Pengantar
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan bentuk berat infeksi virus dengue yang ditandai oleh demam, penurunan trombosit, dan kebocoran plasma. Pada grade II, terjadi kebocoran plasma ringan hingga sedang, yang menuntut penanganan intensif namun belum memerlukan perawatan intensif penuh. Anak-anak menjadi kelompok risiko tinggi karena sistem imun yang masih berkembang.
Peran perawat sangat penting dalam deteksi dini, pencegahan komplikasi, serta manajemen kebocoran plasma. Tulisan ini menyajikan rangkaian asuhan keperawatan yang berbasis pada standar prosedur keperawatan (SPK) dan pedoman WHO.
Patofisiologi DHF Grade II
Virus dengue menginfeksi sel-sel mononuklear, memicu aktivasi sistem komplemen dan sitokin (IL-6, TNF). Peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan kehilangan plasma ke ruang interstisial, menurunkan volume sirkulasi efektif. Pada grade II, kebocoran plasma masih dapat dikompensasi, tetapi dapat berkembang menjadi syok hipovolemik bila tidak ditangani tepat.
Karena trombosit menurun (<100.000/L) dan koagulopati ringan, risiko perdarahan menambah beban klinis. Oleh karena itu, pemantauan ketat terhadap tanda vital, output urin, dan laboratorium (hematokrit, trombosit, elektrolit) menjadi kunci.
Penilaian Keperawatan
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh dan berulang setiap 12 jam pada fase kritis.
| Parameter | Metode Pengukuran | Kriteria Normal / Abnormal |
|---|---|---|
| Suhu tubuh | Termometer digital | 3840C (demam); >38C = febril |
| Nadi | Palpasi radial | 120140x/menit (takikardia), lemah, pulsus alternans |
| Tekanan darah | Sphygmomanometer atau monitor otomatis | Sistolik <90mmHg atau penurunan 20mmHg dari nilai basal = hipotensi |
| Respirasi | Pengamatan, stetoskop | 2430x/menit, napas dalam (tertutup) |
| Output urin | Kateter atau pengukuran urin dalam kantong | >1ml/kg/jam = adekuat; <0,5ml/kg/jam = oliguria |
| Hematokrit | Laboratorium | Naik 20% dari nilai basal = kebocoran plasma |
| Trombosit | Laboratorium | 80.000100.000/L (grade II), menurun cepat |
| Nyeri otot & sendi | Skala NRS 010 | 46 = nyeri moderat, mengganggu istirahat |
Intervensi Keperawatan
1. Manajemen Cairan
- Berikan cairan oral rehidrasi (ORS) bila anak masih dapat menelan; kecepatan 510ml/kg/jam.
- Jika tidak dapat menelan atau ada tanda kebocoran plasma, berikan cairan IV isotonik (Ringer Lactate atau NaCl 0,9%).
- Hitung kebutuhan cairan berdasarkan rumus maintenance + deficit + loss. Contoh: 100ml/kg selama 24jam.
- Monitor keseimbangan cairan (input vs output) tiap jam. Ganti IV setiap 24 jam atau bila terjadi infiltrasi.
2. Pengendalian Demam
- Parasetamol oral/IV 1015mg/kg/dosis tiap 68 jam, hindari aspirin atau NSAID.
- Gunakan metode fisik (kompres dingin, pakaian tipis) untuk menurunkan suhu bila diperlukan.
3. Pencegahan Perdarahan
- Hindari prosedur invasif bila tidak penting (mis. venipuncture berulang).
- Berikan vitamin K bila ada indikasi koagulopati, setelah konsultasi dokter.
- Observasi tanda perdarahan (pucat, petechiae, hematemesis, melena).
4. Pengawasan Nyeri & Kelelahan
- Berikan analgesik ringan (parasetamol) sesuai kebutuhan.
- Jaga lingkungan tenang, pencahayaan redup, dan dukungan psikologis.
- Anjurkan posisi semiFowler untuk memudahkan pernapasan.
5. Edukasi Keluarga
- Jelaskan tanda bahaya: penurunan tekanan darah, peningkatan hematokrit, penurunan napas, muntah terusmenerus.
- Ajarkan cara menghitung dan mencatat output urin.
- Tekankan pentingnya hidrasi di rumah setelah pulang.
Monitoring & Evaluasi
Selama fase kritis (hari ke37), lakukan monitoring intensif:
- Vital sign: tiap 30 menit sampai stabil, lalu tiap 12 jam.
- Hematokrit & trombosit: tiap 12 jam atau sesuai rekomendasi dokter.
- Elektrolit (Na, K, Cl): tiap 24 jam untuk menghindari hiponatremia atau hiperkalemia akibat cairan berlebih.
- Urin: memastikan output 1ml/kg/jam; bila oliguria, kurangi cairan dan laporkan dokter.
- Pemeriksaan fisik: catat adanya edema, ruam, atau perdarahan.
Jika terdapat penurunan tekanan darah, peningkatan hematokrit >20% atau penurunan trombosit cepat, segera informasikan dokter untuk penyesuaian terapi cairan atau transfusi.
Pencegahan Relapse & Komplikasi Jangka Panjang
Setelah fase kritis, fokus pada pemulihan:
- Berikan diet seimbang tinggi protein dan vitamin C untuk mempercepat perbaikan jaringan.
- Lakukan fisioterapi ringan untuk mengurangi atrofi otot akibat imobilisasi.
- Jadwalkan kontrol ulang hematokrit, trombosit, dan fungsi hati pada minggu ke2 dan ke4.
- Edukasi keluarga tentang pencegahan gigitan nyamuk (kelambu, repellent, eliminasi tempat berkembang biak) untuk mencegah reinfeksi.
Kesimpulan
Asuhan keperawatan pada anak dengan DHF grade II menuntut pendekatan holistik yang mencakup penilaian cepat, manajemen cairan tepat, kontrol demam, pencegahan perdarahan, serta edukasi keluarga. Dengan pemantauan berkelanjutan dan intervensi yang sesuai, risiko komplikasi dapat diminimalisir, sehingga anak dapat pulih dengan cepat dan kembali beraktivitas normal.
