Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki mekanisme reaksi antara senyawa PRIMA-1 (p53 Reactivation and Induction of Massive Apoptosis-1) dan turunannya, khususnya APR-246, dengan N-asetil sistein (NAC) menggunakan pendekatan mekanika kuantum. PRIMA-1 dikenal sebagai obat kandidat yang berfungsi merestorasi fungsi protein penekan tumor p53 mutan. Dalam tubuh, PRIMA-1 terproses menjadi metabolit aktif, methylene quinuclidinone (MQ), yang bereaksi dengan residu sistein pada protein. NAC digunakan dalam studi ini sebagai model biologis tiol. Perhitungan mekanika kuantum menggunakan Teori Fungsi Kerapatan (DFT) dilakukan untuk menganalisis jalur reaksi, energi aktivasi, dan stabilitas struktur produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi berlangsung melalui mekanisme adisi-Michael dengan energi aktivasi yang terjangkau secara biologis, memfasilitasi pembentukan kovalen antara MQ dan gugus tiol NAC.
Kata kunci: Mekanika Kuantum, DFT, PRIMA-1, APR-246, N-asetil Sistein, Adisi Michael, Kanker.
Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, yang sering kali berkaitan dengan disfungsi protein penekan tumor p53. Sekitar 50% dari semua kanker manusia memiliki mutasi pada gen TP53. Mutasi ini menyebabkan kehilangan fungsi p53 dalam mengontrol siklus sel, reparasi DNA, dan apoptosis. Dalam dekade terakhir, pengembangan senyawa yang mampu merestorasi fungsi p53 mutan telah menjadi fokus utama dalam penelitian onkologi.
PRIMA-1 (p53 Reactivation and Induction of Massive Apoptosis-1) dan turunan metilernya, APR-246 (Eprenetapopt), adalah molekul kecil yang telah menunjukkan potensi klinis dalam mengembalikan fungsi transkripsional p53 mutan. Mekanisme aksi PRIMA-1 melibatkan konversi *in vivo* menjadi senyawa methylene quinuclidinone (MQ). MQ adalah sebuah elektrofil kuat yang mampu berikatan kovalen dengan residu sistein pada protein, khususnya pada domain inti p53 mutan. Interaksi ini memicu perubahan konformasi protein dan mengembalikan aktivitas tumor-suppressornya.
Untuk memahami detail molekuler dari interaksi ini, penelitian menggunakan model kimia sederhana seperti N-asetil sistein (NAC). NAC adalah analog asam amino sistein dengan gugus tiol reaktif yang kerap digunakan untuk mensimulasikan interaksi obat dengan protein. Pendekatan mekanika kuantum, khususnya melalui komputasi *ab initio*, diperlukan untuk memetakan jalur reaksi karena memberikan presisi tingkat atom terkait perubahan energi, struktur elektron, dan dinamika pembentukan ikatan yang sulit diamati secara eksperimental langsung.
Studi ini menggunakan metode Teori Fungsi Kerapatan (Density Functional Theory - DFT), sebuah metode standar dalam kimia komputasi untuk memodelkan struktur elektron atom dan molekul. DFT dipilih karena keseimbangannya yang optimal antara akurasi dan biaya komputasi, terutama untuk sistem organik berukuran sedang seperti MQ dan NAC.
Perhitungan dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
Hasil optimasi geometri menunjukkan bahwa metabolit MQ memiliki struktur yang sangat reaktif. Cincin quinuclidinone menyediakan kerangka kaku, sementara gugus metilena (=CH2) yang terkonjugasi dengan karbonil bertindak sebagai pusat elektrofilik kuat. Analisis frontier molekular orbital (FMO) menunjukkan bahwa orbital LUMO (Lowest Unoccupied Molecular Orbital) MQ terlokalisasi di wilayah ini, menunjukkan kemudahan senyawa menerima pasangan elektron dari nukleofil.
NAC bertindak sebagai nukleofil dengan atom belerang (S) pada gugus tiol sebagai donor elektron. Energi orbital HOMO (Highest Occupied Molecular Orbital) NAC relatif tinggi, sehingga interaksi dengan LUMO MQ secara termodinamika menguntungkan.
Reaksi antara MQ dan NAC diprediksi berlangsung melalui mekanisme adisi-Michael. Dalam jalur ini, atom belerang dari gugus tiol NAC menyerang atom karbon beta (karbon metilena) MQ secara serentak dengan perpindahan prot (proton transfer) ke oksigen karbonil. Mekanisme ini bersifat konsertered, di mana pembentukan ikatan C-S dan pemutusan ikatan S-H terjadi dalam satu langkah reaksi tunggal melalui suatu keadaan transisi yang terorganisir dengan baik.
Berdasarkan perhitungan entalpi dan energi Gibbs bebas, reaksi ini bersifat eksotergik. Artinya, energi produk adisi lebih rendah daripada energi reaktan murninya. Hal ini menunjukkan bahwa kompleks MQ-NAC terbentuk secara stabil secara termodinamika.
Energi aktivasi (Ea) yang diperlukan untuk mencapai keadaan transisi berada dalam rentang yang dapat ditempuh pada suhu fisiologis tubuh manusii. Tingkat energi aktivasi yang relatif rendah ini mengkonfirmasi mengapa PRIMA-1 dan APR-246 sangat reaktif *in vivo* dan mampu mengmodifikasi protein target dengan cepat sebelum dideteksi atau dimetabolisme oleh enzim lain.
APR-246 adalah prodrug yang dihasilkan dari modifikasi struktur PRIMA-1. Secara struktural, APR-246 memiliki gugus tambahan yang meningkatkan kemampuannya untuk menembus membran sel. Namun, setelah metabolisme intraseluler, senyawa ini juga menghasilkan MQ sebagai spesies elektrofil aktif. Oleh karena itu, hasil studi mekanika kuantum pada reaksi MQ-NAC dapat secara langsung diterapkan untuk memahami aktivitas APR-246. Studi ini menegaskan bahwa kunci aktivitas biologis dari kedua senyawa ini terletak pada kemampuan metabolit MQ-nya menjalani reaksi kovalen dengan tiol.
Studi mekanika kuantum yang dilakukan terhadap reaksi PRIMA-1 (melalui metabolit aktifnya MQ) dengan N-asetil sistein telah memberikan pemahaman mendalam mengenai dasar molekuler dari mekanisme obat ini. Simulasi DFT dengan fungsional B3LYP/6-31G(d) mengonfirmasi bahwa jalur utama reaksi adalah adisi-Michael yang bergantung pada atom belerang tiol.
Profil energi reaksi yang diperoleh menunjukkan bahwa proses ini terjadi spontan dan stabil dalam fase air, menjelaskan efikasi PRIMA-1 dalam mengikat residu sistein pada protein p53 mutan. Pemahaman ini sangat penting untuk pengembangan obat kanker generasi berikutnya yang menargetkan p53, karena memberikan panduan struktural untuk merancang molekul yang lebih selektif dan efisien dalam memodifikasi tiol target. Selain itu, studi ini juga menggarisbawahi pentingnya NAC sebagai model *in vitro* untuk menyaring kandidat obat elektrofil sebelum dilakukan pengujian biologi yang lebih kompleks.
