Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) didefinisikan sebagai bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram, tanpa memandang masa gestasi. Masalah ini menjadi salah satu penyebab utama angka kematian neonatal. Komplikasi yang sering menyertai BBLR semakin berat jika bayi tersebut juga mengalami asfiksia neonatorum, yaitu kondisi di mana bayi tidak dapat bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir. Kombinasi BBLR dan asfiksia menuntut asuhan kebidanan yang komprehensif, cepat, dan terampil, khususnya di ruang perinatalogi yang dilengkapi dengan fasilitas intensif.
Ketika bayi BBLR dengan asfiksia masuk ke ruang perinatalogi, bidan atau perawat harus segera melakukan pengkajian awal untuk menentukan derajat kegawatan. Pengkajian meliputi:
Berdasarkan pengkajian, diagnosa kebidanan yang sering muncul pada kasus ini meliputi:
Asuhan kebidanan di ruang perinatalogi berfokus pada stabilisasi kondisi bayi, pencegahan komplikasi, dan dukungan tumbuh kembang. Berikut adalah langkah-langkah intervensinya:
Prioritas utama adalah memastikan jalan napas bayi bersih. Jika bayi belum bernapas spontan setelah resusitasi awal, mungkin diperlukan bantuan nafas dengan Positive Pressure Ventilation (PPV) atau penempatan selang endotracheal. Bidan harus memantau saturasi oksigen menggunakan pulse oxymeter. Pemberian oksigen harus diatur secara hati-hati (sangat disarankan menggunakan blended oxygen) untuk mencegah retinopati prematuritas yang merupakan risiko besar pada BBLR. Evaluasi dilakukan setiap 1-2 jam atau sesuai kebutuhan.
Bayi BBLR memiliki luas permukaan tubuh yang relatif besar dibandingkan berat badannya dan sedikit lemak coklat, sehingga sangat cepat kehilangan panas. Bidan harus menempatkan bayi di dalam incubator (inkubator) atau radiant warmer dengan suhu yang disesuaikan dengan berat dan usia kehamilan bayi. Kelembaban incubator juga perlu diatur, terutama untuk bayi sangat berat lahir rendah (VBBLR), mencegah kehilangan cairan melalui kulit dan transpirasi. Suhu tubuh bayi harus dipantau setiap jam untuk menjaga agar tetap dalam rentang normal (36,5C - 37,5C).
Asfiksia sering kali menyebabkan bayi lemah dan mengalami kelambatan reflex hisap serta menelan. Hal ini menyulitkan pemberian ASI langsung. Dalam fase akut, mungkin diperlukan pemberian nutrisi parenteral (cairan infus) untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan glukosa darah. Setelah kondisi stabil, pemberian selang nasogastrik (NGT) dapat dilakukan untuk memberikan ASI perahan. Bidan berperan dalam membantu ibu memerah ASI dan memantau toleransi pemberian susu (tanda-tanda residual vomiting atau distensi abdomen) untuk mencegah nekrotizing enterocolitis (NEC).
Ruang perinatalogi adalah area dengan risiko infeksi nosokomial tinggi. Bayi BBLR memiliki imunitas pasif yang rendah. Bidan harus menerapkan prinsip sterilitas tinggi. Tindakan mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi adalah kunci utama. Menggunakan instrumen steril, membatasi pengunjung, dan menjaga kebersihan lingkungan incubator harus dilakukan secara ketat. Penggunaan antibiotik profilaksis atau terapeutik diberikan sesuai perintah dokter berdasarkan hasil Kultur atau tanda-tanda infeksi klinis.
Metode Kanguru (Kangaroo Mother Care - KMC) adalah intervensi penting untuk BBLR. Namun, pada bayi dengan asfiksia berat yang masih membutuhkan bantuan napas atau infus, KMC baru bisa dimulai setelah kondisi bayi stabil (frekuensi napas teratur, sianosis hilang). Bidan harus mendidik orang tua tentang cara melakukan KMC yang benar untuk meningkatkan suhu tubuh bayi, mempromosikan ikatan ibu-bayi (bonding), dan meningkatkan produksi ASI.
Evaluasi asuhan kebidanan harus dilakukan secara berkala untuk melihat efektivitas tindakan yang telah diberikan. Kriteria evaluasi meliputi:
Asuhan kebidanan pada Bayi Berat Lahir Rendah dengan asfiksia di ruang perinatalogi merupakan prosedur kompleks yang membutuhkan keterampilan klinis tinggi dan ketelitian. Penanganan yang tidak optimal dapat berujung pada komplikasi jangka panjang seperti cerebral palsy, gangguan kognitif, atau kematian. Kemitraan antara bidan, dokter spesialis anak, dan peran aktif orang tua sangat menentukan keberhasilan tumbuh kembang bayi. Melalui manajemen oksigenasi yang tepat, pemeliharaan suhu yang konsisten, pencegahan infeksi yang ketat, serta dukungan nutrisi yang adekuat, harapan untuk kesembuhan dan kualitas hidup bayi dapat ditingkatkan secara signifikan.
