Indonesia merupakan negara hukum (rechtsstaat) yang mendasarkan seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara pada Pancasila. Dalam konteks hukum keluarga, sistem hukum perkawinan di Indonesia memiliki karakteristik yang unik karena tidak memisahkan antara nilai-nilai religius dengan aspek hukum formal. Perkawinan di Indonesia dipandang sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum memberikan landasan filosofis yang kuat bagi hukum perkawinan. Sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa", menegaskan bahwa perkawinan bukan sekadar transaksi perdata atau kontrak sosial, melainkan sebuah ikatan yang bersifat sakral dan memiliki dimensi ibadah. Oleh karena itu, hukum perkawinan di Indonesia sangat menghargai aturan-aturan agama yang dianut oleh warga negaranya.
Sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", menempatkan kedudukan suami dan istri dalam posisi yang setara (equlibrium). Dalam hukum perkawinan modern, hak dan kewajiban masing-masing pihak dihargai secara proporsional. Sila ketiga, "Persatuan Indonesia", mencerminkan bahwa meskipun Indonesia memiliki keberagaman agama dan budaya, sistem hukum perkawinan harus mampu menjadi pemersatu melalui aturan yang mengikat secara nasional namun tetap menghormati kearifan lokal.
Pilar utama hukum perkawinan di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Undang-undang ini merupakan manifestasi nyata dari upaya negara untuk melakukan unifikasi hukum perkawinan tanpa mengabaikan realitas pluralisme hukum yang ada.
Dalam sistem ini, sahnya suatu perkawinan ditentukan oleh dua aspek utama: aspek agama dan aspek administratif. Sesuai Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan, suatu perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu. Sementara itu, ayat (2) mewajibkan pencatatan perkawinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pencatatan ini bukan merupakan syarat sahnya perkawinan secara agama, melainkan syarat sahnya perkawinan secara hukum negara demi ketertiban administrasi dan perlindungan hukum bagi para pihak, terutama istri dan anak.
Salah satu inti dari negara hukum adalah perlindungan hak asasi manusia. Hukum perkawinan Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. Salah satu perubahan penting adalah penetapan batas usia minimal perkawinan yang sama bagi pria dan wanita, yaitu 19 tahun. Hal ini merupakan wujud nyata perlindungan terhadap hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan, serta upaya mencegah pernikahan dini yang berisiko secara fisik maupun psikologis.
Selain itu, sistem hukum perkawinan di Indonesia juga mengakomodasi prinsip harta bersama. Dalam perkawinan, harta yang diperoleh selama masa ikatan suami istri dianggap sebagai harta bersama, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Prinsip ini memberikan jaminan keadilan bagi istri yang mungkin tidak bekerja di sektor formal namun memberikan kontribusi besar dalam pengelolaan rumah tangga.
Sebagai negara hukum yang dinamis, sistem perkawinan di Indonesia terus menghadapi tantangan zaman. Adanya perkawinan beda agama, tuntutan pengakuan terhadap perkawinan adat yang belum tercatat, serta implikasi teknologi terhadap hak-hak keluarga menjadi topik yang terus diperdebatkan dalam ruang akademis dan yudisial. Namun, Pancasila selalu menjadi kompas dalam mencari titik temu (kalimatun sawa) antara kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kesimpulannya, sistem hukum perkawinan di Indonesia adalah sebuah model yang harmonis antara norma agama, budaya, dan kepentingan negara. Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila, sistem ini berusaha menjaga keseimbangan antara hak individu untuk menikah sesuai keyakinan dan kewajiban negara untuk melindungi hak-hak warga negara dalam lingkup keluarga yang sejahtera.
