Pendahuluan
Ketuban pecah dini (KPD) atau dalam istilah medis dikenal sebagai Premature Rupture of Membranes (PROM) merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang cukup sering terjadi. KPD didefinisikan sebagai pecahnya selaput ketuban sebelum timbulnya tanda-tanda persalinan. Pada kasus ini, kita akan membahas asuhan keperawatan pada Ny. D, seorang primigravida berusia 28 tahun dengan kehamilan 31-32 minggu yang mengalami KPD selama 6-7 jam dengan letak bayi sungsang.
Laporan Kasus
Identitas Pasien
| Karakteristik | Informasi |
|---|---|
| Nama Pasien | Ny. D |
| Usia | 28 Tahun |
| Status Kehamilan | G1P0A0 |
| Usia Kehamilan | 31-32 Minggu |
| Riwayat KPD | 6-7 Jam |
| Letak Janin | Sungsang |
Anamnesis
Ny. D datang ke RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan keluhan keluarnya cairan dari jalan lahir sejak 6-7 jam sebelum masuk rumah sakit. Cairan tersebut berwarna jernih, tidak berbau, dan keluar terus-menerus namun dalam jumlah sedang. Pasien mengaku tidak merasakan kontraksi yang signifikan. Ia juga mengaku belum merasakan gerakan janin yang jelas sejak kehamilan berusia 7 bulan.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit jantung. Riwayat kehamilan sebelumnya tidak ada karena ini adalah kehamilan pertamanya. Pasien mendapatkan perawatan antenatal care secara teratur dengan bidan di desanya sejak kehamilan 12 minggu.
Pemeriksaan Fisik
| Pemeriksaan | Hasil |
|---|---|
| Keadaan Umum | Sedang, compos mentis |
| Tekanan Darah | 110/70 mmHg |
| Nadi | 88x/menit |
| Suhu | 36,8C |
| Pernafasan | 20x/menit |
| Tinggi Fundus Uteri | Sesuai usia kehamilan (31-32 minggu) |
| Letak Janin | Sungsang |
| DJJ (Detak Jantung Janin) | 148x/menit, reguler |
| Kontraksi Uterus | Tidak ada |
| Pemeriksaan Spekulum | Tampak cairan jernih bercampur verniks di forniks posterior |
Pemeriksaan Penunjang
- USG kehamilan: menunjukkan kehamilan tunggal, hidramnion ringan, letak sungsang, estimasi berat janin 1850 gram, plasenta anterior grade II, dan indeks cairan amnionoksial (AFI) 8,5 cm.
- Laboratorium: Hemoglobin 11,2 g/dL; Leukosit 9.500/mm; Trombosit 245.000/mm; Urin protein +; Glukosa urin negatif.
- Nitrazin test: Positif (berubah menjadi biru)
- Ferning test: Positif (membentuk pola seperti da pakis)
Diagnosis Medis
- KPD (Ketuban Pecah Dini) pada kehamilan 31-32 minggu
- Kehamilan tunggal dengan letak sungsang
- Hidramnion ringan
Diagnosa Keperawatan
- Risiko infeksi pada ibu dan janin berhubungan dengan pecahnya selaput ketuban.
- Ansietas ibu berhubungan dengan kesehatan janin dan proses persalinan prematur.
- Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan kemungkinan proses infeksi.
- Risiko distress pernapasan pada bayi berhubungan dengan kemungkinan kelahiran prematur.
- Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prosedur, dan perawatan medis berhubungan dengan kurangnya informasi.
Rencana Intervensi Keperawatan
1. Risiko infeksi pada ibu dan janin
- Observasi tanda-tanda vital (TTV) secara rutin setiap 4 jam, perhatikan terutama suhu tubuh.
- Lakukan pemeriksaan leukosit berkala dan kultur cairan vagina jika perlu.
- Mandibulasikan pasien untuk menghindari infeksi ascendens.
- Jaga kebersihan area perineum, ganti pembalut secara teratur.
- Lakukan pemeriksaan DJJ setiap 8 jam.
- Batasi jumlah pemeriksaan dalam (vaginal toucher) untuk mencegah infeksi.
- Berikan antibiotik profilaksis sesuai order dokter.
- Edukasi pasien untuk melaporkan jika ada keluhan keluarnya cairan yang berbau atau berwarna abnormal.
