort: Ciptakan lingkungan yang tenang, kurangi pencahayaan ruangan yang menyilaukan karena pasien mengeluh nyeri mata (retro-orbital pain).
- Bimbingan: Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam untuk membantu mengurangi ketegangan dan rasa tidak nyaman.
Evaluasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam di Ruangan Mawar RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang, hasil evaluasi pada pasien Anak M.T adalah sebagai berikut:
- Defisit Volume Cairan: Tanda-tanda vital stabil (TD: 110/70 mmHg, Nadi: 90x/menit). Intake cairan oral membaik (mampu minum 1500cc). Tidak ada tanda syok. Hematokrit kembali mendekati nilai normal.
- Hipertermia: Suhu tubuh turun menjadi 37C. Tidak terjadi kenaikan suhu lagi, pasien tidak mengeluh menggigil.
- Nyeri: Pasien menyatakan sakit kepala dan nyeri mata berkurang (skala nyeri menurun). Aktivitas bermain perlahan aktif kembali.
- Kondisi Umum: Pasien dinyatakan boleh pulang setelah trombosit meningkat di atas 100.000/L dan suhu normal selama 48 jam.
Kesimpulan
Asuhan keperawatan yang sistematis melalui pendekatan proses keperawatan (pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi) terbukti efektif dalam mempercepat pemulihan pasien anak dengan DBD. Pengawasan ketat terhadap tanda-tanda vital dan keseimbangan cairan merupakan kunci utama pencegahan syok pada Anak M.T. Peran keluarga dalam motivasi minum juga sangat menentukan keberhasilan terapi. Perawat di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang senantiasa berkomitmen memberikan asuhan keperawatan bermutu untuk kesembuhan pasien.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.