Pengantar
Vaksin Bacillus Calmette-Gurin (BCG) adalah salah satu vaksin wajib dalam program imunisasi dasar di Indonesia. Vaksin ini digunakan untuk mencegah bentuk tuberkulosis (TB) yang parah, seperti tuberkulosis meningitis dan TB miliar pada anak-anak. TB miliar merupakanpenyakit infeksi yang tersebar ke seluruh tubuh, sedangkan TB meningitis adalah infeksi pada selaput otak, keduanya merupakan kondisi yang sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa bayi.
Karena pentingnya perlindungan ini, vaksin BCG dianjurkan untuk diberikan sesegera mungkin setelah kelahiran. Dokter atau tenaga kesehatan harus memahami prosedur standar pemberian vaksin ini untuk memastikan efikasinya dan meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan.
Indikasi dan Jadwal Pemberian
Vaksin BCG termasuk dalam imunisasi dasar lengkap yang diberikan pada bayi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan standar pemberian vaksin ini sebagai berikut:
- Sasaran: Bayi baru lahir (0-11 bulan).
- Waktu Pemberian: Sesaat setelah lahir (idealnya sebelum bayi pulang dari fasilitas pelayanan persalinan) atau usia 0-2 bulan. Jika bayi baru mendapatkan imunisasi setelah usia 3 bulan, biasanya akan dilakukan uji tuberkulin (Mantoux test) terlebih dahulu untuk melihat apakah bayi sudah terpapar bakteri TB.
- Dosis: 0,05 ml (segitiga kecil/kurang dari setetes air mata).
- Lokasi Suntikan: Injeksi intrakutan (ID) pada bagian lengan atas kanan atau kiri (biasanya pada insertio musculus deltoideus / regio deltoidea).
Persiapan Prosedur
A. Persiapan Alat dan Bahan
Sebelum melakukan imunisasi, pastikan alat-alat berikut telah tersedia dalam keadaan steril dan siap pakai:
- Vaksin BCG (biasanya dalam bentuk ampul dan harus direkonstitusi/dilarutkan dengan pelarut khusus).
- Sprit disposable ukuran 1 ml dengan jarum hypodermic ukuran 26 G (panjang 10-13 mm) atau tuberculin syringe.
- Kapas alkohol 70% atau antiseptik lain yang sesuai.
- Bak kontainer tempat pembuangan jarum suntik (Safety box).
- Formulir atau buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk pencatatan.
- Sarung tangan pemeriksaan.
B. Persiapan Tenaga Kesehatan dan Pemeriksaan Bayi
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau gunakan hand sanitizer.
- Kenakan sarung tangan.
- Lakukan pemeriksaan cepat untuk memastikan bayi dalam kondisi sehat.
- Kontraindikasi: Perhatikan apakah ada kontraindikasi, seperti bayi dengan berat badan lahir sangat rendah (sebaiknya ditunda sampai berat meningkat), atau bayi yang mengalami gejala penyakit akut berat (demam tinggi). Imunodefisiensi primer (misalnya gejala AIDS) juga merupakan kontraindikasi absolut untuk pemberian vaksin BCG.
- Berikan edukasi singkat kepada orang tua mengenai prosedur dan reaksi yang mungkin terjadi.
Teknik Pemberian Vaksin
Pemberian vaksin BCG menggunakan teknik Intrakutan (ID). Teknik ini berbeda dengan suntikan biasa (intramuskular atau subkutan). Suntikan intrakutan dilakukan pada lapisan kulit paling atas (dermis), bukan otot atau lemak di bawah kulit. Inilah sebabnya mengapa prosedur ini membutuhkan ketelitian khusus.
- Rekonstitusi Vaksin (Jika diperlukan) Buka ampul vaksin dan pelarut menggunakan asas aseptik. Tarik pelarut ke dalam spuit, kemudian masukkan ke dalam vial vaksin bubuk. Aduk perlahan hingga larut (jangan dikocok keras). Vaksin BCG yang sudah direkonstitusi harus segera digunakan (maksimal 4-6 jam) dan sisa pembuangan harus dimusnahkan dengan benar. Vaksin tidak boleh disimpan kembali di dalam pendingin setelah dibuka.
- Penarikan Vaksin Setelah vaksin larut, tarik vaksin ke dalam sprit 1 ml sesuai dosis (0,05 ml). Buang udara (air bubble) di dalam spuit dengan mendorong plunger perlahan hingga tetesan vaksin muncul di ujung jarum. Pastikan tidak ada udara yang tersisa.
- Menentukan Lokasi Suntikan Lokasi suntikan BCG adalah di bagian luar atas lengan (insertio musculus deltoideus). Usahakan mensuntik di lengan yang dominan sering digunakan, atau secara konsisten di lengan kiri/kanan sesuai kebijakan fasilitas kesehatan agar memudahkan pemeriksaan (skar BCG) di masa depan. Jangan memberikan di area kulit yang ada infeksi, iritasi, atau eksim.
