Definisi
Preeclampsia berat merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai oleh peningkatan tekanan darah (160/110mmHg) dan kehadiran proteinuria (5g/24jam) atau tandatanda disfungsi organ lain setelah usia kehamilan 20minggu. Kondisi ini masuk dalam kategori berat bila ada komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, hati, otak, atau gangguan koagulasi. Jika tidak ditangani, preeclampsia berat dapat berujung pada eklamsia (kejang) atau keguguran.
Penyebab dan Faktor Risiko
Sejauh ini, penyebab pasti preeclampsia belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa faktor berperan dalam proses patofisiologinya:
- Gangguan plasenta: Pembentukan pembuluh darah yang tidak optimal pada plasenta dapat menyebabkan iskemia uterine.
- Reaksi imunologis: Pengenalan antigen janin oleh sistem imun ibu yang tidak toleran.
- Genetika: Riwayat keluarga dengan preeclampsia meningkatkan risiko.
- Faktor metabolik: Hipertensi kronis, diabetes melitus, obesitas, dan sindrom metabolik.
- Usia ibu: Ibu muda (<20tahun) atau ibu berusia >35tahun memiliki risiko lebih tinggi.
- Kehamilan ganda: Kehamilan dengan lebih dari satu janin meningkatkan beban plasenta.
- Riwayat preeclampsia sebelumnya: Preeclampsia pada kehamilan sebelumnya meningkatkan kemungkinan terulang.
Gejala Klasik
Gejala preeclampsia berat dapat bervariasi, tetapi biasanya meliputi:
- Tekanan darah tinggi 160/110mmHg pada dua pengukuran terpisah minimal 4jam.
- Proteinuria berat (5g dalam 24jam) atau protein/creatinine ratio 0,3.
- Sakit kepala yang berat dan tidak responsif terhadap analgesik.
- Visual disturbances: kilatan cahaya, kebutaan parsial, atau penglihatan kabur.
- Pembengkakan (edema) berlebihan pada wajah dan tangan yang tidak membaik setelah istirahat.
- Nyeri epigastrik atau kanan atas abdomen yang dapat menandakan kerusakan hati.
- Penurunan produksi urine atau oliguria (<500mL/hari).
- Gejala neurologis: kebingungan, agitasi, koma.
- Gangguan fungsi ginjal, hati, atau trombositopenia (<100.000/L).
Diagnosa
Diagnosa preeclampsia berat mengandalkan kombinasi pemeriksaan klinis, laboratorium, dan pencitraan:
| Parameter | Kriteria |
|---|---|
| Tekanan Darah | 160/110mmHg (dua kali, 4jam terpisah) |
| Proteinuria | 5g/24jam atau protein/creatinine ratio 0,3 |
| Fungsi Ginjal | Serum kreatinin 1,1mg/dL atau penurunan urine output |
| Fungsi Hati | ALT atau AST 2 nilai normal, atau hepatitis akut |
| Platelet | Platelet <100.000/L |
| Neurologis | Gejala neurologis berat atau eklamsia |
Selain itu, pemeriksaan ultrasonografi dapat menilai pertumbuhan janin, cairan amniotik, dan aliran darah doppler pada arteri uterina.
Penanganan dan Pengobatan
Preeclampsia berat membutuhkan penanganan cepat dan multidisiplin. Tujuannya adalah menstabilkan kondisi ibu, mengurangi risiko komplikasi, dan menyelamatkan janin bila memungkinkan.
1. Rawat Inap dan Monitoring
- Pasien dimasukkan ke unit perawatan intensif obstetri (ICU obstetri) atau ruang perawatan khusus.
- Monitoring tekanan darah tiap jam, urine output, dan status neurologis.
- Evaluasi laboratorium harian: elektrolit, fungsi ginjal, fungsi hati, koagulasi, dan jumlah platelet.
- Pencatatan perkembangannya secara kontinu.
2. Terapi Antihipertensi
Obat yang umum dipakai meliputi:
- Labetalol (blocker dengan blocker) dosis awal 20mg IV, dilanjutkan 2080mg tiap 20menit bila perlu.
- Nifedipin (Cachannel blocker) 10mg IV bolus atau 2040mg oral setiap 46jam.
- Hydralazine 510mg IV tiap 20menit sampai tekanan darah stabil.
Target tekanan darah: <140/90mmHg, dengan tekanan sistolik tidak lebih rendah dari 120mmHg.
3. Magnesium Sulfat
Merupakan terapi utama untuk pencegahan eklamsia. Regimen umum:
- Loading dose 46g IV dalam 20menit.
- Maintenance dose 12g per jam IV.
- Teruskan sampai 24jam setelah melahirkan atau 6jam setelah persalinan.
- Monitor reflex kneejerk, frekuensi napas, dan level serum magnesium (ideal 47mg/dL).
4. Penanganan Komplikasi Spesifik
- Kerusakan hati: Jika muncul sindrom HELLP, pertimbangkan pemberian kortikosteroid antenatal (betametason) untuk mematangkan paru janin, lalu evaluasi kebutuhan persalinan segera.
- Gangguan koagulasi: Transfusi platelet atau plasma segar beku bila diperlukan.
- Renal insufficiency: Terapi cairan terbatas, dialisis bila diperlukan.
5. Persalinan
Preeclampsia berat biasanya mengindikasikan persalinan sesegera mungkin, terutama bila kehamilan 34minggu atau bila ada tanda bahaya pada ibu/ janin. Metode persalinan dipilih berdasarkan kondisi obstetrik (presentasi, ukuran rahim, kontraindikasi caesar, dll).
Pencegahan dan Followup
Walaupun tidak semua kasus dapat dicegah, langkah berikut dapat menurunkan risiko:
- Pengendalian tekanan darah sebelum kehamilan atau pada trimester pertama.
- Pemeriksaan antenatal rutin dengan skrining proteinuria dan tekanan darah pada setiap kunjungan.
- Asupan kalsium 1g per hari (terutama pada populasi dengan asupan diet rendah).
- Pemberian lowdose aspirin (75150mg) mulai dari minggu ke12 hingga ke36 pada wanita berisiko tinggi (menurut rekomendasi WHO/ACOG).
- Manajemen berat badan ideal (BMI 18,524,9kg/m) sebelum konsepsi.
- Penghentian merokok dan alkohol.
- Monitoring ketat pada kehamilan ganda atau pada riwayat preeclampsia sebelumnya.
Setelah melahirkan, kebanyakan gejala preeclampsia akan mereda dalam 4872jam. Namun, wanita yang mengalami preeclampsia berat disarankan melakukan kontrol tekanan darah dan fungsi ginjal secara berkala selama setidaknya 6bulan postpartum.
Kesimpulan
Preeclampsia berat adalah kondisi obstetrik yang berpotensi mengancam nyawa ibu dan janin. Deteksi dini melalui skrining rutin, pemahaman faktor risiko, serta penanganan cepat dengan kombinasi antihipertensi, magnesium sulfate, dan persalinan yang tepat dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas. Edukasi kepada ibu hamil, serta kolaborasi antara dokter kandungan, neonatolog, dan tim ICU obstetri menjadi kunci keberhasilan dalam mengelola kasus ini.
