Identitas Pasien
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan yang berupa pengumpulan data secara sistematis tentang klien. Pengkajian dilakukan pada saat Ny. N pertama kali masuk di Ruang KIRANA.
A. Anamnesis (Subjektif)
Berdasarkan wawancara dengan pasien, didapatkan data sebagai berikut:
- Keluhan Utama: Pasien mengeluhkan badan terasa lemas, sering merasa haus (polidipsia), dan sering buang air kecil terutama pada malam hari (poliuria).
- Riawayat Penyakit Sekarang: Keluhan dirasakan sudah sejak 1 bulan yang lalu dan semakin memberat. Pasien juga mengaku sering merasa lapar (polifagia) namun berat badan cenderung turun. Pasien datang ke rumah sakit setelah merasa pusing berlebihan.
- Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien telah didiagnosis menderita Diabetes Melitus sejak 5 tahun yang lalu. Pasien mengaku rutin minum obat oral (metformin) namun sering lupa jika sedang sibuk.
- Riwayat Penyakit Keluarga: Ayah pasien menderita hipertensi dan Diabetes Melitus.
B. Pemeriksaan Fisik (Objektif)
Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil sebagai berikut:
- Kesadaran: Compos Mentis (GCS 15)
- Tanda Vital:
- Tekanan Darah: 140/90 mmHg
- Nadi: 88 x/menit (Reguler)
- Suhu: 36,5 C
- Pernafasan: 20 x/menit
- Sistem Pernafasan: Vesikuler, tidak ada wheezing, Ronkhi negatif.
- Sistem Kardiovaskuler: Jantung I dan II reguler, tidak ada murmur.
- Sistem Pencernaan: Perut lunak, tidak ada massa/tumor, bowel sound normal.
- Ekstremitas: Turgor kulit menurun, capillary refill time (CRT) < 2 detik. Terdapat edema pada tungkai (+). Tidak ditemukan luka terbuka, namun pasien mengeluh kesemutan (parestesi) pada ujung jari kaki.
Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium):
- Gula Darah Sewaktu (GDS): 280 mg/dL (Hiperglikemia)
- Kadar HbA1c: 8,5%
- Urine: Glukosa (+3)
2. Analisa Data
Berdasarkan data yang terkumpul dari subjektif dan objektif, perawat melakukan analisa untuk menentukan masalah keperawatan.
| Masalah/Pengaruh | Penyebab (Etiologi) | Tanda dan Gejala |
|---|---|---|
| Ketidakstabilan kadar glukosa darah | Kekurangan insulin relatif, resistensi insulin, ketidakpatuhan diet dan pengobatan. | Subjektif: Polifagia, Polidipsia, Poliuria, badan lemas. Objektif: GDS 280 mg/dL, parestesi. |
| Resiko tinggi infeksi | Kadar glukosa darah tinggi merupakan media pertumbuhan bakteri, penurunan respon imun leukosit. | GDS tinggi, prosedur invasif (tindakan), edema pada tungkai. |
| Defisit pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan | Kurangnya informasi, salah interpretasi terhadap sumber informasi. | Pasien mengaku sering lupa minum obat, kurang memahami diet sehat. |
3. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan analisa data di atas, prioritas diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. N adalah:
- Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan insulin/pengobatan.
- Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan respon imun dan hiperkalemia.
- Defisit pengetahuan mengenai manajemen penyakit (diet, olahraga, obat) berhubungan dengan kurangnya informasi.
4. Perencanaan dan Implementasi
Diagnosa 1: Ketidakstabilan kadar glukosa darah
Tujuan: Kadar glukosa darah mendekati normal (GDS 100 - 180 mg/dL), tanda vital stabil, pasien tidak lagi mengeluh poliuria, polidipsia, polifagia.
Rencana Implementasi:
- Observasi tanda vital (TD, N, R, S) setiap 2 x 24 jam atau sesuai kondisi.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan GDS harian (puasa, 2 jam post prandial, sebelum tidur).
- Berikan obat hipoglikemik oral (metformin) sesuai order dokter, observasi efek samping.
- Kolaborasi pemberian Insulin jika diperlukan sesuai protokol di Ruang KIRANA.
- Lakukan edukasi tentang pengendalian diet DM (Diet Diabetes).
- Motivasi pasien untuk beristirahat cukup untuk mengurangi metabolisme tubuh.
Diagnosa 2: Resiko tinggi infeksi
Tujuan: Pasien bebas dari tanda-tanda infeksi (demam, luka bernanah, nyeri tekan), leukosit dalam batas normal.
Rencana Implementasi:
- Pantau tanda-tanda infusi secara rutin (suhu, Kadar Leukosit, kemerahan, pembengkakan).
- Lakukan teknik aseptik ketika memasak infus atau melakukan tindakan keperawatan agar terhindar dari kontaminasi bakteri.
- Jelaskan kepada pasien pentingnya menjaga kebersihan diri (mandi, ganti pakaian, cuci tangan).
- Instruksikan pasien memperhatikan kondisi kaki kebersihan kaki (Foot Care) karena parestesi.
- Berikan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan imunitas (tinggi protein).
Diagnosa 3: Defisit pengetahuan
Tujuan: Pasien menyebutkan kembali kembali tentang penyakit DM, diet 3J 3K, obat-obatan yang diminum.
Rencana Implementasi:
- Gunakan metode edukasi ceramah dengan bahasa yang mudah dipahami.
- Jelaskan tentang penyakit Diabetes Melitus, penyebab, gejala, dan komplikasi.
- Demonstrasikan cara mengkonsumsi obat yang benar (waktu tidak boleh terlambat).
- Berikan leaflet berisi contoh menu makanan untuk penderita DM.
- Evaluasi respons pasien terhadap informasi yang diberikan.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan selama proses perawatan berlangsung di Ruang KIRANA untuk melihat keberhasilan tindakan yang telah dilakukan.
Evaluasi Setelah 3 x 24 Jam
- Kadar Glukosa Darah: Menurun menjadi GDS 205 mg/dL, namun masih di atas normal. Keluhan poliuria dan polidipsia berkurang.
- Tanda Vital: Stabil (TD 130/85, N 80).
- Infeksi: Tidak ada tanda infeksi luka, suhu tubuh normal.
- Pengetahuan: Pasien tampak mulai tertarik membaca leaflet diet.
Evaluasi Setelah 7 x 24 Jam (Hari Ke-3)
- Kadar Glukosa Darah: GDS 160 mg/dL (Kondisi makin baik). Badan sudah tidak terasa lemas.
- Pola Makan: Pasien mulai menerima konsep diet, porsi nasi dikurangi dan diganti lauk bergizi.
- Patuh Obat: Pasien tidak pernah lupa meminum obat saat jam perawat memberikan.
- Kesimpulan: Masalah keperawatan "Ketidakstabilan kadar glukosa darah" dipertahankan, "Resiko infeksi" teratasi, "Defisit pengetahuan" sebagaian teratasi.
