Navigasi Cepat
Latar Belakang
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak balita dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Kabupaten Jember, khususnya di wilayah pelayanan Rumah Sakit Daerah Kalisat, kasus diare pada anak masih sering ditemukan di ruang rawat inap Ruang Manyar. Penanganan yang cepat dan tepat, termasuk asuhan keperawatan yang komprehensif, sangat krusial untuk mencegah dehidrasi berat dan komplikasi lanjutan.
Ruang Manyar sebagai ruang perawatan khusus anak di RSUD Kalisat memiliki standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan diare. Fokus utama pelayanan adalah resusitasi cairan, pencegahan infeksi, serta edukasi gizi kepada keluarga pasien. Dokumen ini bertujuan untuk membahas pendekatan asuhan keperawatan yang sistematis pada anak dengan diare sesuai dengan kondisi fasilitas di RSUD Kalisat.
Konsep Dasar Diare
Definisi
Diare didefinisikan sebagai buang air besar (BAB) dengan konsistensi cair atau lembek, bahkan dapat berbentuk air saja, dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari). Diare akut berlangsung kurang dari 14 hari, sedangkan diare persisten berlangsung lebih dari 14 hari.
Etiologi
Penyebab diare sangat bervariasi, namun secara umum dikategorikan menjadi infeksius dan non-infeksius:
- Infeksi: Virus (Rotavirus adalah penyebab tersering), bakteri (E. Coli, Vibrio Cholerae, Salmonella), dan parasit (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia).
- Non-Infeksi: Intoleransi makanan (misalnya laktosa), alergi susu sapi, faktor psikologis, dan efek samping obat (terutama antibiotik).
Patofisiologi (Singkat)
Mekanisme terjadinya diare melibatkan gangguan transpor air dan elektrolit di usus halus. Entero-patogen menyebabkan kerusakan mikrovili usus, yang mengakibatkan penurunan penyerapan (malabsorpsi) dan peningkatan sekresi cairan ke dalam lumen usus. Akibatnya, terjadi peningkatan volume cairan di usus yang melebihi kemampuan kolon untuk menyerapnya, sehingga timbul diare. Kehilangan cairan dan elektrolit ini yang berujung pada dehidrasi.
Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Diare
Penerapan Asuhan Keperawatan di Ruang Manyar RSUD Kalisat menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan secara menyeluruh segera setelah pasien masuk ruang perawatan.
- Biodata: Identitas anak dan orang tua (alamat di Jember kemungkinan berpengaruh pada sanitasi lingkungan).
- Riwayat Kesehatan: Lamanya diare, frekuensi BAB, konsistensi feses (darah lendir/air), riwayat muntah, demam, dan input cairan (oral intake).
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum: Kesadaran (compos mentis sampai somnolen), tanda-tanda syok (pucat, dingin ekstremitas).
- Tanda Vital: Tekanan darah (mungkin menurun jika hipovolemik), nadi (takikardi), nafas (pernapasan cepat bisa tanda asidosis metabolik), suhu (demam).
- Status Hidrasi (Sangat Penting):
- Tidak ada dehidrasi: Baik, minum normal, mata normal, turgor kulit segera kembali.
- Dehidrasi ringan-sedang: Gelisah, haus berat, mata cekung, turgor kulit lambat kembali (lebih dari 2 detik).
- Dehidrasi berat: Lesu/tidak sadar, tidak bisa minum, mata sangat cekung, turgor kulit sangat lambat kembali (lembab dingin).
- Pemeriksaan Abdomen: Distensi, bising usus (hyperaktif atau hypoaktif), nyeri tekan.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian, prioritas diagnosa keperawatan yang sering muncul di Ruang Manyar adalah:
| Diagnosa | Faktor Terkait (Etiologi) | Tanda & Gejala (Masor) |
|---|---|---|
| Defisit volume cairan (dehidrasi) berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan melalui BAB dan muntah. | Input kurang, output berlebih. | Turgor kulit jelek, membran mukosa kering, nadi lemah, hemokonsentrasi (Hb tinggi). |
| Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, dan penurunan absorpsi usus. | Penurunan nafsu makan. | Berat badan turun, turgor kulit jelek, lemah. |
| Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi zat asam pada feses. | Kontak kulit dengan feses cair yang sering. | Erythema pada area diaper/bokong, kulit kemerahan. |
| Pengetahuan keluarga kurang tentang penyakit diare berhubungan dengan kurangnya informasi. | Kurangnya sumber informasi/edukasi. | Orang tua cemas, bertanya berulang, pemberian makan/s minum yang salah saat diare. |
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi dirancang untuk mengatasi diagnosa di atas:
- Defisit Volume Cairan:
- Pantau tanda vital, kesadaran, dan tanda-tanda dehidrasi setiap 1-2 jam (tergantung kondisi).
