Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab utama kematian di Indonesia maupun di seluruh dunia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, penyakit jantung dan pembuluh darah menyumbang 17,6% dari seluruh kematian di Indonesia. PJK terjadi ketika pembuluh darah koroner yang bertugas memasok darah menuju otot jantung menyempit atau tersumbat karena penumpukan plak kolesterol.
Mahasiswa sebagai generasi muda intelektual seharusnya memiliki pengetahuan yang baik mengenai penyakit jantung koroner, mengingat mereka berada pada masa transisi menuju produktivitas penuh. Pengetahuan yang cukup tentang penyakit ini tidak hanya penting untuk kesehatan diri sendiri, tetapi juga merupakan modal penting untuk menyebarkan informasi kesehatan yang benar kepada masyarakat luas di masa depan.
Mahasiswa angkatan 2020 adalah generasi yang unik karena mereka bersekolah di perguruan tinggi selama masa pandemi COVID-19, yang mungkin mempengaruhi gaya hidup dan akses informasi kesehatan mereka. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis tingkat pengetahuan mereka tentang penyakit jantung koroner.
Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional untuk mengukur tingkat pengetahuan mahasiswa angkatan 2020 tentang penyakit jantung koroner. Sampel penelitian berjumlah 450 mahasiswa angkatan 2020 dari berbagai program studi di universitas negeri dan swasta di Indonesia.
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik stratified random sampling berdasarkan bidang ilmu (kesehatan, sains dan teknologi, sosial dan humaniora, serta ekonomi). Instrumen penelitian berupa kuesioner online yang telah divalidasi oleh ahli kardiologi, dengan tingkat reliabilitas Cronbach's alpha sebesar 0,82.
Kuesioner mencakup enam domain pengetahuan: definisi dan patofisiologi PJK, faktor risiko, gejala klinis, pencegahan, penanganan awal, dan pengobatan. Tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi tiga level: baik (skor >80%), cukup (skor 60-80%), dan kurang (skor <60%). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji statistik inferensial untuk melihat hubungan antar variabel.
Sebanyak 450 responden berhasil mengisi kuesioner secara lengkap. Dilihat dari jenis kelamin, 53% responden adalah perempuan dan 47% laki-laki dengan rentang usia 20-22 tahun. Dilihat dari faktor risiko individu, 15% responden merokok, 12% memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga, 8% memiliki riwayat diabetes melitus dalam keluarga, dan 10% memiliki riwayat penyakit jantung koroner dalam keluarga.
Berdasarkan indeks massa tubuh (IMT), 15% responden tergolong obesitas, 20% kelebihan berat badan, 60% berat badan normal, dan 5% kekurangan berat badan. Dilihat dari aktivitas fisik, hanya 35% responden yang berolahraga secara teratur (3-5 kali seminggu), sementara 40% berolahraga kadang-kadang (1-2 kali seminggu), dan 25% jarang atau tidak pernah berolahraga.
Secara keseluruhan, tingkat pengetahuan mahasiswa angkatan 2020 tentang penyakit jantung koroner menunjukkan hasil yang cukup beragam. Sebanyak 32% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 48% kategori cukup, dan 20% kategori kurang. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki pengetahuan dasar yang cukup tentang PJK, namun masih terdapat sebagian yang perlu meningkatkan pemahamannya.
Analisis perbandingan antar bidang ilmu menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05). Mahasiswa dari bidang kesehatan memiliki tingkat pengetahuan terbaik dengan 55% berada pada kategori baik, diikuti bidang sains dan teknologi (28% kategori baik), sosial humaniora (25% kategori baik), dan ekonomi (20% kategori baik).
Sebanyak 75% responden dapat mendefinisikan penyakit jantung koroner dengan benar sebagai penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner. Namun, hanya 45% yang memahami patofisiologi terjadinya aterosklerosis (penumpukan plak kolesterol di dinding pembuluh darah). Lebih menarik lagi, hanya 30% responden yang mengetahui bahwa PJK dapat berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas.
Dalam aspek pengetahuan tentang faktor risiko PJK, 85% responden mengidentifikasi merokok sebagai faktor risiko utama, 78% menyebutkan kolesterol tinggi, 72% menyebutkan hipertensi, 65% menyebutkan diabetes, dan 60% menyebutkan obesitas. Namun, hanya 45% yang menyebutkan stres sebagai faktor risiko, 40% yang menyebutkan konsumsi alkohol, dan 35% yang menyebutkan riwayat keluarga sebagai faktor risiko penting.
Secara umum, 72% responden dapat mengidentifikasi gejala klasik PJK seperti nyeri dada (angina pectoris), sesak napas, dan kelelahan ekstrem. Namun, hanya 38% yang mengetahui gejala atipikal seperti mual, muntah, nyeri di rahang atau leher, dan keringat berlebih yang lebih sering terjadi pada perempuan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 25% responden yang menyadari bahwa serangan jantung bisa terjadi tanpa gejala apa pun (silent heart attack).
