Studi Kasus Keperawatan Medikal Bedah
Gangguan sistem pencernaan merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui di rumah sakit. Salah satu keluhan utama yang sering muncul adalah diare. Diare didefinisikan sebagai buang air besar (BAB) dengan konsistensi feses yang cair atau bahkan berbentuk air, dengan frekuensi lebih dari biasanya (tiga kali atau lebih dalam sehari). Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi berat dan gangguan keseimbangan elektrolit jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
RSUD Sragen, khususnya di Bangsal Melati, sering menerima pasien dengan berbagai kasus penyakit dalam, termasuk gangguan sistem pencernaan. Asuhan keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada pasien. Dokumen ini membahas asuhan keperawatan yang diberikan kepada Tn. S, pasien dengan diagnosis medis gangguan sistem pencernaan diare.
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan untuk mengumpulkan data mengenai status kesehatan pasien. Pengkajian dilakukan terhadap Tn. S saat pertama kali masuk di Bangsal Melati RSUD Sragen.
| Nama | Tn. S |
|---|---|
| Umur | 52 Tahun |
| Jenis Kelamin | Laki-laki |
| Alamat | Sragen |
| Masuk | 12 Oktober 2023 |
| Diagnosis Medis | Gangguan Sistem Pencernaan (Diare) |
Keluhan Utama: Pasien mengeluh BAB lendir dan cair sebanyak 5-6 kali sehari disertai rasa mulas dan perut kram.
Riwayat Penyakit Sekarang: Dua hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku mengkonsumsi makanan pedas di acara selamatan. Semalam pasien mengalami mual dan muntah satu kali isi lambung. Suhu tubuh terasa panas.
Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien mengaku memiliki riwayat maag, namun pernah menderita hipertensi dan tidak teratur minum obat.
| Keadaan Umum | Sedang, kesadaran compos mentis |
|---|---|
| Tanda Vital: |
|
| Pemeriksaan Fisik Regional | Kepala: Konjungtiva agak pucat. Mata: Sklera tidak ikterik. Mulut: Bibir kering, mukosa oral agak kering. Leher: JVP tidak meningkat, kelenjar tiroid tidak membesar. Thorax: Paru vesikuler, jantung reguler nada I dan II. Abdomen: Perut teraba distensi, bising usus hiperaktif, nyeri tekan pada daerah epigastrium. Ekstremitas: Turgor kulit menurun (kembali lambat), akral hangat. |
Berdasarkan data pengkajian, dilakukan analisa untuk menentukan masalah keperawatan.
Berdasarkan analisa data di atas, diagnosis utama yang muncul pada Tn. S adalah:
Tujuan: Keseimbangan volume cairan terpenuhi, tanda vital dalam batas normal, turgor kulit kembali baik, dan pengeluaran seimbang.
Intervensi dan Implementasi:
Tujuan: Berat badan stabil, pasien dapat makan dengan baik, nafsu makan meningkat.
Intervensi dan Implementasi:
Tujuan: Integritas kulit sekitar daerah perianal tetap utuh, tidak terjadi iritasi atau kemerahan.
Intervensi dan Implementasi:
Evaluasi dilakukan setelah 24 jam perawatan atau sesuai kondisi perubahan pasien.
Pasien Tn. S mengeluh sudah berkurang frekuensi BAB, dan rasa nyeri perut sudah berkurang. Pasien mengaku mual hilang dan sudah bisa makan bubur dua kali pagi dan siang.
1. Tanda Vital: Tekanan Darah 120/80 mmHg (meningkat dalam batas normal), Nadi 80x/menit (stabil), Suhu 37,2C (turun ke batas normal).
2. Turgor kulit kembali baik (seketika).
3. Mekanik ileus: Bising usus normoaktif, perut tidak lagi distensi.
4. Defekasi: BAB 2x pagi ini dengan konsistensi semi-padat.
5. Kebersihan kulit: Daerah perianal bersih, tidak ada kemerahan atau iritasi.
6. Input Output: Masukan cairan oral meningkat, produksi urine mencukupi (1500 cc/24 jam).
Berdasarkan evaluasi tersebut, masalah Defisit volume cairan yang berhubungan dengan diarena telah teratasi sebagian. Masalah Ketidakseimbangan nutrisi dan Integritas kulit berhasil dicegah komplikasinya. Rencana tindak lanjut adalah melanjutkan terapi cairan, edukasi tentang perilaku hidup bersih (PHBS), dan memantau kemajuan status kesehatan Tn. S di Bangsal Melati RSUD Sragen hingga pasien dinyatakan pulang.