- Timbang berat badan harian untuk memantau kehilangan cairan.
- Catat keseimbangan cairan (Input: IV, oral; Output: BAB, muntah, urin).
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan resusitasi (RL/D5%) sesuai tingkat dehidrasi (Terapi Plan A, B, atau C).
- Motivasi ibu/orang tua untuk memberikan cairan oral (oralit, jus, sup) sedikit demi sedikit (bolus) jika masih bisa minum.
- Perubahan Nutrisi:
- Kaji nafsu makan anak dan toleransi terhadap makanan.
- Anjurkan pemberian makanan sesuai usia, tidak perlu dipuasa (kecuali muntah hebat). Makanan dianjurkan lunak dan mudah dicerna (bubur, nasi tim).
- Jelaskan kepada orang tua bahwa makan akan mempercepat penyembuhan usus.
- Kolaborasi pemberian vitamin dan zinc (seng) sesuai protokol RSUD Kalisat untuk mengurangi lama diare.
- Kerusakan Integritas Kulit:
- Ganti popok/baju dalam sesaat setelah BAB.
- Bersihkan area perianal dengan air mengalir atau tisu basah yang lembut. Hindari penggunaan tisu basah yang mengandung alkohol atau pewangi yang menjengkelkan.
- Keringkan area dengan cara menepuk (tidak digosok).
- Beri pelindung kulit (barier cream) seperti petroleum jelly atau zinc oxide jika kulit mulai kemerahan.
- Pengetahuan Kurang:
- berikan edukasi tentang tanda bahaya diare (lemah, tidak bisa minum, BAB berdarah) agar segera berobat.
- Jelaskan cara pencegahan diare: mencuci tangan dengan sabun, memasak air matang, sanitasi lingkungan.
- Jelaskan cara pemberian oralit yang benar (dilarutkan dalam 200cc air dingin, diminum sedikit demi sedikit).
Implementasi di Ruang Manyar RSUD Kalisat
Dalam praktiknya di Ruang Manyar, perawat menerapkan strategi "Family Centered Care" (Perawatan Terpusat Keluarga). peran orang tua sangat ditingkatkan dalam pemantauan kadar air anak saat dirawat. Ruang Manyar dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur bayi serta ruang tunggu yang memadai untuk satu orang tua mendampingi anak, sesuai standar rumah sakit daerah.
Dokumentasi keperawatan menggunakan format CPPT (Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi) yang selalu diperbarui setiap shift. Kolaborasi antara perawat dan dokter spesialis anak sangat intensif, terutama pada pasien dengan dehidrasi berat yang memerlukan tindakan pemasangan infus dan observasi ketat tanda vital.
Selama masa perawatan, edukasi kebersihan diri dan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama tim medis. Hal ini penting untuk mencegah infeksi nosokomial (infeksi rumah sakit), mengingat anak sangat rentan, apalagi di ruang perawatan anak.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan tindakan keperawatan.
- Kriteria Hasil:
- Volume cairan seimbang, turgor kulit baik, tidak ada tanda dehidrasi.
- Berat badan stabil atau meningkat kembali.
- Kulit area bokong/intim tetap utuh, tidak ada iritasi.
- Keluarga dapat menjelaskan kembali cara pencegahan diare dan cara pemberian oralit.
Jika kriteria hasil tercapai, pasien diperbolehkan pulang (rawat jalan) dengan intruksi kontrol ke poliklinik anak RSUD Kalisat. Jika tidak tercapai, perlu dilakukan re-diagnosis dan penyesuaian rencana keperawatan.
