Kecelakaan kerja merupakan salah satu permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja yang serius, terutama bagi tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit. RSUP Dr. Sardjito sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama di Yogyakarta memiliki banyak pekerja dengan berbagai macam risiko kecelakaan kerja. Studi epidemiologi kecelakaan kerja penting dilakukan untuk mengidentifikasi pola, faktor risiko, dan dampak kecelakaan kerja yang terjadi, sehingga dapat dirancang intervensi pencegahan yang efektif. Artikel ini membahas hasil studi epidemiologi kecelakaan kerja pada pekerja di RSUP Dr. Sardjito pada tahun 2018.
Kecelakaan kerja didefinisikan sebagai peristiwa yang tidak diinginkan, tidak terduga, dan tiba-tiba yang terjadi saat menjalankan kegiatan pekerjaan yang mengakibatkan cedera fisik, psikis, atau bahkan kematian. Tenaga kesehatan di rumah sakit, termasuk RSUP Dr. Sardjito, rentan mengalami kecelakaan kerja akibat berbagai faktor seperti paparan bahan kimia, benda tajam, dan kontak dengan pasien yang berpotensi menularkan penyakit.
Studi epidemiologi membantu dalam memahami distribusi (dimana dan kapan), determinan (penyebab), serta konsekuensi dari cedera akibat kecelakaan kerja. Data tersebut sangat krusial bagi manajemen rumah sakit dalam menentukan prioritas dan strategi pengendalian, khususnya di lingkungan kerja yang kompleks dan dinamis seperti rumah sakit.
Studi ini menggunakan desain retrospektif deskriptif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan kecelakaan kerja yang tercatat di bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) RSUP Dr. Sardjito selama tahun 2018.
Data yang dikumpulkan meliputi:
Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat pola kejadian dan distribusinya.
Pada tahun 2018, tercatat sejumlah 124 kasus kecelakaan kerja yang dilaporkan di RSUP Dr. Sardjito. Beberapa temuan utama yang didapatkan antara lain:
Hasil studi epidemiologi ini memperlihatkan risiko kecelakaan kerja yang signifikan di lingkungan RSUP Dr. Sardjito, terutama di kalangan tenaga medis yang langsung bersentuhan dengan pasien dan alat medis.
Cedera akibat tusukan jarum dan benda tajam yang dominan merupakan masalah yang umum di dunia kesehatan dan berpotensi menimbulkan infeksi serius, seperti Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV. Ini menunjukkan perlunya peningkatan pelatihan mengenai prosedur keamanan dan penggunaan alat pelindung diri (APD).
Risiko terpeleset dan jatuh yang juga cukup tinggi harus mendapat perhatian melalui pengendalian lingkungan kerja, seperti peningkatan kebersihan lantai, pencahayaan, dan perbaikan desain ruang kerja.
Lokasi kejadian yang banyak terjadi di unit rawat inap dan ruang tindakan menunjukkan bahwa area dengan intensitas pekerjaan tinggi dan kontak langsung dengan pasien berisiko lebih besar mengalami kecelakaan kerja. Penempatan tenaga pendukung dan rotasi kerja yang tepat dapat mengurangi risiko ini.
Distribusi waktu kejadian yang lebih banyak pada shift pagi mungkin terkait dengan volume kerja dan aktivitas yang lebih tinggi pada waktu tersebut. Hal ini mengindikasikan perlunya pengaturan beban kerja yang seimbang dan peningkatan kewaspadaan pada jam-jam kritis.
Tingkat keparahan cedera yang sebagian besar ringan atau sedang menunjukkan efektivitas penanganan awal yang baik, tetapi cedera serius yang tetap terjadi menggarisbawahi kebutuhan sistem pelaporan dan manajemen kecelakaan kerja yang komprehensif serta tindak lanjut yang memadai.
Berdasarkan hasil studi ini, beberapa rekomendasi yang dapat diajukan untuk mengurangi kejadian kecelakaan kerja di RSUP Dr. Sardjito antara lain:
Studi epidemiologi kecelakaan kerja di RSUP Dr. Sardjito tahun 2018 mengungkapkan bahwa kecelakaan kerja terutama terjadi di kalangan tenaga medis yang beraktivitas langsung di ruang perawatan dan tindakan, dengan cedera akibat tusukan jarum dan benda tajam sebagai yang terbesar porsinya. Kondisi ini menuntut upaya terpadu untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja melalui pelatihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan kerja.
Penanganan yang efektif terhadap kecelakaan kerja tidak hanya akan melindungi pekerja, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan rumah sakit dan keselamatan pasien secara keseluruhan.
