Pendahuluan
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diare didefinisikan sebagai buang air besar (BAB) dengan konsistensi cair atau lebih lunak dari biasanya, dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), intoleransi makanan, atau faktor malabsorpsi. Bahaya utama dari diare bukanlah frekuensi BAB itu sendiri, melainkan komplikasi yang menyertainya, yaitu kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan, yang pada akhirnya menyebabkan dehidrasi.
Pada anak, keseimbangan cairan dan elektrolit sangat labil dibandingkan orang dewasa. Proporsi air tubuh pada anak lebih besar, dan laju metabolisme basal yang tinggi membuat kebutuhan cairan lebih besar serta laju pembuangan lebih cepat. Oleh karena itu, kehilangan cairan akibat diare dapat dengan cepat menyebabkan kondisi kegawatan yang mengancam jiwa seperti syok hipovolemik. Asuhan keperawatan yang komprehensif memiliki peran krusial dalam mencegah dehidrasi, mengatasi gangguan keseimbangan elektrolit, dan memberikan edukasi kepada keluarga.
Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dalam proses keperawatan untuk mengumpulkan data mengenai kondisi pasien. Pengkajian pada anak dengan diare mencakup riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, dengan fokus utama pada status hidrasi.
1. Anamnesa (Riwayat Kesehatan)
Pengkajian subyektif dilakukan melalui wawancara dengan orang tua atau pengasuh anak. Perawat harus menggali informasi mengenai:
- Lamanya dan Frekuensi Diare: Sejak kapan anak mulai BAB cair, berapa kali sehari, dan apakah volumenya banyak.
- Karakteristik Feses: Warna (kehijauan, berdarah, berlendir), bau (asam/jahat), dan apakah ada lemak tinja (steatorrhea).
- Faktor Pemicu: Riwayat makan makanan yang pedas, asam, atau tercemar; riwayat kontak dengan pasien diare lain; penggunaan antibiotik sebelumnya; atau gejala alergi.
- Tanda Kehilangan Cairan Lain: Adakah vomiting (muntah), demam tinggi (meningkatkan insensible water loss), atau keringat berlebih.
- Status Minum dan Makan: Anak masih mau minum ASI/susu atau tidak, nafsu makan menurun, atau ada muntah berulang.
- Riwayat BAK (Buang Air Kecil):b> Hal ini sangat penting. Perlu ditanyakan frekuensi dan volume BAK. Berkurangnya output urin adalah tanda awal dehidrasi.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik difokuskan pada tanda-tanda dehidrasi dan status umum anak. Data yang didapat meliputi:
- Keadaan Umum: Kesadaran apakah letargi, gelisah, atau tidak sadar.
- Tanda Vital: Tekanan darah (hipotensi pada dehidrasi berat), nadi (takikardi atau lemah), nafas (takipneu), dan suhu badan (demam).
- Inspeksi:
- Tanda-tanda dehidrasi berat: Wajah berkerut (bathing suit appearance), murung/lesu, mata cekung (sunken eyes).
- Fontanel: Pada bayi, fontanel (ubun-ubun) besar tampak cekung atau menonjol jika ada peningkatan tekanan intrakranial akibat gangguan elektrolit.
- Palpasi: Turgor kulit (elastisitas kulit) dengan cara mencubit kulit perut atau paha. Jika kulit kembali lambat (turgor tertunda), menandakan dehidrasi. Tangan dan kaki juga terasa dingin dan berkeringat (perifer dingin) pada syok.
Penentuan Tingkat Dehidrasi
Sistem penilaian seperti skala CTP (Crying, Thirsty, Posture) atau skala WHO membantu perawat menentukan tingkat keparahan:
- Dehidrasi Ringan-Sedang: Anak gelisah, haus, mata dan mulut kering, turgor kulit kembali cepat/sedikit lambat (2 detik), BAK berkurang.
