Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau yang lebih dikenal dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama pada periode transisi musim. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Manifestasi klinis DBD bervariasi, mulai dari demam tinggi mendadak, nyeri sendi dan otot, hingga manifestasi hemoragik. Salah satu keluhan yang sering muncul dan sangat mengganggu kenyamanan pasien, serta menjadi hambatan dalam proses pemenuhan nutrisi, adalah mual (nausea).
Pada kasus Tn. R, seorang pasien yang dirawat di Ruang Dahlia RSUD Ungaran dengan diagnosa medis DBD, keluhan mual menjadi salah satu fokus utama dalam asuhan keperawatan. Mual pada pasien DBD dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain respons inflamasi tubuh terhadap infeksi virus, peningkatan suhu tubuh (demam), serta adanya proses hemokonsentrasi yang mempengaruhi aliran darah ke saluran c pencernaan. Penanganan yang efektif terhadap mual sangat krusial untuk mencegah dehidrasi, mengingat pasien DBD berisiko tinggi kehilangan cairan melalui pembuluh darah yang bocor (increased vascular permeability).
Dalam rangka mengelola gejala mual yang dialami Tn. R, perawat di Ruang Dahlia RSUD Ungaran menerapkan pendekatan sistematis melalui proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Pengkajian dilakukan segera setelah Tn. R masuk ke ruang perawatan. Dari data subjektif, pasien mengeluhkan perasaan tidak nyaman di daerah epigastrium dengan sensasi ingin muntah, terutama setelah melihat makanan atau mencium bau yang tajam. Pasien juga melaporkan nafsu makan yang menurun drastis (anoreksia) sejak demam naik.
Dari data objektif, didapatkan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi, dan suhu tubuh yang fluktuatif sesuai fase demam berdarah. Pemeriksaan fisik mengungkapkan mukosa bibir yang tampak agak kering, turgor kulit yang kembali lambat, dan konjungtiva yang sedikit pucat, mengindikasikan tahap awal dehidrasi atau kekurangan volume cairan. Auskultasi abdomen menunjukkan bising usus yang hipoaktif, yang umum terjadi akibat penurunan motilitas saluran cerna selama fase demam akut.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian tersebut, muncul diagnosa keperawatan utama, yaitu:
Mual [b.d.] agen biologis (virus dengue), peningkatan histamin sirkulasi, dan penurunan motilitas gastrointestinal.
Penanganan mual pada Tn. R tidak hanya bersifat simptomatis (menghilangkan rasa mual), tetapi juga kuratif (menangani penyebab dasar yaitu infeksi virus) dan preventif (mencegah komplikasi dehidrasi). Berikut adalah serangkaian intervensi yang dilakukan:
Salah satu intervensi kolaboratif yang paling cepat dalam mengatasi mual berat adalah pemberian obat antiemetik. Pada Tn. R, setelah instruksi dokter, perawat memberikan obat antiemetik (seperti ondansetron) sesuai dosis yang tercantum pada resep. Pemberian obat ini dimonitor efektifitasnya; perawat mengevaluasi apakah ada penurunan frekuensi mual atau intensitasnya dalam waktu 30 hingga 60 menit setelah pemberian obat.
Lingkungan yang bersih dan nyaman memegang peranan penting dalam meredakan mual. Mual dapat dipicu oleh bau yang kuat dari ruangan, makanan lain, atau bahan kimia pembersih. Perawat di Ruang Dahlia memastikan ventilasi ruangan berjalan baik. Sisa makanan dan limbah medis segera dibuang untuk meminimalkan bau yang dapat memicu mual Tn. R. Pengaturan posisi pasien juga dilakukan; pasien didorong untuk tidur dengan posisi semi-Fowler atau posisi nyaman lainnya, karena berbaring telentang penuh setelah makan dapat memperburuk sensasi mual.
Perawat mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam (deep breathing relaxation exercise) kepada Tn. R. Teknik ini membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi sensasi mual yang muncul akibat kecemasan atau rasa tidak nyaman. Selain itu, metode akupresur ringan pada titik P6 (Neiguan) di bagian dalam pergelangan tangan juga dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer untuk mengurangi rasa mual secara non-invasif. Distraksi seperti mengajak pasien berbicara ringan atau mendengarkan musik lembut juga diterapkan untuk mengalihkan perhatian pasien dari sensasi mual.
Pasien DBD seringkali mengalami anoreksia, namun asupan nutrisi tetap diperlukan untuk proses penyembuhan. Intervensi yang dilakukan adalah memberikan diet cair atau lunak secara bertahap. Perawat menyarankan Tn. R untuk makan dengan porsi kecil namun sering (small frequent feeding). Makanan yang diberikan adalah makanan yang rendah lemak dan mudah dicerna, seperti bubur atau saring ayam. Makanan yang terlalu berminyak, bersantan, atau berasa pedas dihindari karena dapat memicu mual. Hindari memberikan makanan dalam porsi besar sekaligus karena lambung pasien yang sedang tidak seimbang akan sulit memprosesnya.
Mual sering kali berujung pada penolakan minum, yang pada pasien DBD sangat berbahaya karena bisa memperparah syok akibat plasma leakage. Oleh karena itu, perawat secara ketat memantau tanda-tanda vital dan keseimbangan cairan Tn. R. Hal ini mencakup penghitungan asupan cairan (nutrisi, minum, infus) dan pengeluaran (urin, muntah). Perawat mendorong Tn. R untuk tetap minum cairan oral (air putih, jus buah, atau larutan elektrolit) dalam jumlah cukup meskipun merasa mual, dengan membaginya dalam beberapa kali tegukan kecil sepanjang hari. Pemberian cairan intravena (infus) secara ketat sesuai program terapeutik tetap berjalan untuk menjaga hemodinamik.
4. Evaluasi
Setelah dilakukan implementasi intervensi selama 2x24 jam, evaluasi terhadap kondisi Tn. R menunjukkan hasil yang positif. Pasien melaporkan merasa lebih nyaman, sensasi mual berkurang secara signifikan, dan tidak terjadi episode muntah. Nafsu makan pasien mulai membaik, terlihat dari adanya peningkatan sisa makanan (porsi makan yang habis terkonsumsi). Status cairan pasien tetap stabil dengan tanda-tanda vital dalam batas normal, dan turgor kulit menunjukkan perbaikan.
Pengelolaan mual pada pasien DBD seperti Tn. R di Ruang Dahlia RSUD Ungaran memerlukan pendekatan holistik. Mual bukan sekadar gejala yang mengganggu, tetapi juga merupakan indikator perubahan fisiologis tubuh berupa peningkatan suhu dan penurunan motilitas usus. Melalui kolaborasi medis (antiemetik), manajemen lingkungan yang suportif, serta intervensi keperawatan mandiri seperti modifikasi diet dan teknik relaksasi, keluhan mual dapat teratasi dengan efektif. Keberhasilan penanganan mual secara langsung berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan, yang merupakan kunci utama dalam pencegahan komplikasi yang lebih berat seperti sindrom syok demam berdarah (SSDB). Asuhan keperawatan yang komprehensif dan individualized terbukti efektif dalam meningkatkan kenyamanan dan kecepatan pemulihan pasien.
