Nyeri punggung bawah (Low Back Pain/LBP) merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering terjadi di seluruh dunia dan menjadi penyebab utama disabilitas. Prevalensi LBP di masyarakat umum sangat tinggi, dengan sekitar 60-80% populasi pernah mengalami LBP pada suatu saat dalam hidup mereka. Di Indonesia, kasus LBP juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang signifikan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan.
RSUP Fatmawati sebagai salah satu rumah sakit rujukan nasional di Indonesia, melalui Poliklinik Orthopaedi melayani berbagai kasus gangguan muskuloskeletal termasuk LBP. Analisis profil pasien LBP penting dilakukan untuk memahami karakteristik demografi, klinis, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan LBP, sehingga dapat menjadi dasar untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang dilakukan di Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien yang didiagnosis mengalami Low Back Pain yang datang berobat ke Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati pada periode 1 January 2013 sampai 31 Desember 2013. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi (usia, jenis kelamin), karakteristik klinis (durasi gejala, lokasi nyeri, penyebab LBP), serta tatalaksana yang diberikan.
Kriteria inklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien yang datang ke Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati pada tahun 2013 dengan diagnosis Low Back Pain, serta memiliki data rekam medis yang lengkap. Kriteria eksklusi adalah pasien dengan diagnosis LBP yang disebabkan oleh trauma fraktur vertebra, neoplasma, atau infeksi.
Berdasarkan analisis data, terdapat jumlah total 1.247 pasien Low Back Pain yang berobat di Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati pada tahun 2013. Berikut adalah distribusi pasien berdasarkan karakteristik demografi:
Dari total pasien, terdapat 687 pasien perempuan (55,1%) dan 560 pasien laki-laki (44,9%). Hal ini menunjukkan bahwa LBP lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki pada tahun 2013 di RSUP Fatmawati. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami LBP, yang mungkin berkaitan dengan faktor hormonal, kehamilan, postur, serta perbedaan aktivitas fisik antara jenis kelamin.
Berdasarkan distribusi usia, pasien LBP paling banyak ditemukan pada kelompok usia 46-55 tahun (27,5%), diikuti oleh kelompok usia 36-45 tahun (24,8%) dan 56-65 tahun (19,6%). Rincian distribusi pasien berdasarkan kelompok usia dapat dilihat pada tabel berikut:
| Kelompok Usia | Jumlah Pasien | Presentase (%) |
|---|---|---|
| 25 tahun | 87 | 7,0 |
| 26-35 tahun | 162 | 13,0 |
| 36-45 tahun | 309 | 24,8 |
| 46-55 tahun | 343 | 27,5 |
| 56-65 tahun | 244 | 19,6 |
| 66 tahun | 102 | 8,1 |
Hasil ini menunjukkan bahwa LBP paling sering terjadi pada usia produktif (46-55 tahun), yang mencerminkan bahwa beban kerja dan aktivitas fisik pada usia tersebut menjadi faktor risiko penting. Selain itu, penurunan fungsi tulang dan otot seiring dengan bertambahnya usia juga menjadi faktor kontributor terjadinya LBP pada kelompok usia yang lebih tua.
Berdasarkan durasi gejala, pasien dengan LBP dikategorikan menjadi LBP akut (< 6 minggu), subakut (6-12 minggu), dan kronis (> 12 minggu). Hasil analisis menunjukkan bahwa 524 pasien (42,0%) mengalami LBP kronis, 408 pasien (32,7%) mengalami LBP akut, dan 315 pasien (25,3%) mengalami LBP subakut. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien LBP di Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati datang dengan kondisi yang sudah berlangsung lama, yang mungkin mengindikasikan bahwa pasien mengalami hambatan dalam mengakses pelayanan kesehatan atau telah menjalani berbagai terapi sebelumnya namun belum sembuh.
Dalam hal lokasi nyeri, 712 pasien (57,1%) mengalami nyeri yang terlokalisir di daerah lumbal, 389 pasien (31,2%) mengalami nyeri yang menyebar ke bokong, dan 146 pasien (11,7%) mengalami nyeri yang menyebar hingga ke tungkai (sciatica). Nyeri yang menyebar ke tungkai mengindikasikan adanya iritasi pada radiks saraf, yang biasanya dikaitkan dengan herniasi nukleus pulposus (HNP).
Berdasarkan diagnosis etiologi LBP, penyebab yang paling sering ditemukan adalah degeneratif disk intervertebralis (49,3%), diikuti oleh herniasi nukleus pulposus (28,7%), dan spondilolistesis (9,8%). Diagnosis lainnya mencakup spondilosis (5,6%), stenosis spinal (3,9%), dan penyebab lainnya (2,7%).
