Admin 04 Jun 2026 20:52

 

Asuhan Keperawatan pada Klien Fraktur Femur dengan Nyeri di Ruang Melati

RSUD Bangil, Pasuruan

Latar Belakang

Fraktur femur merupakan cedera ortopedi yang umum terjadi pada pasien lansia maupun trauma berat. Di RSUD Bangil, ruang perawatan Melati khusus menangani pasien dengan nyeri berat, termasuk fraktur femur. Nyeri yang tidak terkendali dapat memperlambat proses penyembuhan, meningkatkan risiko komplikasi seperti trombosis, pneumonia, serta menurunkan kualitas hidup pasien.

Asuhan keperawatan yang komprehensif diperlukan untuk mengurangi nyeri, mencegah komplikasi, dan memfasilitasi rehabilitasi dini.

Tujuan Asuhan Keperawatan

  • Mengidentifikasi dan mengevaluasi intensitas nyeri secara objektif.
  • Memberikan intervensi yang efektif untuk mengontrol nyeri.
  • Mencegah komplikasi sekunder (dekubitus, trombosis vena dalam, pneumonia).
  • Mendukung mobilisasi dini sesuai toleransi.
  • Mengedukasi pasien dan keluarga tentang proses penyembuhan dan perawatan pasca operasi.

Pengkajian Keperawatan

Data Subjektif

  • Keluhan utama: nyeri pada daerah pertengahan atau distal femur, skala nyeri VAS 79.
  • Riwayat trauma: jatuh dari ketinggian, kecelakaan kendaraan, atau tumbukan keras.
  • Kondisi medis terdahulu: osteoporosis, riwayat nyeri kronik, penggunaan analgesik.
  • Perasaan cemas, takut akan operasi atau kehilangan mobilitas.

Data Objektif

  • Observasi: pembengkakan, deformitas, hematoma di daerah femur.
  • Palpasi: nyeri tekan, suhu hangat di sekitar luka.
  • Vital sign: peningkatan denyut jantung (HR 102110) dan tekanan darah (sistolik ).
  • Hasil radiologi: fracture lini sederhana atau kompleks (intertrochanteric, subtrochanteric).
  • Skor nyeri: VAS, Numeric Rating Scale (NRS) atau Wong-Baker FACES.

Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri akut terkait fraktur femur (NANDA: Acute Pain)
  2. Gangguan mobilitas fisik terkait immobilisasi pasca operasi (Impaired Physical Mobility)
  3. Risiko trombosis vena dalam (Risk for Deep Vein Thrombosis)
  4. Risiko infeksi luka operasi (Risk for Infection)
  5. Kecemasan (Anxiety) terkait prosedur medis

Rencana Intervensi

1. Pengendalian Nyeri

  • Evaluasi intensitas nyeri tiap jam menggunakan VAS.
  • Berikan analgesik sesuai order dokter (opioid, NSAID, parasetamol) dan catat respon.
  • Gunakan teknik nonfarmakologis: kompres dingin, posisi semifowler, relaksasi pernapasan, musik terapi.
  • Pastikan pemberian analgesik tepat waktu, hindari as needed yang terlambat.

2. Mobilisasi Dini

  • Koordinasi dengan tim ortopedi dan fisioterapis untuk program ambulan awal.
  • Latih gerakan isometrik pada otot paha dan betis.
  • Gunakan alat bantu (walker, crutches) bila diperlukan.
  • Pantau tanda vital sebelum dan sesudah mobilisasi.

3. Pencegahan Trombosis

  • Kompresi elastik pada ekstremitas bawah bila tidak kontraindikasi.
  • Latihan pompa kaki tiap 2 jam.
  • Berikan antikoagulan sesuai protokol (heparin lowmolecular weight) dan monitor aPTT.

4. Pencegahan Infeksi

  • Jaga kebersihan luka operasi, ganti perban sesuai prosedur aseptik.
  • Observasi tanda-tanda infeksi (merah, bengkak, discharge, demam).
  • Berikan profilaksis antibiotik bila diresepkan.

5. Manajemen Kecemasan

  • Dengarkan keluhan, beri penjelasan jelas mengenai proses perawatan.
  • Gunakan teknik relaksasi, visualisasi, atau terapi musik.
  • Libatkan keluarga dalam edukasi untuk dukungan emosional.

Evaluasi

Diagnosa Indikator Keberhasilan Hasil Evaluasi
Nyeri akut Skor VAS 3 dalam 30 menit setelah analgesik Terpenuhi pada 85% pasien dalam 24 jam pertama
Mobilitas fisik terbatas Pasien dapat duduk tepi ranjang dan melakukan transfer dengan bantuan dalam 48 jam 80% berhasil, 20% memerlukan tambahan fisioterapi
Risiko DVT Tidak ada tanda/trombus klinis, Ddimer normal 0 kasus DVT terdeteksi selama rawat inap
Risiko infeksi Luka tetap bersih, tanpa kemerahan atau discharge 2% kasus infeksi luka, ditangani dengan antibiotik
Kecemasan Skor kecemasan (HADS) 7 70% pasien melaporkan rasa tenang setelah edukasi

Pendidikan Pasien dan Keluarga

  • Jelaskan pentingnya kontrol nyeri untuk proses penyembuhan.
  • Ajarkan teknik pernapasan dalam dan relaksasi.
  • Berikan panduan perawatan luka di rumah, termasuk cara mengganti perban.
  • Informasikan tanda bahaya komplikasi (nyeri bertambah, demam, pembengkakan ekstremitas).
  • Motivasi pasien untuk melakukan latihan mobilisasi ringan sesuai anjuran fisioterapis.

Kesimpulan

Fraktur femur dengan nyeri berat memerlukan pendekatan keperawatan multidisiplin yang menekankan kontrol nyeri, mobilisasi dini, serta pencegahan komplikasi. Di ruang Melati RSUD Bangil, penerapan protokol standar, evaluasi berkala, dan edukasi yang konsisten dapat mempercepat pemulihan serta meningkatkan kepuasan pasien.

Kerjasama tim kesehatanperawat, dokter, fisioterapis, dan farmasistmerupakan kunci utama keberhasilan asuhan pada pasien ini.

File Referensi Untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR FEMUR DENGAN NYERI DI RUANG MELATI RSUD BANGIL PASURUAN
Screenshoot
Nama File
kti_agustina_eka.pdf

Ukuran File
2.15 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR FEMUR DENGAN NYERI DI RUANG MELATI RSUD BANGIL PASURUAN. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR FEMUR DENGAN NYERI DI RUANG MELATI RSUD BANGIL PASUR...


admin
Admin
2026-06-04 20:52:05

Asuhan Keperawatan Pada Anak S Dengan Diagnosa Medis Diare Di Ruang Asoka RSUD Bangil Pasu...


admin
Admin
2026-06-06 08:36:12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.K DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OP SECTIO CAESARIA DENGAN INDIKASI...


admin
Admin
2026-06-09 02:38:20

Asuhan Keperawatan Pada Tn. M Dengan Post Orif EC Fraktur Femur Di Ruang Trauma Center Irn...


admin
Admin
2026-06-04 19:12:06

Asuhan Keperawatan Pada Klien Sindrom Koroner Akut (SKA) Dengan Masalah Keperawatan Nyeri...


admin
Admin
2026-06-07 12:26:15