- Membersihkan Kulit Bersihkan area suntikan dengan kapas alkohol secara melingkar satu arah (dari pusat ke luar). Biarkan alkohol kering selama minimal 30 detik sebelum dilakukan penyuntikan. Catatan: Beberapa ped WHO menyatakan jika kulit bersih, alkohol tidak mutlak diperlukan, namun dalam praktik klinis di Indonesia desinfeksi masih dilakukan.
- Teknik Penusukan Jarum (Intrakutan) Kencangkan kulit bayi dengan jari tangan non-dominan. Tegangkan kulit ke arah bawah atau samping.
Masukkan jarum dengan posisi bevel (mata jarum) menghadap ke atas. Sudut penusukan jarum sangat miring, hampir sejajar dengan permukaan kulit, yaitu sudut 5 sampai 15 derajat. Dorong jarum perlahan sampai seluruh bevel terlihat menembus kulit (seperti bayangan di bawah permukaan kulit). Jika jarum tertanam terlalu dalam, vaksin akan masuk ke lapisan subkutan dan reaksi (bintil merah) tidak akan muncul, disebut "kegagalan teknis". - Penyuntikan Vaksin Setelah jarum berada di posisi yang tepat, tahan jarum stabil dengan tangan non-dominan. Dengan tangan dominan, tekan plunger (pendorong) sprit perlahan. Karena lapisan dermis sangat padat, akan terasa ada resistensi (tekanan tinggi) saat menyuntikkan cairan.
- Membentuk "Wheal" (Bintil Jeruk Nipis) Tujuan utama suntikan ID adalah membentuk benjolan putih kecil di bawah kulit yang dikenal sebagai "papule" atau "wheal". Benjolan ini akan tampak seperti kulit yang berjerawat atau tekstur kulit jeruk nipis. Jika benjolan ini tidak terbentuk, berarti suntikan salah teknik (terlalu dalam).
- Penarikan Jarum Setelah seluruh cairan habis disuntikkan, tarik jarum dengan cepat pada sudut yang sama saat dimasukkan.
- Tindak Lanjut Perawatan Luka Jangan menekan atau menggosok lokasi suntikan dengan kapas alkohol atau alkohol. Jangan dipijat. Biarkan vaksin terserap secara alami. Membersihkan lokasi suntikan setelah vaksin masuk tidak dianjurkan karena dapat mengurangi efektivitas vaksin atau memindahkan bakteri hidup ke jari petugas.
Reaksi Pasca Imunisasi (KIPI) dan Perawatan
Keluarga perlu diberi pemahaman bahwa reaksi terhadap vaksin BCG wajar terjadi dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membentuk kekebalan.
Reaksi Lokal yang Wajar
- Minggu ke-2 atau ke-3: Akan muncul bintil merah kecil (papule) di tempat suntikan.
- Minggu ke-4 atau ke-6: Bintil dapat membesar, kemudian berubah menjadi pustula (bernanah) atau bisul kecil.
- Minggu ke-6 sampai ke-12: Bisul akan mengering dan meninggalkan jaringan parut (skar) berukuran kira-kira 4-8 mm. Skar ini disebut "Tanda BCG".
Kontraindikasi dan Peringatan
Jangan memberikan vaksin BCG pada bayi yang mengidap penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh (imunokompromai), seperti bayi dari ibu dengan HIV positif yang belum terbukti terinfeksi atau sedang dalam terapi ARV tertentu, atau bayi dengan gejala AIDS. Hal ini dikarenakan vaksin BCG mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, dan pada orang dengan daya tahan tubuh sangat rendah, bisa menyebabkan infeksi BCG yang menyebar (BCG-osis).
Manajemen Efek Samping Ringan
Jika terjadi pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenitis) di daerah ketiak atau leher sebelah yang sama dengan lokasi suntikan, hal ini adalah komplikasi jarang tetapi bisa terjadi. Biasanya akan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Namun, jika terjadi pembesaran berat, bernanah, atau tanda-tanda infeksi lain, segera rujuk ke dokter spesialis anak.
Kesimpulan
Pemberian vaksin BCG adalah langkah pencegahan primer yang sangat efektif melawan tuberkulosis berat pada anak. Keberhasilan imunisasi ini sangat bergantung pada teknik pemberian yang benar, yaitu injeksi intrakutan yang menghasilkan benjolan (wheal). Petugas kesehatan harus memastikan penggunaan alat steril, dosis yang tepat, serta memberikan edukasi yang cukup kepada orang tua mengenai proses penyembuhan luka vaksin hingga terbentuk skar. Dengan standar prosedur operasional yang ketat, komplikasi dapat diminimalkan dan perlindungan kesehatan anak dapat tercapai secara maksimal.
