Definisi
STEMI (STsegment Elevation Myocardial Infarction) adalah infark miokard yang ditandai dengan elevasi kontinu pada segmen ST pada elektrokardiogram (EKG). Pada anteroseptal, daerah yang terlibat meliputi dinding depan (anterial) dan septum interventrikular, biasanya disebabkan oleh oklusi total arteri koroner kiri depan (LAD).
Epidemiologi
Di Indonesia, STEMI menyumbang sekitar 3035% dari semua kejadian infark miokard. Dari total kasus STEMI, kurang lebih 4045% berlokasi pada segmen anteroseptal, menjadikannya kontributor utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular.
Patofisiologi
Oklusi total atau hampir total pada arteri koroner utama (umumnya LAD) menghentikan aliran darah ke otot jantung. Sel-sel miokard yang kehilangan oksigen mengalami necrosis dalam hitungan menit, memberi gambaran gelombang kematian yang menyebar secara lateral ke jaringan sekitarnya. Akumulasi produk metabolik (laktat, ion K+) mengubah potensial membran sel sehingga memunculkan elevasi segmen ST yang khas pada EKG.
Gejala Klinis
- Nyeri dada khas, menekan atau terbakar, biasanya terpusat di daerah mediastinum, dapat menyebar ke lengan kiri, rahang, atau punggung.
- Dyspnea atau sesak napas, terutama jika infark meluas ke ventrikel kiri.
- Mual, muntah, atau keringat dingin (sweating).
- Palpitasi atau sensasi detak jantung tidak teratur.
- Gejala pada wanita dapat lebih atipikal, seperti nyeri punggung, kelelahan berlebih, atau rasa tidak nyaman umum.
Diagnostik
1. Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiogram harus dilakukan dalam 10menit pertama setelah kedatangan pasien. Kriteria STEMI pada wilayah anteroseptal meliputi:
- Elevasi segmen ST 0,2mV (2mm) pada lead V1V4.
- Reciprocal changes (depresi ST) pada lead inferior (II, III, aVF) dapat menguatkan diagnosis.
- Qwave baru atau progresif pada lead anteroseptal menandakan infark lama.
2. Biomarker
Troponin I/T atau CKMB meningkat dalam 36jam setelah iskemia, mengkonfirmasi kerusakan miokard. Pada STEMI, peningkatan biomarker biasanya jauh melebihi batas normal (510 kali).
3. Pemeriksaan Penunjang Lain
- Echocardiography menilai fungsi sistolik, daerah hipokinesia, dan komplikasi seperti aneurisma atau regurgitasi mitral.
- Coronary angiography gold standard untuk visualisasi arteri yang oklusif dan merupakan dasar terapi reperfusi mekanik.
Penanganan Akut
Strategi utama adalah reperfusi secepatnya, mengembalikan aliran darah ke wilayah yang terinfark untuk menyelamatkan miokard yang masih hidup.
1. Terapi Reperfusi Mekanik (PCI)
Primary PCI (pPCI) adalah pilihan paling efektif bila dapat dilakukan dalam 90menit sejak onset gejala. Prosedur meliputi:
- Predilatasi dengan balon, stent (drugeluting atau baremetal) pemasangan.
- Penggunaan antiplatelet agents (aspirin + P2Y12 inhibitor) dan antikoagulan (heparin atau bivalirudin).
- Jika terdapat komplikasi (perforasi, diseksi), penanganan khusus dapat diperlukan.
2. Terapi Trombolitik
Jika pPCI tidak tersedia dalam jangka waktu yang dapat diterima, trombolisis dengan agen fibrinolitik (alteplase, reteplase, atau tenecteplase) menjadi alternatif. Indikasi khusus meliputi:
- Onset gejala <12jam.
- Absennya kontraindikasi absolut (misalnya, perdarahan aktif, stroke hemoragik terbaru).
3. Terapi Medis Pendukung
- Aspirin 150325mg chews loading dose, selanjutnya 75100mg per hari.
