Asuhan Keperawatan pada Tn. M
Pasien dengan Post ORIF (Open Reduction Internal Fixation) Fraktur Femur
Kasus ini terjadi di Ruang Trauma Center Irna Bedah RSU Dr. M. Djamil Padang. Tn. M, lakilaki usia 45 tahun, mengalami fraktur femur unsur intertrokanterik setelah kecelakaan lalu lintas. Operasi ORIF dengan penempatan plate dan sekrup telah dilakukan 24 jam yang lalu. Selanjutnya, peran perawat sangat krusial untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, serta memulihkan fungsi mobilitas.
1. Tujuan Asuhan Keperawatan
- Memantau stabilitas vital dan tandatanda infeksi pada area operasi.
- Menjaga integritas kulit, jaringan lunak, dan posisi ekstremitas yang tepat.
- Mengurangi nyeri dan memperbaiki kenyamanan pasien.
- Mencegah komplikasi seperti trombosis vena dalam (TVD), emboli paru, pneumonia, dan dekubitus.
- Mendorong partisipasi pasien dalam program rehabilitasi dini.
2. Penilaian Keperawatan (ADPIE)
A Assessment (Pengkajian)
- Data subjektif: Keluhan nyeri pada paha kanan, rasa lelah, kecemasan tentang pemulihan.
- Data objektif:
- TTV: TD 120/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, Suhu 37,2C.
- Visi pada area operasi: luka bersih, tanpa eksudat, bintik merah sekitar incisi, drainase ringan.
- Edema ringan pada ekstremitas kanan, capillary refill <2 detik.
- Skor Nyeri (VAS) 6/10 pada gerakan pasif.
- Mobilisasi terbatas; pasien berada di tempat tidur dengan posisi supine dan bantal di bawah lutut kanan.
D Diagnosis Keperawatan
- Nyeri akut terkait luka operasi dan manipulasi tulang (NANDA: Acute Pain).
- Risiko infeksi luka operasi (Risk for Infection).
- Risiko trombosis vena dalam (Risk for Venous Thromboembolism).
- Gangguan mobilitas fisik (Impaired Physical Mobility).
- Kecemasan (Anxiety).
3. Intervensi Keperawatan
3.1 Kontrol Nyeri
- Evaluasi nyeri setiap 24 jam menggunakan VAS.
- Berikan analgesik sesuai resep (paracetamol, NSAID, atau opioid bila diperlukan).
- Manfaatkan teknik nonfarmakologis: posisi nyaman, kompres dingin 15menit, relaksasi pernapasan, dan musik terapi.
- Catat respon terhadap analgesik untuk menyesuaikan dosis.
3.2 Perawatan Luka Operasi
- Periksa luka setiap shift; catat kemerahan, bengkak, eksudat, atau bau tidak sedap.
- Ganti balutan steril sesuai protokol (biasanya 2448jam sekali).
- Lakukan teknik aseptik, hindari menarik atau menekan area operasi.
- Edukasi pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan area luka dan melaporkan perubahan.
3.3 Pencegahan TVD
- Berikan profilaksis antikoagulan sesuai order dokter (heparin lowmolecularweight atau fondaparinux).
- Latihan ankylosis: dorsifleksi pergelangan kaki setiap 12 jam, 1015 repetisi.
- Gunakan stocking kompresi (grade I atau II) bila tidak kontraindikasi.
- Dorong mobilisasi dini pada hari pertama pascaoperasi bila kondisi stabil.
3.4 Mobilisasi dan Rehabilitasi
- Mulai dengan latihan isometrik otot paha (quadriceps set) sedekat mungkin dengan posisi berbaring.
- Hari ke23: bantu pasien duduk di tepi tempat tidur selama 510 menit, kemudian turun ke kursi dengan bantuan terapist.
- Gunakan walker atau crutches pada hari ke45 bila dokter mengizinkan beban parsial.
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan bertahap.
3.5 Pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan
- Ajarkan teknik pernapasan dalam (incentive spirometry) 510 kali per sesi, 46 sesi/hari.
- Posisikan kepala tempat tidur 3045 bila tidak ada kontraindikasi.
- Dorong hidrasi yang cukup ( 2L cairan oral/bilas).
3.7 Manajemen Kecemasan
- Dengarkan keluhan pasien, beri informasi tentang tahapan pemulihan.
- Gunakan teknik relaksasi, visualisasi, atau dukungan spiritual bila diperlukan.
- Keterlibatan keluarga dalam proses edukasi meningkatkan rasa aman.
4. Evaluasi
Setiap shift, perawat menilai pencapaian tujuan:
- Nyeri berkurang menjadi VAS 3 dalam 24 jam setelah intervensi.
- Luka operasi tetap bersih, tanpa tanda infeksi (demam, leukositosis, kemerahan progresif).
- Tidak ada tandatanda TVD (edema, nyeri, perubahan suhu).
- Pasien mampu duduk di tepi tempat tidur selama minimal 15 menit tanpa rasa nyeri yang tidak terkendali.
- Skor kecemasan menurun (misalnya menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale < 7).
5. Edukasi Pasien & Keluarga
Poin penting yang harus dipahami:
- Jaga kebersihan daerah luka, hindari menggaruk atau menekan.
- Lakukan latihan pernapasan dan gerakan kaki secara rutin.
- Patuh pada jadwal obat analgesik dan antikoagulan.
- Hindari beban berat pada kaki hingga dokter memberi izin.
- Segera laporkan demam, peningkatan nyeri, atau bengkak yang tidak wajar.
6. Ringkasan
Asuhan keperawatan pada Tn. M pascaORIF fraktur femur menuntut pendekatan komprehensif yang mencakup kontrol nyeri, perawatan luka, pencegahan komplikasi vaskular dan respirasi, serta dukungan psikologis. Kolaborasi antarprofesional (dokter, fisioterapis, ahli gizi) serta partisipasi aktif pasien dan keluarganya menjadi kunci keberhasilan pemulihan dan pengembalian fungsi mobilitas optimal.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.