Pendahuluan
Infeksi nosokomial masih menjadi masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia, terutama di Negara berkembang. Neonatus yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi karena sistem imun yang belum berkembang sempurna dan seringkali memerlukan tindakan invasif. Escherichia coli adalah salah satu bakteri gram negatif yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial di NICU.
Masalah yang semakin kompleks adalah peningkatan jumlah isolat E. coli yang menghasilkan Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL). ESBL adalah enzim yang dapat menghidrolisis antibiotik beta-laktam seperti penisilin, sefalosporin generasi ketiga, dan aztreonam, hal ini menyebabkan resistensi terhadap golongan antibiotik tersebut dan mempersempit pilihan terapi.
Rumah Sakit Umum Naibonat sebagai salah satu rumah sakit rujukan di wilayah NTT menghadapi tantangan dalam mengendalikan infeksi nosokomial, terutama di unit rawat intensif. Penelitian ini penting untuk dilakukan guna mengetahui prevalensi dan karakteristik E. coli penghasil ESBL di NICU RSUP Naibonat sebagai dasar untuk meningkatkan program pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial.
Tinjauan Pustaka
Escherichia coli
Escherichia coli adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang, fakultatif anaerob, dan merupakan bagian dari flora normal usus manusia dan hewan berdarah panas. Namun, strain tertentu dapat menyebabkan penyakit. E. coli merupakan salah satu patogen terpenting yang menyebabkan infeksi saluran kemih, sepsis neonatorum, meningitis, dan infeksi saluran pencernaan.
Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL)
Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) adalah enzim yang diproduksi oleh bakteri gram negatif, terutama Enterobacteriaceae seperti E. coli dan Klebsiella pneumoniae. Enzim ini mampu menghidrolisis antibiotik beta-laktam termasuk sefalosporin generasi ketiga (sefotaksim, seftriakson, seftazidim) dan monobaktam (aztreonam). Gen yang mengkode produksi ESBL biasanya terletak pada plasmid, yang memungkinkan transfer horizontal antar bakteri.
Infeksi Nosokomial di NICU
Neonatus yang dirawat di NICU memiliki risiko tinggi untuk mengalami infeksi nosokomial karena beberapa faktor, termasuk sistem imun yang belum matang, kulit yang masih tipis, penggunaan perangkat medis invasif seperti ventilator, kateter vena sentral, dan nutrisi parenteral, serta paparan lingkungan rumah sakit yang menjadi sumber patogen.
Metodologi Penelitian
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional untuk mengidentifikasi E. coli penghasil ESBL di ruang NICU RSUP Naibonat pada tahun 2019.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di ruang NICU Rumah Sakit Umum Naibonat selama periode Januari hingga Desember 2019.
Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan meliputi:
- Isolat klinis E. coli dari spesimen pasien NICU (darah, urin, sekret trakea, cairan serebrospinal).
- Swab lingkungan NICU (permukaan inkubator, meja resusitasi, stetoskop, termometer, telepon, dan permukaan lain yang sering bersentuhan).
Prosedur Identifikasi
Isolat E. coli diidentifikasi menggunakan metode biokimia standar meliputi tes indol, metil merah (MR), Voges-Proskauer (VP), sitrat, dan fermentasi laktosa. Identifikasi E. coli penghasil ESBL dilakukan menggunakan uji sensitivitas antibiotik dengan metode difusi cakram diskonfirmed sesuai Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Isolat dianggap penghasil ESBL jika menunjukkan peningkatan 5 mm zona hambat pada cakram cefotaxime-clavulanate atau ceftazidime-clavulanate dibandingkan dengan cakram cefotaxime atau ceftazidime saja.
Hasil Penelitian
Karakteristik Pasien
Selama periode penelitian, terdapat 156 neonatus yang dirawat di NICU RSUP Naibonat. Dari jumlah tersebut, 45 pasien (28,8%) ditemukan memiliki kolonisasi atau infeksi oleh E. coli. Karakteristik demografis pasien yang terinfeksi E. coli ditunjukkan pada Tabel 1.
| Karakteristik | N | % |
|---|---|---|
| Jenis Kelamin | ||
| Laki-laki | 24 | 53,3 |
| Perempuan | 21 | 46,7 |
| Berat Lahir | ||
| < 2500 gram | 33 | 73,3 |
| 2500 gram | 12 | 26,7 |
| Usia Gestasi | ||
| Preterm (< 37 minggu) | 36 | 80,0 |
| Term ( 37 minggu) | 9 | 20,0 |
Distribusi Isolat E. coli Berdasarkan Sumber
<>Dari 45 isolat E. coli yang diidentifikasi, sumber terbanyak berasal dari kultur darah (20 isolat; 44,4%), diikuti oleh sekret trakea (12 isolat; 26,7%), urin (8 isolat; 17,8%), dan sumber lainnya (5 isolat; 11,1%).Prevalensi E. coli Penghasil ESBL
Dari 45 isolat E. coli yang diuji, ditemukan 22 isolat (48,9%) teridentifikasi sebagai penghasil ESBL berdasarkan uji konfirmasi ESBL. Tingkat prevalensi ini menunjukkan bahwa hampir separuh dari infeksi E. coli di NICU RSUP Naibonat disebabkan oleh strain yang resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga.