- Dehidrasi Berat: Anak lesu atau tidak sadar, pincang jika diminta berjalan (atau lemah sekali), turgor kulit kembali sangat lambat (>2 detik), mata sangat cekung, mulut sangat kering, tangan dan kaki dingin, nadi lemah dan cepat, oliguria atau anuria.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian terutama fokus pada kekurangan cairan dan elektrolit, berikut adalah prioritas diagnosa keperawatan yang biasanya muncul:
1. Defisit Volume Cairan
Terkait dengan: Kehilangan cairan yang berlebihan melalui diare (gastroenteritis).
Ditandai dengan:
Nadi cepat dan lemah
Tekanan darah turun
Turgor kulit yang buruk
Frekuensi urin berkurang
Mata cekung, bibir kering
Penurunan berat badan mendadak
2. Ketidakseimbangan Elektrolit (Na, K)
Terkait dengan: Ekskresi elektrolit berlebihan dalam tinja (hiponatremi atau hipokalemia).
Ditandai dengan:
Kelemahan otot (kram/parese)
Distensi abdomen
Perubahan status mental (apatis)
Ileus paralitik
Mual berlebihan
3. Risiko Integritas Kulit Terganggu
Terkait dengan: Iritasi kulit pada area perineum dan pantat akibat tinja asam dan seringnya membersihkan area tersebut (inkontinensia).
Perencanaan dan Implementasi
Intervensi keperawatan dirancang untuk mengkoreksi defisit yang ada, mencegah komplikasi selanjutnya, serta memulihkan fungsi fisiologis normal.
1. Intervensi untuk Defisit Volume Cairan dan Elektrolit
Tujuan utama intervensi adalah mengembalikan volume sirkulasi darah dan keseimbangan elektrolit dalam batas normal.
Resusitasi Cairan (Rehidrasi)
Pemberian cairan didasarkan pada tingkat keparahan dehidrasi:
- Dehidrasi Ringan-Sedang: Intervensi utama adalah pemberian oralit (Larutan Gula Garam - LGG) pada anak sadar dan mampu minum. Jelaskan kepada ibu cara membuat oralit yang benar (satu bungkus oralit dilarutkan dalam 200 ml air masak matang). Berikan oralit secara perlahan (dengan sendok) setiap kali BAB cair untuk mengganti cairan yang hilang. Perhatikan prinsip "seperti air mencuci tangan" alias setelah BAB, beri oralit.
- Dehidrasi Berat: Anak dalam kondisi ini seringkali tidak bisa minum karena muntah berat atau lesu/tidak sadar. Intervensi yang harus dilakukan segera adalah pemasangan Infus (IV Line). Cairan rehidrasi yang biasa digunakan adalah Ringer Laktat atau Natrium Klorida 0.9%. Aturan kecepatan pemberian cairan sesuai pedoman resusitasi (misal: berikan bolus 20 ml/kgBB dalam waktu 20 menit, lalu evaluasi). Setelah hemodinamik stabil (nadi kuat, tekanan darah baik), dilanjutkan dengan rehidrasi fase pemeliharaan.
Monitor Tanda Vital dan Status Hidrasi:
- Catat pemasukan (minum/infus) dan pengeluaran (diare, muntah, urin) secara akurat setiap 4 jam atau sesuai kebutuhan (balance cairan).
- Pantau tanda vital setiap jam: perhatikan tanda syok seperti takikardi mendadak atau hipotensi.
- Evaluasi status dehidrasi: Observasi apakah mata semakin cekung, turgor kulit membaik atau memburuk. Wajah bayi harus diperhatikan, jika bayi menyusu dengan baik dan mata tidak cekung lagi, berarti rehidrasi berhasil.
Pemberian Suplemen Zinc:
Berdasarkan rekomendasi WHO, pemberian tablet zinc (seperti zinc sulfat) sangat dianjurkan pada kasus diare. Zinc membantu meringankan durasi dan keparahan diare serta mencegah serangan berikutnya. Perawat memastikan anak minum zinc selama 10-14 hari sesuai dosis berat badan.
