Kritik terhadap Nestl mulai mencuat pada tahun 1970 ketika organisasi kesehatan dan pembela hak asasi manusia mulai menyatakan kekhawatiran tentang praktik pemasaran susu formula di negara berkembang. Masalah ini menjadi sorotan dunia setelah publikasi "The Baby Killer" pada tahun 1974, sebuah laporan yang mengkritik praktik perusahaan susu formula di negara berkembang. Dokumen ini diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul "Nestl t Babies" (Nestl membunuh bayi), yang memicu kemarahan publik dan menjadi awal dari kampanye boikot internasional terhadap perusahaan tersebut.
Kritikus berargumen bahwa praktik pemasaran Nestl telah menyebabkan penurunan drastis dalam tingkat menyusui di banyak negara berkembang. Hal ini berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, termasuk:
Menanggapi kekhawatiran global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF mengadopsi "International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes" pada tahun 1981. Kode ini menetapkan standar etika untuk pemasaran susu formula, termasuk:
Boikot internasional terhadap Nestl dimulai pada tahun 1977 di Amerika Serikat dan menyebar ke negara lain. Kampanye ini dipimpin oleh Infant Formula Action Coalition (INFACT) dan mendapat dukungan dari berbagai organisasi non-pemerintah di seluruh dunia. Boikot ini berlangsung selama tujuh tahun hingga 1984, ketika Nestl setuju untuk mematuhi Kode Internasional WHO. Namun, boikot dimulai kembali pada tahun 1988 setelah investigasi independen menunjukkan bahwa perusahaan masih terus melanggar kode tersebut.
WHO
Nestl secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyatakan komitmen mereka terhadap praktik pemasaran bertanggung jawab. Perusahaan mengklaim bahwa:
Banyak ahli berpendapat bahwa praktik pemasaran Nestl telah menciptakan ketergantungan yang tidak sehat terhadap susu formula di negara berkembang. Keluarga dengan pendapatan rendah mungkin menghabiskan hingga 50% pendapatan bulanan mereka untuk membeli susu formula, yang berdampak negatively pada aspek lain dari kehidupan mereka. Selain itu, ketika ibu beralih ke susu formula, produksi ASI mereka berkurang, menciptakan ketergantungan permanen pada produk komersial.
Kontroversi Nestl mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara kepentingan komersial perusahaan multinasional dan kebutuhan kesehatan masyarakat di negara berkembang. Sementara Nestl memandang susu formula sebagai opsi penting bagi ibu yang tidak dapat menyusui, kritikus berargumen bahwa pemasaran agresif telah menciptakan persepsi palsu bahwa susu formula lebih baik daripada ASI, memperburuk standar kesehatan di komunitas yang sudah rentan.
Pada tahun 2021, diluncurkan kampanye global baru against Nestl dengan slogan "Nestl-Free Zones". Kampanye ini menuntut penghentian semua promosi susu formula di semua setting dan memperkuat implementasi Kode Internasional WHO. Pada tahun yang sama, UNICEF dan WHO mengeluarkan seruan untuk mengakhiri promosi produk susu formula, menyatakan bahwa praktik pemasaran yang menyesatkan masih menjadi hambatan utama kesehatan publik global.
Kontroversi susu formula Nestl adalah isu kompleks yang melibatkan etika bisnis, kesehatan publik, dan keadilan sosial. Meskipun Nestl menyatakan komitmen mereka terhadap praktik tanggung jawab sosial korporat, kontroversi ini terus berlanjut selama beberapa dekade, menunjukkan adanya kesenjangan antara klaim perusahaan dan realitas di lapangan.
Penting untuk memahami bahwa masalahnya bukan pada ketersediaan susu formula sebagai opsi bagi ibu yang membutuhkannya, melainkan pada cara produk ini dipasarkan secara agresif dan tidak etis, menciptakan persepsi yang salah tentang kualitasnya dibandingkan dengan ASI.
Kesehatan bayi dan anak adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan transparansi, integritas, dan komitmen terhadap praktik bisnis etis dari perusahaan susu formula seperti Nestl, serta regulasi yang kuat dan penegakan standar internasional oleh pemerintah nasional.