2. Ansietas ibu
- Evaluasi tingkat ansietas pasien.
- Berikan dukungan emosional dan informasi yang akurat mengenai kondisi pasien.
- Jelaskan prosedur tindakan medis yang akan dilakukan.
- Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya.
- Maksimalkan sistem dukungan keluarga dengan mengizinkan keluarga mendampingi pasien.
- Kolaborasi dengan tim psikolog jika diperlukan.
3. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh
- Monitoring suhu tubuh setiap 4 jam.
- Jika suhu tubuh meningkat di atas 38C, berikan kompres hangat dan kolaborasi pemberian antipiretik.
- Edukasi pasien untuk minum air putih yang cukup.
- Berikan nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Jaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar pasien.
4. Risiko distress pernapasan pada bayi
- Monitoring kondisi janin secara berkala dengan NST (Non-Stress Test) setiap hari.
- Kolaborasi pemberian kortikosteroid untuk mematangkan paru-paru janin.
- Edukasi pasien mengenai tanda-tanda bahaya yang perlu segera dilaporkan.
- Kolaborasi dengan tim neonatologi untuk persiapan penanganan bayi prematur.
- Persiapkan kemungkinan kebutuhan resusitasi neonatal setelah kelahiran.
5. Kurang pengetahuan
- Identifikasi tingkat pemahaman pasien mengenai kondisinya.
- Berikan edukasi mengenai KPD, letak sungsang, dan kemungkinan persalinan prematur.
- Jelaskan tindakan medis yang akan dilakukan dan tujuannya.
- Berikan brosur atau materi edukatif tentang perawatan diri selama rawat inap.
- Demonstrasikan teknik pernapasan yang dapat membantu saat kontraksi.
- Evaluasi pemahaman pasien dengan teknik mengulang kembali informasi.
Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana intervensi yang telah ditetapkan. Pasien mendapatkan pemberian antibiotik profilaksis (ampisilin 2 gram IV kemudian 1 gram IV setiap 6 jam) dan kortikosteroid (betametason 12 mg IM, diulang setelah 24 jam). Pasien juga mendapatkan tablet ferrosulfat dan asam folat sebagai suplemen kehamilan.
Selama masa pengamatan, DJJ tetap normal (140-150 x/menit) dan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi pada pasien. Pasien mendapatkan dukungan emosional dari keluarga dan tim kesehatan. Edukasi mengenai tanda-tanda bahaya dan perawatan diri telah diberikan secara berkala.
Evaluasi Keperawatan
Setelah 24 jam perawatan:
- Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD: 110/70 mmHg, N: 86x/menit, S: 36,6C, RR: 20x/menit).
- Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi (tidak ada demam, sekret vagina jernih, leukosit dalam batas normal).
- Ansietas pasien berkurang, terlihat dari ekspresi wajah yang lebih tenang dan kemampuan pasien untuk beristirahat dengan baik.
- DJJ tetap normal (146x/menit).
- Pasien mampu menjelaskan kembali informasi mengenai kondisinya dan perawatan yang harus dilakukan.
Setelah 48 jam perawatan:
- USG kontrol menunjukkan AFI 7,5 cm dan berat janin diperkirakan bertambah menjadi 1900 gram.
- Pasien mulai mengalami kontraksi uteri yang teratur (3 kontraksi dalam 10 menit, durasi 30-40 detik).
- Pemeriksaan pembukaan serviks menunjukkan 2 cm, ketuban +, konsistensi serviks sedang, station -3.
- DJD dipertahankan dalam rentang normal.
- Diperkirakan pasien akan melahirkan dalam 24 ke depan.
Kesimpulan
Asuhan keperawatan pada Ny. D dengan KPD dan letak sungsang memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup pemantauan ketat terhadap tanda-tanda infeksi, kesejahteraan janin, serta dukungan psikologis bagi ibu. Intervensi keperawatan yang tepat dan kolaborasi antarprofesi sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal bagi ibu dan bayi prematur.
Pada kasus ini, dengan asuhan keperawatan yang sistematis dan sesuai dengan standar, diharapkan dapat meminimalisir komplikasi yang mungkin terjadi akibat KPD dan kelahiran prematur dengan letak sungsang. Perawat memiliki peran krusial dalam memberikan edukasi, dukungan emosional, serta monitoring kondisi ibu dan janin secara berkala.