2. Intervensi Risiko Integritas Kulit Terganggu
Kulit yang lembab akibat tinja cair yang mengandung enzim dan asam gizi akan sangat mudah iritasi (diaper rash).
- Kebersihan Perineum: Ganti popok segera setiap kali BAB. Buang tinja dengan hati-hati supaya tidak menyebar ke lipatan paha.
- Sabun dan Air: Bersihkan pantat dengan air hangat dan lembut. Hindari penggunaan sabun yang keras atau kertas lap yang kasar yang dapat menghapus lapisan pelindung kulit.
- Pengeringan: Keringkan area pantat dengan cara ditepat-tepat (tid digosok) menggunakan handuk bersih atau keringkan udara (melalui udara luar jika memungkinkan dengan menutupi area reproduksi).
- Pelapisan: Gunakan krim pelindung (barrier cream) seperti krim seng oksida atau petroleum jelly untuk melindungi kulit dari kelembaban dan iritasi tinja berikutnya.
- Posisi: Sesekali meninggalkan area popok terbuka (tanpa popok) di atas alas yang waterproof/absorben agar kulit terpapar udara.
3. Nutrisi
Mitos bahwa anak tidak boleh makan saat diare sudah tidak lagi berlaku. Anak tetap membutuhkan energi untuk memperbaiki usus yang rusak.
- Anak tetap dianjurkan makan sesuai usianya. Jangan menghentikan ASI pada bayi; justru ASI sangat membantu pemulihan.
- Jika anak mual, berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (frequent feeding).
- Hindari makanan manis berlebih, minuman bersoda, atau minuman pemanis buatan yang dapat membuat diare makin parah (osmotic diarrhea).
Edukasi Kesehatan
Peran perawat tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga mempersiapkan keluarga untuk perawatan di rumah (home care). Edukasi kunci meliputi:
- Tanda Bahaya: Ajarkan ibu memantau anak di rumah. Segera bawa ke fasilitas kesehatan jika anak tampak lesu, tidak mau minum sama sekali, muntah terus-menerus, demam tinggi, terdapat darah dalam tinja, atau kejang.
- Kewaspadaan Demam Berdarah: Di seluruh dunia termasuk Indonesia, diare adalah salah satu peringatan dengue (demam berdarah). Akan tetapi, edukasi ini menekankan bahwa jika demam tinggi belum ada diare, jangan memberi antibiotik. Sebaliknya, jika diare disertai demam tinggi dan anak tampak lemah, perlu diperiksa laboratorium.
- Sanitasi: Pentingnya mencuci tangan dengan sabun setelah BAB dan sebelum menyiapkan makanan serta menyusui.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan dari intervensi yang telah dikerjakan. Kriteria hasil yang diharapkan adalah:
| Indicator | Kriteria Evaluasi Tercapai |
|---|---|
| Volume Cairan | Tanda vital stabil (TD normal, Nadi kuat), turgor kulit baik (kembali segera), mata tidak cekung, serta BAK volume cukup (1-2 cc/kgBB/jam) dan warna bening. |
| Elektrolit | Tidak ada tanda-tanda kram otot atau kelemahan yang signifikan, perut tidak kembung berlebihan, status mental tetap baik (apatis/sadar). |
| Integritas Kulit | Kulit di area perineum dan anus tampak utuh (utuh/intact), bebas dari iritasi, kemerahan (eritema), atau lecet. |
| Pengetahuan Keluarga | Orang tua mampu menjelaskan kembali tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai dan dapat mendemonstrasikan cara pemberian oralit yang benar. |
Kesimpulan
Asuhan keperawatan pada anak dengan diare yang disertai kekurangan cairan dan elektrolit memerlukan ketelitian tinggi dalam pengkajian dan tindakan cepat dalam rehidrasi. Penanganan yang dini dan tepat dapat mencegah masuknya anak dalam kondisi syok atau gagal ginjal akut. Kolaborasi antara perawat, dokter, dan orang tua menjadi kunci utama keberhasilan pemulihan pasien anak.