Hasil Swab Lingkungan
Dari 60 sampel swab lingkungan yang diambil, ditemukan 10 sampel (16,7%) positif mengandung E. coli. Dari 10 isolat tersebut, 4 isolat (40%) teridentifikasi sebagai penghasil ESBL. Permukaan yang paling sering terkontaminasi adalah permukaan inkubator dan stetoskop.
Pola Resistensi Antibiotik
Isolat E. coli penghasil ESBL menunjukkan pola resistensi yang tinggi terhadap berbagai antibiotik. Persentase resistensi ditunjukkan pada Tabel 2.
| Antibiotik | Jumlah Isolat Resisten | Persentase (%) |
|---|---|---|
| Ampicillin | 22 | 100 |
| Amoxicillin-Clavulanate | 18 | 81,8 |
| Cefotaxime | 22 | 100 |
| Ceftriaxone | 22 | 100 |
| Ceftazidime | 21 | 95,5 |
| Gentamicin | 14 | 63,6 |
| Ciprofloxacin | 12 | 54,5 |
| Imipenem | 0 | 0 |
| Meropenem | 0 | 0 |
Pembahasan
Prestasi prevalensi E. coli penghasil ESBL sebesar 48,9% di NICU RSUP Naibonat pada tahun 2019 menunjukkan bahwa resistensi antibiotik merupakan masalah yang signifikan di fasilitas kesehatan ini. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya di rumah sakit lain di Indonesia yang melaporkan prevalensi berkisar antara 30-40%. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh variasi pola penggunaan antibiotik, kepatuhan terhadap protokol pengendalian infeksi, dan karakteristik pasien yang dirawat.
Faktor risiko yang terlibat dalam tingginya prevalensi ESBL di NICU RSUP Naibonat kemungkinan multifaktorial, termasuk:
- Penggunaan antibiotik broad-spectrum yang tidak tepat, terutama sefalosporin generasi ketiga sebagai empirik terapi.
- Kondisi pasien neonatus yang rentan, preterm, dan berat lahir rendah.
- Lama rawat yang panjang di NICU.
- Penggunaan perangkat medis invasif seperti ventilator dan kateter vena sentral.
- Kontaminasi lingkungan dan peralatan medis yang tidak terdekontaminasi secara adekuat.
- Transmisi antar pasien melalui tangan tenaga kesehatan.
Ditemukannya E. coli penghasil ESBL pada swab lingkungan NICU (40% dari isolat lingkungan) menunjukkan bahwa lingkungan berperan sebagai reservoir dan sumber penularan. Permukaan inkubator dan stetoskop yang sering terkontaminasi menekankan pentingnya disinfeksi rutin peralatan dan permukaan di NICU.
Polanya resistensi antibiotik pada E. coli penghasil ESBL menunjukkan resistensi 100% terhadap ampisin dan sefalosporin generasi ketiga, yang konsisten dengan karakteristik ESBL. Resistensi terhadap amoksisilin-klavulanat yang masih tinggi (81,8%) menunjukkan bahwa kombinasi inhibitor beta-laktam tidak efektif terhadap sebagian besar isolat ESBL di penelitian ini.
Bahwa tidak ditemukannya resistensi terhadap karbapenem (imipenem dan meropenem) memberikan angin segar dalam pengelolaan infeksi oleh E. coli penghasil ESBL di NICU RSUP Naibonat. Karbapenem masih menjadi pilihan terapi yang efektif, namun penggunaannya harus berhati-hati untuk mencegah munculnya resistensi terhadap obat lini terakhir ini.
Resistensi terhadap quinolon (ciprofloxacin) dan aminoglikosida (gentamicin) yang juga cukup tinggi menunjukkan adanya ko-resistensi pada plasmid yang sama dengan gen ESBL, sehingga membatasi pilihan terapi oral dan suntikan lainnya.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa:
- Sebanyak 48,9% isolat E. coli yang diidentifikasi di NICU RSUP Naibonat tahun 2019 adalah penghasil ESBL.
- Faktor risiko dominan adalah neonatus dengan berat lahir rendah dan preterm.
- Lingkungan NICU berperan sebagai reservoir E. coli penghasil ESBL.
- Semua isolat ESBL sensitif terhadap karbapenem, namun menunjukkan resistensi tinggi terhadap antibiotik lainnya.
Saran yang dapat diberikan:
- Meningkatkan pengendalian infeksi nosokomial dengan emphasis pada hand hygiene, disinfeksi lingkungan, dan isolasi pasien.
- Optimalisasi penggunaan antibiotik dengan memulai terapi berdasarkan pola resistensi lokal dan de-escalate berdasarkan hasil kultur.
- Melakukan surveilans rutin terhadap bakteri penghasil ESBL di lingkungan NICU.
- Mengimplementasikan program antimicrobial stewardship untuk mencegah seleksi dan penyebaran bakteri resisten.
- Melakukan edukasi berkelanjutan kepada tenaga kesehatan di NICU mengenai pencegahan penyebaran bakteri penghasil ESBL.
Kata kunci: Escherichia coli, Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL), NICU, Infeksi Nosokomial, Resistensi Antibiotik
