Pendahuluan
Tuberkulosis Resistensi Obat (TB-RO) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang mendesak. Indonesia termasuk dalam daftar negara dengan beban TB-RO tertinggi di dunia. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan kerusakan jaringan paru yang luas tetapi juga memicu komplikasi serius, salah satunya adalah gangguan pertukaran gas.
Di RSUD Labuang Baji, Provinsi Sulawesi Selatan, penanganan pasien TB-RO memerlukan pendekatan komprehensif. Gangguan pertukaran gas terjadi akibat peradangan dan kerusakan alveoli yang menghambat difusi oksigen ke dalam darah. Kondisi hipoksemia (rendahnya kadar oksigen dalam darah) pada pasien TB-RO dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Intervensi keperawatan yang krusial dalam hal ini adalah pemberian terapi oksigen yang tepat untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan mencegah gagal napas.
Tinjauan Kasus: Ny. N
Berikut adalah gambaran singkat mengenai pasien Ny. N yang menjadi fokus Studi Kasus Asuhan Keperawatan ini.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian fisik dan penunjang, didapatkan diagnosa keperawatan utama yaitu Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-capiler sekunder terhadap proses infeksi (Mycobacterium tuberculosis resistensi obat).
Tanda dan gejala yang muncul meliputi:
- Saturasi oksigen (SpO2) 88% pada ruang udara.
- Terdapatkan retraksi dinding dada saat bernapas.
- Penggunaan otot pernapasan tambahan.
- Kulit dan bibir terlihat sedikit sianosis.
- Keluhan sesak terutama saat aktivitas.
Penerapan Intervensi Terapi Oksigen
Tujuan utama dari penerapan terapi oksigen pada Ny. N adalah mempertahankan pernapasan efektif, meningkatkan SpO2 dalam rentang normal (95-98%), dan mencegah komplikasi jantung atau otak akibat hipoksia. Rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Penentuan Titre Oksigen dan Alat Bantu
Setelah dilakukan pengkajian awal yang menunjukkan SpO2 88%, perawat menindaklanjuti dengan konsultasi dokter spesialis paru di RSUD Labuang Baji. Dokter memerintahkan pemberian oksigen menggunakan Nasal Cannula (Kanul Nasal) dengan laju aliran 2-3 liter/menit. Pilihan nasal cannula dipertimbangkan karena memberikan kenyamanan bagi pasien agar tetap bisa makan, minum, dan berkomunikasi dengan baik.
2. Pemasangan dan Keamanan Pasien
Perawat memasang alat dengan hati-hati. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
- Menjelaskan prosedur kepada pasien untuk mengurangi kecemasan.
- Memastikan sumber oksigen menyala dan tabung terisi penuh.
- Mengatur flowmeter sesuai dosis yang tercatat.
- Menempatkan kanul dengan nyaman di hidung dan mengikat tali pengikat di belakang kepala dengan longgar (tidak menekan).
- Menjaga kelembaban selaput lendir hidung dengan memberikan minum cukup dan humidifikasi jika diperlukan.
3. Pemantauan Intensif (Monitoring)
Pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas terapi.
| Parameter | Sebelum Intervensi | Selah 1 Jam Terapi | Selah 24 Jam Terapi |
|---|---|---|---|
| SpO2 | 88% | 93% | 96% |
| Frekuensi Napas | 28 x/menit (Takipnea) | 24 x/menit | 20 x/menit |
| Respons Pasien | Terlihat gelisah, sesak | Lebih tenang, sesak berkurang | Tidak mengeluh sesak |
4. Posisi Fisiologis
Selain terapi oksigen, perawat mengajarkan dan menempatkan Ny. N pada posisi High Fowler atau Semi Fowler (menengadahkan kepala tempat tidur 30-45 derajat). Posisi ini membantu menurunkan desakan diafragma sehingga paru dapat memuai secara maksimal dan memudahkan proses ventilasi.
Evaluasi
Setelah 3 x 24 jam penerapan intervensi terapi oksigen dan posisi tubuh yang tepat pada Ny. N di RSUD Labuang Baji, didapatkan hasil sebagai berikut:
- Sifat: Masalah sebagian teratasi (Partial resolution).
- Subjektif: Pasien mengaku sesak napas berkurang, pernapasan terasa lebih ringan dan lega.
- Objektif:
- Saturasi oksigen stabil di angka 96% (dengan oksigen 2 liter/menit).
- Frekuensi napas dalam rentang normal (18-20 x/menit).
- Tidak ditemukan sianosis pada bibir atau kuku jari.
- Penggunaan otot bantu napas tidak tampak lagi.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, terapi oksigen tetap dilanjutkan dengan pengaturan yang disesuaikan, namun dilakukan perencanaan weaning (penurunan bertahap) oksigennya sesuai toleransi pasien setelah mendapatkan persetujuan dokter. Intervensi ini menunjukkan bahwa manajemen oksigen yang tepat sangat vital dalam memperbaiki status oksigenasi pasien TB-RO yang mengalami gangguan pertukaran gas.
Kesimpulan
Penerapan intervensi terapi oksigen pada Ny. N dengan diagnosa Tuberkulosis Resistan Obat di RSUD Labuang Baji terbukti efektif dalam mengatasi masalah keperawatan Gangguan Pertukaran Gas. Kolaborasi antara perawat dan pasien serta pemantauan ketat menjadi kunci keberhasilan tindakan ini.