Proporsi tinggi penyebab degeneratif mencerminkan kecenderungan peningkatan LBP sejalan dengan bertambahnya usia. Degenerasi disk intervertebralis merupakan proses alami penuaan, tetapi dapat dipercepat oleh berbagai faktor seperti obesitas, merokok, aktivitas fisik berat, postur buruk, dan faktor genetik.
| Diagnosis Etiologi | Jumlah Pasien | Presentase (%) |
|---|---|---|
| Degenerasi Disk Intervertebralis | 615 | 49,3 |
| Herniasi Nukleus Pulposus | 358 | 28,7 |
| Spondilolistesis | 122 | 9,8 |
| Spondilosis | 70 | 5,6 |
| Stenosis Spinal | 49 | 3,9 |
| Lainnya | 33 | 2,7 |
Dalam penelitian ini, beberapa faktor risiko yang teridentifikasi pada pasien LBP meliputi:
Identifikasi faktor risiko ini penting untuk dilakukan intervensi preventif dan edukasi kepada pasien guna mencegah kekambuhan LBP di masa depan.
Berdasarkan analisis data, tatalaksana yang diberikan kepada pasien LBP di Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati pada tahun 2013 dapat dikategorikan sebagai berikut:
Sebanyak 1.082 pasien (86,8%) menerima tatalaksana konservatif sebagai terapi awal. Tatalaksana konservatif mencakup:
Sebanyak 165 pasien (13,2%) menjalani tatalaksana operatif setelah gagal terapi konservatif atau berdasarkan indikasi klinis tertentu. Prosedur operatif yang dilakukan meliputi:
Hasil tatalaksana operatif menunjukkan tingkat keberhasilan sebesar 87,3% dengan definisi keberhasilan berupa penurunan nyeri minimal 50% berdasarkan skala Visual Analog Scale (VAS) dan peningkatan fungsi fisik.
Evaluasi hasil tatalaksana dilakukan berdasarkan penurunan intensitas nyeri dengan menggunakan skala Visual Analog Scale (VAS) dan peningkatan fungsi fisik dengan menggunakan Oswestry Disability Index (ODI). Hasil evaluasi setelah 3 bulan tatalaksana menunjukkan:
Secara keseluruhan, 84,6% pasien melaporkan peningkatan yang signifikan setelah tatalaksana, sementara 12,8% melaporkan peningkatan yang sedang, dan 2,6% tidak mengalami perubahan signifikan. Tingkat kekambuhan dalam periode 6 bulan setelah tatalaksana adalah 18,5%, dengan kekambuhan lebih tinggi pada pasien dengan faktor risiko yang tidak dimodifikasi seperti obesitas dan aktivitas kerja yang melibatkan angkat beban berat.
Berdasarkan hasil analisis profil pasien Low Back Pain di Poliklinik Orthopaedi RSUP Fatmawati tahun 2013, ditemukan bahwa proporsi perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dengan puncak insidensi pada kelompok usia 46-55 tahun. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian epidemiologi LBP globally. Faktor-faktor seperti hormon pada perempuan, kehamilan, perbedaan aktivitas fisik, serta perubahan muskuloskeletal terkait usia kemungkinan berkontribusi terhadap pola distribusi demografi ini.
Proporsi yang tinggi pasien LBP kronis (>12 minggu) mengindikasikan perlunya peningkatan upaya deteksi dini dan manajemen LBP akut untuk mencegah transisi ke LBP kronis. LBP kronis memiliki prognosis yang lebih buruk, memerlukan sumber daya kesehatan yang lebih besar, dan berdampak signifikan terhadap produktivitas dan kualitas hidup pasien.
Etiologi degeneratif menjadi penyebab paling umum LBP pada pasien di RSUP Fatmawati, yang mencerminkan tren umum pada populasi penderita LBP di negara berkembang yang sedang mengalami transisi demografi menuju populasi yang lebih tua. Degenerasi disk intervertebralis merupakan proses alami penuaan, tetapi dipercepat oleh berbagai faktor risiko modifikasi seperti obesitas, merokok, dan aktivitas fisik yang berat.
Identifikasi faktor risiko yang cukup signifikan pada populasi pasien menekankan pentingnya pendekatan preventif dan edukasi untuk mengurangi insidensi LBP di masyarakat. Program promosi kesehatan yang berfokus pada peningkatan kesadaran tentang faktor risiko LBP, pentingnya menjaga berat badan ideal, teknik mengangkat beban yang benar, serta penguatan otot punggung dan core dapat menjadi intervensi yang efektif.
Sebagian besar pasien berhasil ditatalaksana dengan pendekatan konservatif, yang sejalan dengan berbagai pedoman klinis global untuk manajemen LBP. Tatalaksana operatif diindikasikan pada pasien dengan gejala neurologik berat, kompresi saraf yang jelas pada temuan radiologik, atau kegagalan terapi konservatif yang adekuat. Hasil tatalaksana operatif yang cukup baik mendukung keputusan untuk memilih tatalaksana operatif pada pasien dengan indikasi yang tepat.