Sebanyak 80% responden memahami pentingnya pola makan sehat rendah lemak jenuh dan kolesterol sebagai upaya pencegahan PJK. Selain itu, 75% mengetahui pentingnya aktivitas fisik teratur, 70% menyadari risiko merokok, dan 65% memahami pentingnya pengendalian berat badan. Namun, hanya 40% yang mengetahui tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin untuk deteksi dini faktor risiko, dan hanya 35% yang paham tentang pentingnya pengelolaan stres dalam pencegahan PJK.
Hanya 40% responden yang mengetahui langkah pertama yang harus dilakukan saat seseorang mengalami serangan jantung (memanggil bantuan medis secara segera). Persentase bahkan lebih rendah untuk pengetahuan tentang pemberian obat saat serangan jantung, di mana hanya 25% yang mengetahui bahwa aspirin dapat diberikan segera setelah gejala muncul. Lebih mengecewakan lagi, hanya 15% responden yang mengetahui teknik dasar CPR (cardiopulmonary resuscitation) dan cara penggunaan AED (automated external defibrillator).
Analisis statistik menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengetahuan PJK (p<0,01). Mahasiswa dari bidang kesehatan memiliki skor pengetahuan rata-rata 78,5, diikuti bidang sains dan teknologi (68,2), sosial humaniora (65,7), dan ekonomi (63,4). Hal ini menunjukkan pendidikan formal berkontribusi penting dalam membentuk pengetahuan kesehatan.
Mahasiswa yang secara aktif mencari informasi kesehatan dari berbagai sumber menunjukkan tingkat pengetahuan PJK yang lebih tinggi. Sumber informasi yang paling berpengaruh adalah internet dan media sosial (korelasi 0,62 diikuti oleh pendidikan akademik (korelasi 0,45), dan kampanye kesehatan di kampus (korelasi 0,38). Mahasiswa yang mengakses informasi dari sumber kredibel (website medis, jurnal ilmiah) memiliki tingkat pengetahuan lebih tinggi dibandingkan yang hanya mengandalkan media sosial umum.
Mahasiswa yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit jantung koroner memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (rata-rata skor 73,2) dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut (rata-rata skor 62,8). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pengalaman langsung dan motivasi yang lebih tinggi untuk mencari informasi terkait kesehatan jantung.
Terdapat hubungan positif yang signifikan antara praktik gaya hidup sehat dan tingkat pengetahuan PJK (p<0,05). Responden yang secara rutin berolahraga, menjaga pola makan sehat, tidak merokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang PJK dibandingkan mereka dengan gaya hidup kurang sehat.
Sebagai mahasiswa angkatan 2020 yang menjalani pendidikan tinggi di masa pandemi, 62% responden melaporkan peningkatan minat terhadap informasi kesehatan. Mereka yang lebih terpapar informasi kesehatan selama pandemi menunjukkan pengetahuan yang lebih baik tentang PJK, terutama dalam aspek pencegahan dan kesehatan umum.
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa kesenjangan pengetahuan yang perlu diperhatikan. Pertama, terdapat kesenjangan yang signifikan antar bidang studi, menunjukkan bahwa pengetahuan kesehatan belum tersebar merata di seluruh populasi mahasiswa.
Kedua, walaupun tingkat pengetahuan tentang faktor risiko utama cukup tinggi, pengetahuan tentang faktor risiko psikososial seperti st masih rendah. Ketiga, terdapat kesenjangan pengetahuan tentang gejala atipikal PJK yang sering terjadi pada perempuan, yang dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan.
Keempat, pengetahuan tentang penanganan awal PJK, terutama CPR, sangat rendah di antara mahasiswa angkatan 2020. Hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat penanganan yang cepat dan tepat pada saat serangan jantung dapat menentukan kelangsungan hidup pasien.
Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa rekomendasi dapat diajukan untuk meningkatkan tingkat pengetahuan mahasiswa tentang penyakit jantung koroner:
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa angkatan 2020 tentang penyakit jantung koroner berada pada level yang cukup, dengan 80% responden berada pada kategori pengetahuan baik dan cukup. Namun, masih terdapat kekosongan pengetahuan dalam beberapa aspek penting seperti gejala atipikal, penanganan awal, dan faktor risiko psikososial.
Latar belakang pendidikan, sumber informasi, riwayat keluarga, gaya hidup pribadi, dan pengalaman selama pandemi COVID-19 terbukti mempengaruhi tingkat pengetahuan mahasiswa tentang PJK. Perbedaan signifikan antar bidang studi menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif dalam pendidikan kesehatan di perguruan tinggi.
Mengingat pentingnya pengetahuan tentang penyakit jantung koroner dalam mencegah morbiditas dan mortalitas akibat penyakit ini, upaya sistematis untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mahasiswa menjadi sangat urgent. Mahasiswa sebagai generasi intelektual masa depan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan untuk mengedukasi masyarakat luas tentang kesehatan jantung, menjadikan penguatan pengetahuan mereka di bidang ini sebagai investasi yang berharga untuk kesehatan bangsa Indonesia.