- P2Y12 inhibitor (clopidogrel 300mg loading, prasugrel atau ticagrelor bila tidak kontraindikasi).
- Antikoagulan (unfractionated heparin atau lowmolecularweight heparin).
- Betablocker bila tidak ada kontraindikasi (bradikardia, blok AV IIIII, shock).
- Statin dosis tinggi (atorvastatin 80mg) pada saat masuk rumah sakit.
- Nitrat untuk mengurangi beban kerja jantung, kecuali bila tekanan darah sangat rendah.
- Oksigen bila saturasi <90%.
Manajemen PascaAcute
Setelah reperfusi, tujuan utama adalah mengoptimalkan pemulihan fungsi jantung dan mencegah komplikasi.
- Rehabilitasi kardial program latihan terstruktur, edukasi gaya hidup, dan kontrol faktor risiko.
- Kontrol faktor risiko:
- Hipertensi: target <130/80mmHg.
- Diabetes: HbA1c <7%.
- Dyslipidemia: LDLC <70mg/dL (atau <55mg/dL pada risiko sangat tinggi).
- Merokok: penghentian total, dukungan konseling atau nikotin replacement.
- Pengobatan jangka panjang:
- ASA + P2Y12 inhibitor (dual antiplatelet therapy) selama minimal 12bulan.
- Betablocker, ACEI/ARB, dan statin dosis tinggi.
- Monitoring echocardiography kontrol pada 46minggu untuk menilai ejection fraction (EF) dan mendeteksi komplikasi seperti aneurisma atau disfungsi diastolik.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
- Cardiogenic shock kegagalan pompa jantung, memerlukan dukungan inotropik atau mesin bantuan (IABP, Impella, ECMO).
- Arrhythmia takikardia ventrikuler, fibrilasi ventrikuler, atau blok AV tinggi.
- Perikarditis postMI nyeri dada yang muncul 24hari setelah infark, biasanya bersifat autolimit.
- Aneurisma ventrikel kiri lebih jarang pada anteroseptal, tetapi risiko tetap ada terutama pada kawasan necrosis luas.
- Ruptur miokardial kejadian fatal yang sering terjadi dalam 37hari pertama, ditandai dengan hipotensi drastis dan murmur baru.
Prognosis
Prognosis tergantung pada kecepatan reperfusi, ukuran infark, dan kondisi komorbiditas pasien. Pada STEMI anteroseptal dengan pPCI dalam <90menit, angka mortalitas inhospital berada di kisaran 57%. Faktorfaktor yang memperburuk prognosis meliputi:
- Waktu penanganan >120menit.
- EF <35% pada discharge.
- Kehadiran shock, diabetes, atau penyakit ginjal kronis.
Dengan terapi optimal, banyak pasien dapat kembali beraktivitas normal dalam 612bulan, meskipun tetap memerlukan pemantauan jangka panjang.
Pencegahan Primer & Sekunder
Pencegahan utama meliputi perubahan gaya hidup dan kontrol faktor risiko:
- Diet pola Mediterranean atau DASH, rendah lemak jenuh, tinggi serat, buah, dan sayuran.
- Olahraga minimal 150menit aktivitas aerobik sedang per minggu.
- Berat badan ideal indeks massa tubuh (BMI) 18,524,9kg/m.
- Pengendalian tekanan darah melalui diet, aktivitas, dan bila perlu obat.
- Penghentian merokok dengan bantuan konseling, terapi pengganti nikotin, atau obat (bupropion, varenicline).
- Screening dan manajemen dyslipidemia statin bila diperlukan.
Referensi Utama
- American College of Cardiology (ACC) & American Heart Association (AHA) Guideline 2023 Management of STEMI.
- European Society of Cardiology (ESC) Guidelines on Acute Cardiovascular Care 2022.
- Jurnal Jantung Indonesia, Vol. 28, No. 3, 2023 STEMI Anteroseptal: Clinical Outcomes in Indonesian Population.
