Panduan strategis Indonesia periode tahun 20152019 untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) melalui pencegahan dan penanganan komprehensif. Penyakit Tidak Menular (PTM) telah menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang paling dominan di Indonesia dan dunia. Data menunjukkan bahwa PTM menyumbang proporsi kematian terbesar secara nasional. Penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes melitus, dan penyakit paru kronis kini menjadi penyebab utama kematian dini sebelum usia 70 tahun. Merespons tingginya beban penyakit ini, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (RAN PTM) untuk periode 20152019. Dokumen ini diturunkan dari Strategi Nasional Penanggulangan PTM (Stranas PTM) dan bertujuan untuk memberikan arah yang jelas bagi seluruh sektor, bukan hanya sektor kesehatan, tetapi juga sektor terkait lainnya untuk bersinergi dalam pencegahan dan pengendalian PTM. RAN PTM 20152019 dirancang untuk mencapai target global yaitu mengurangi angka kematian dini akibat PTM sebesar 25% pada tahun 2025. Fokus utamanya adalah promosi kesehatan untuk mencegah munculnya faktor risiko, deteksi dini bagi mereka yang berisiko, serta pengelolaan kasus yang berkualitas untuk mencegah komplikasi dan kematian. Pilar ini berfokus pada upaya mencegah masyarakat agar tidak terkena faktor risiko PTM. Langkahnya mencakup advokasi kebijakan pendukung, seperti Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pajak cukai rokok, pengaturan promosi makanan/minuman tidak sehat kepada anak, serta kampanye hidup aktif. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat menjadi kunci dalam pilar pertama ini. Pilar ini menekankan pentingnya menemukan penderita PTM sedini mungkin sebelum timbul komplikasi serius. Strateginya meliputi pemeriksaan kesehatan rutin, seperti pengukuran tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan penyaringan kanker. Layanan ini diintegrasikan ke dalam Pelayanan Kesehatan Pedesaan (Puskesmas) dan posyandu lansia agar mudah diakses oleh masyarakat luas. Bagi masyarakat yang telah terdiagnosis PTM, pilar ini memastikan mereka mendapatkan pengobatan yang tepat, berkualitas, dan terjangkau standar. Penatalaksanaan berpedoman pada pedoman klinis nasional (Clinical Pathway) untuk memastikan keseragaman standar pelayanan di seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit. Termasuk di dalamnya adalah pencegahan komplikasi dan rehabilitasi. Pilar pendukung ini berfungsi untuk memantau tren penyakit dan faktor risiko di masyarakat melalui sistem surveilans yang akurat. Data yang dikumpulkan, seperti melalui STEPS (Surveilans Faktor Risiko PTM), digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan program RAN PTM dan menjadi dasar pembuatan kebijakan di masa depan. Sistem pelaporan nasional yang terintegrasi menjadi tulang punggung pilar ini. Penyakit kardiovaskular menjadi pembunuh nomor satu. Upaya pencegahan difokuskan pada pengendalian hipertensi dan kadar kolesterol darah. Fokus pada pengendalian gula darah untuk mencegah komplikasi seperti kebutaan, gagal ginjal, dan luka diabetes yang sulit sembuh. Diutamakan kanker serviks dan payudara melalui skrining IVA dan SADANIS, serta peningkatan akses terapi kanker standar. Utamanya Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan asma, dengan intervensi utama pada pengurangan paparan asap rokok dan polusi udara. Rencana aksi ini mengakui bahwa PTM sebagian besar dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko perilaku umum. RAN PTM 2015-2019 menargetkan pengurangan prevalensi empat faktor risiko utama: Penggunaan tembakau adalah faktor risiko paling signifikan untuk berbagai PTM. Strategi pengendalian mencakup implementasi Kawasan Tanpa Rokok yang ketat, penerapan kewajiban mencantumkan peringatan kesehatan bergambar (pictorial health warning), dan peningkatan cukai hasil tembakau untuk menurunkan daya beli rokok, terutama di kalangan anak muda. Gaya hidup sedenter berkaitan erat dengan obesitas dan penyakit metabolik. Rencana aksi mendorong penciptaan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik, seperti jalur sepeda, taman kota, serta program senam massal dan integrasi aktivitas fisik di sekolah dan tempat kerja. Pola makan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh menjadi pemicu hipertensi dan diabetes. Intervensi meliputi edukasi gizi seimbang, promosi pengurangan konsumsi garam di level rumah tangga dan industri, serta regulasi pemasaran makanan/minuman tinggi gula, garam, dan lemak kepada anak-anak. Konsumsi alkohol berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis dan kecelakaan. Pengendalian difokuskan melalui regulasi peredaran minuman beralkohol, pembatasan jam operasional penjualan, dan kampanye edukasi tentang bahaya kesehatan akibat konsumsi alkohol. Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (RAN PTM) 20152019 bukan hanya dokumen rencana tertulis, melainkan komitmen serius bangsa Indonesia untuk menyelamatkan generasi mendatang dari belitan penyakit kronis. Beban ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh PTM sangat besar, baik dari sisi biaya pengobatan jangka panjang maupun produktivitas kerja yang hilang. Oleh karena itu, penerapan strategi pencegahan primer melalui pengendalian faktor risiko menjadi investasi paling efisien untuk sistem kesehatan nasional. Keberhasilan implementasi RAN PTM ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektorpendidikan, industri, perdagangan, lingkungan hidup, dan lainnyaserta peran aktif masyarakat dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dengan kerja sama yang kuat dan disiplin dalam pelaksanaan, target penurunan angka kematian dini akibat PTM dapat dicapai, meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
Latar Belakang & Pentingnya RAN PTM
Empat Pilar Strategi Nasional
Promosi Kesehatan dan Pencegahan Primer
Deteksi Dini dan Penemuan Kasus
Pengelolaan Kasus berbasis Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Surveilans, Pemantauan, dan Evaluasi
Empat Penyakit Utama Prioritas
Penyakit Jantung
Diabetes Melitus
Kanker
Penyakit Paru Kronis
Pengendalian Faktor Risiko
Rokok dan Produk Tembakau
Kurangnya Aktivitas Fisik
Konsumsi Makanan Tidak Sehat
Konsumsi Alkohol Berbahaya
Kesimpulan
