Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan kumpulan kondisi klinis yang muncul akibat gangguan aliran darah koroner yang tibatiba, menyebabkan iskemia miokardial. SKA termasuk dalam spektrum penyakit jantung koroner, di mana penghalang utama adalah terbentuknya plak aterosklerotik yang dapat pecah atau menimbulkan trombus, sehingga mengurangi atau menghentikan suplai oksigen ke otot jantung.
Klasifikasi SKA
Menurut pedoman internasional, SKA dibagi menjadi tiga kategori utama:
Infark Miokard Akut (IMA) dengan elevasi segmen ST (STEMI) terjadi ketika ada total blokade pada arteri koroner utama, ditandai dengan elevasi segmen ST pada elektrokardiogram (EKG).
Infark Miokard Akut tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI) blokade parsial atau transient, dengan perubahan pada enzyme jantung tetapi tanpa elevasi ST pada EKG.
Angina Tidak Stabil (ANS) nyeri dada baru atau memburuk dalam 12 minggu terakhir, tanpa bukti infark pada enzyme, tapi dengan perubahan pada EKG atau risiko tinggi.
Patofisiologi
Proses utama yang memicu SKA meliputi:
Pecahnya plak aterosklerotik, memunculkan permukaan trombogeni.
Formasi trombus yang menutupi lumens arteri, menyebabkan iskemia.
Spasme arteri koroner yang dapat memperburuk aliran darah.
Reaksi inflamasi yang meningkatkan kerusakan miokard.
Setiap menit penundaan reperfusi dapat menambah ukuran infark sebesar 12% per menit, sehingga penanganan cepat sangat krusial.
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya SKA antara lain:
Merokok
Hipertensi
Diabetes melitus
Kadar kolesterol LDL tinggi dan HDL rendah
Obesitas, khususnya lemak perut
Riwayat keluarga dengan penyakit jantung dini
Kurang aktivitas fisik
Stres psikologis dan faktor sosialekonomi
Gejala Klinis
Gejala SKA dapat bervariasi, tetapi umumnya meliputi:
Nyeri dada yang terasa menekan, tersengal, atau terbakar, biasanya di tengah atau kiri dada.
Nyeri dapat menyebar ke lengan kiri, rahang, belakang, atau punggung.
Sesak napas, mual, muntah, atau keringat dingin.
Gejala dapat muncul tanpa nyeri pada wanita, lansia, atau penderita diabetes (angina diam).
Diagnosa
Pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis SKA meliputi:
Elektrokardiogram (EKG) deteksi perubahan segmen ST, inversi gelombang T, atau gelombang Q.
Biomarker jantung troponin I/T, CKMB, dan myoglobin untuk menilai kerusakan miokard.
Tes darah rutin untuk mengevaluasi fungsi ginjal, gula darah, dan profil lipid.
Imaging echocardiography, angiografi koroner (koronerografi), CT angiography, atau MRI bila diperlukan.
Skor risiko seperti TIMI atau GRACE sering dipakai untuk menilai tingkat keparahan dan memandu keputusan terapi.
Penanganan
Penanganan SKA harus dimulai secepat mungkin dan mencakup tiga fase utama:
1. Terapi Awal (Initial Therapy)
Oxigen 24L/menit jika saturasi < 94%.
Nitrogliserin sublingual atau IV (jika tidak kontraindikasi) untuk mengurangi beban kerja jantung.
Aspirin (162325mg) sekali duduk.
P2Y12 inhibitor (clopidogrel 300mg, prasugrel, atau ticagrelor) bila tidak kontraindikasi.
Antikoagulan (heparin unfractionated atau enoxaparin) sesuai protokol.
Morphine bila nyeri tidak terkontrol, dengan pemantauan pernapasan.
2. Reperfusi
Strategi reperfusi tergantung pada kategori SKA:
STEMI PCI primer (percutaneous coronary intervention) dalam 90menit atau fibrinolisis bila PCI tidak tersedia.
NSTEMI/ANS PCI invasif pada 2472jam setelah stabilisasi, atau terapi medis konservatif bila risiko operasi tinggi.
3. Terapi Lanjutan (Secondary Prevention)
Betablocker untuk menurunkan denyut jantung dan tekanan darah.
ACE inhibitor atau ARB untuk melindungi fungsi ventrikel.
Statin dosis tinggi (atorvastatin 4080mg) untuk menurunkan LDL < 70mg/dL.
Pengendalian faktor risiko: berhenti merokok, diet rendah lemak jenuh, latihan fisik rutin (150menit/week).
Pencegahan Primer dan Sekunder
Pencegahan SKA melibatkan perubahan gaya hidup dan intervensi medis:
Pola makan Diet Mediterania, kaya serat, buah, sayur, ikan, dan lemak tak jenuh.
Olahraga Aktivitas aerobik moderat 30menit per hari, 5 hari seminggu.
Berhenti merokok Konseling, terapi penggantian nikotin, atau obat (bupropion, varenicline).
Kontrol tekanan darah Target < 130/80mmHg pada kebanyakan pasien.
Manajemen diabetes HbA1c < 7% sebagai tujuan umum.
Pemantauan rutin Pemeriksaan kolesterol, fungsi ginjal, dan evaluasi risiko secara periodik.
Kesimpulan
Sindrom Koroner Akut adalah keadaan darurat kardiovaskular yang menuntut penanganan cepat, tepat, dan terkoordinasi. Memahami klasifikasi, faktor risiko, gejala, serta prosedur diagnostik memberikan landasan bagi tindakan klinis yang efektif. Terapi reperfusi, kombinasi obat antiplatelet, antikoagulan, serta strategi pencegahan sekunder dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas secara signifikan. Edukasi publik dan penatalaksanaan faktor risiko tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi beban SKA di masyarakat.
Sumber: Pedoman ESC 2023, AHA/ACC 2022, dan literatur kardiologi Indonesia.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.