Gambaran Umum
Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri gramnegatif berbentuk batang yang bersifat aerobis, nonspora, dan tidak bergerak. Bakteri ini hidup secara ubiquitik di lingkungan, termasuk air, tanah, dan permukaan medis. Karena kemampuannya beradaptasi dengan suhu, pH, dan kadar oksigen yang beragam, P. aeruginosa dapat berkembang biak pada hampir semua media pertumbuhan, termasuk yang mengandung antibakteri. Kelebihan ini menjadikannya patogen oportunistik utama, terutama pada individu dengan sistem imun yang lemah atau yang berada di unit perawatan intensif (ICU).
Epidemiologi
Infeksi P. aeruginosa terutama terjadi pada rumah sakit. Data Global Surveillance menunjukkan bahwa bakteri ini menyumbang sekitar 1015% dari semua infeksi nosokomial, dengan prevalensi tertinggi pada:
- Infeksi saluran kemih terkait kateter.
- Ventilatorassociated pneumonia (VAP).
- Infeksi luka bakar dan luka operasi.
- Infeksi pada pasien dengan fibrosis kistik.
Di Indonesia, laporan epidemiologi menunjukkan peningkatan insiden resistensi terhadap carbapenem, khususnya pada isolat P. aeruginosa yang diambil dari darah dan sekresi napas. Faktor risiko utama meliputi penggunaan antibiotik spektrum luas, pemasangan kateter jangka panjang, dan perawatan intensif.
Patogenesis
Kemampuan patogenik P. aeruginosa didukung oleh serangkaian faktor virulensi, antara lain:
| Faktor | Peran |
|---|---|
| Ekspolin | Mengganggu membran sel inang, menyebabkan lisis sel. |
| Alginate | Membentuk biofilm tebal yang melindungi bakteri dari antibakteri dan respon imun. |
| Pyocyanin | Menimbulkan stres oksidatif pada sel inang. |
| Skala pili & flagela | Memfasilitasi adhesi ke jaringan dan mobilitas melalui permukaan basah. |
| Quorum sensing | Koordinasi ekspresi gen virulensi berdasarkan kepadatan populasi. |
Biofilm yang terbentuk umumnya menempel pada permukaan kateter, endotrakeal tube, atau implant medis lainnya. Struktur biofilm melindungi bakteri dari efek antibiotik dan memfasilitasi pertukaran gen resistensi, sehingga terapi menjadi lebih sulit.
Manifestasi Klinis
Beragam organ dapat terinfeksi, dan gejalanya sangat tergantung pada situs infeksi serta status imun pasien. Beberapa bentuk klinis yang paling umum meliputi:
- Infeksi Saluran Kemih (ISK): Gejala meliputi nyeri panggul, demam, dan urin berbau amis. Kultur urine biasanya menunjukkan pertumbuhan bakteri dalam jumlah >10CFU/mL.
- Pneumonia terkait ventilator (VAP): Demam, peningkatan sekresi napas purulen, infiltrat pada radiografi dada, serta penurunan oksigenasi.
- Sepsis dan Bacteremia: Tanda sepsis progresif, tekanan darah rendah, dan kegagalan organ multipel.
- Infeksi Luka bakar: Eksudat berwarna hijau atau biru akibat pigmentasi pyocyanin, serta nekrosis jaringan.
- Infeksi Telinga (Otitis externa): Iritasi, nyeri, dan sekresi berbau bau apel khas.
Diagnosa
Diagnosa infeksi P. aeruginosa mengandalkan kombinasi kultur mikrobiologi, pemeriksaan mikroskopik, dan metode molekuler bila diperlukan.
- Kultur: Sampel klinis (urine, sputum, darah, atau eksudat luka) diinkubasi pada media agar khusus, seperti cetrimide agar, yang menyeleksi Pseudomonas.
- Identifikasi cepat: Alat otomatis (VITEK, MALDITOF) atau tes biokimia (oxidase positif, fermentasi glukosa negatif) membantu konfirmasi spesies.
- Uji sensitivitas: Metode disk diffusion atau broth microdilution menentukan MIC terhadap antibiotik utama (piperacillintazobactam, ceftazidime, carbapenem, aminoglycoside, fluoroquinolones).
- Deteksi resistensi: PCR untuk gen karbapenemase (blaVIM, blaIMP, blaNDM) serta tes fenotipik seperti Modified Hodge Test.
Pengobatan
Pilihan antibiotik harus didasarkan pada hasil uji sensitivitas. Regimen empirik biasanya meliputi kombinasi:
- Piperacillintazobactam atau cefepime + aminoglycoside (amikacin atau tobramycin).
- Jika ada risiko karbapenemase, gunakan colistin atau polymyxin B sebagai alternatif terakhir.
Durasi terapi bervariasi, umumnya 714 hari untuk ISK, 1014 hari untuk pneumonia, dan 1421 hari untuk bacteremia. Pada kasus biofilm berat (misalnya pada kateter), penarikan atau penggantian perangkat medis sangat penting.
Terapi adjuvan seperti aerosolized antibiotics (misalnya tobramycin aerosol) dapat dipertimbangkan pada VAP berat. Monitoring kadar serum untuk aminoglycoside dan colistin diperlukan untuk menghindari nefrotoksisitas dan neurotoksisitas.
Pencegahan
Pencegahan infeksi P. aeruginosa fokus pada kontrol lingkungan dan prosedur medis yang ketat:
- Pelaksanaan kebersihan tangan yang berstandar WHO (alkohol berbasis atau sabun antiseptik).
- Penggunaan kateter, ventilator, dan alat invasif hanya bila indikasi klinis jelas, serta penggantian rutin sesuai protokol.
- Desinfeksi air dan sistem pendingin pada rumah sakit untuk mencegah kontaminasi air.
- Pengawasan mikrobiologi rutin (surveilans) untuk mendeteksi klaster resistensi.
- Edukasi staf kesehatan tentang risiko antibiotik spektrum luas dan pentingnya antibiotik stewardship.
Dengan menerapkan strategi pencegahan ini, beban infeksi P. aeruginosa dapat ditekan secara signifikan, terutama pada populasi rawan.
