Tanah salin merupakan salah satu faktor pembatas utama dalam produksi padi sawah di wilayah pesisir dan daerah dataran rendah yang terpengaruh oleh intrusi air laut. Konsentrasi ion Na+ dan Cl- yang tinggi mengganggu keseimbangan osmotik sel, mempengaruhi proses fotosintesis, dan menurunkan efisiensi penggunaan air. Sebagai hasilnya, banyak varietas padi komersial menunjukkan penurunan drastis dalam pertumbuhan vegetatif dan hasil gabah ketika ditanam pada lahan dengan salinitas >4dSm-1. Seedpriming merupakan teknik pretreatment benih dengan merendamnya pada larutan yang mengandung zat kimia atau biologis tertentu (mis. hormon auksin, asam amino, atau mikroba pengikat Na+) untuk meningkatkan toleransi stres. Pada penelitian sebelumnya, priming dengan asam gibberelat (GA3) atau kalsium nitrat dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan mengatur ekspresi gen yang terlibat dalam transport ion, sehingga memperbaiki kemampuan bertahan pada kondisi salin. Penelitian ini berfokus pada empat varietas padi unggulan yang tersebar di Indonesia: IR64, Ciherang, Inpari 30, dan Rojolele. Ketiga varietas pertama dikenal memiliki produktivitas tinggi pada kondisi normal, sedangkan Rojolele termasuk dalam kelompok padi tahan garam. Dengan mengaplikasikan seedpriming, diharapkan dapat teridentifikasi varietas mana yang paling responsif terhadap perlakuan ini pada lahan salin. Penelitian dilaksanakan pada lahan percobaan di Desa Pantai Karya, Kabupaten Bangka Belitung (Koordinat 230'LS10630'BT). Lahan memiliki salinitas 6dSm-1 (ukuran EC) dan pH 7,5. Tanah bertekstur lempung berpasir, kandungan bahan organik 1,2%. Desain percobaan merupakan rancangan acak lengkap (RCBD) dengan tiga repikasi. Setiap plot berukuran 4m 5m, ditanami 20bibit perm2. Setelah penanaman, tanaman dikelola secara standar (pemupukan NPK, penyiangan, irigasi sesaat bila diperlukan) kecuali tidak ada usaha desalinisasi. Seedpriming meningkatkan tingkat perkecambahan dari ratarata 78% (kontrol) menjadi 92% (primed). Waktu munculnya daun sejati berkurang signifikan, dari 9,2hari menjadi 6,7hari pada semua varietas. Secara umum, tanaman yang dipriming menunjukkan peningkatan tinggi tanaman sebesar 1215% pada minggu ke8 dibandingkan kontrol. Luas daun total juga meningkat, dengan nilai tertinggi pada Rojolele primed (210cm2 per tanaman) dibandingkan kontrol (175cm2). Berikut rangkuman produksi gabah pada lahan salin: Tanaman yang dipriming memiliki aktivitas SOD meningkat 28% dan CAT meningkat 22% dibandingkan kontrol. POD juga menunjukkan kenaikan signifikan (30%). Peningkatan ini berhubungan erat dengan penurunan kadar lipid peroksida pada daun, menandakan pengurangan kerusakan oksidatif akibat stres salin. Benih yang dipriming memperlihatkan peningkatan prolamin sebesar 18% setelah 7hari imbibisi, yang berperan sebagai cadangan nitrogen dan membantu stabilisasi membran sel di lingkungan berion tinggi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa seedpriming dengan kombinasi GA3 dan kalsium nitrat efektif meningkatkan toleransi padi pada lahan dengan salinitas tinggi. Mekanisme utama meliputi: Varietas Rojolele tetap memberikan hasil tertinggi pada kondisi salin, mengindikasikan sifat genetik inherent yang lebih tahan. Namun, respon peningkatan produksi pada varietas komersial IR64, Ciherang, dan Inpari30 cukup signifikan (43%). Hal ini menandakan bahwa seedpriming dapat memperluas wilayah tanam bagi varietas dengan produktivitas tinggi pada kondisi normal, sehingga meningkatkan total produksi pangan nasional. Beberapa catatan penting untuk implementasi skala lapang: Seedpriming dengan kombinasi GA3 dan Ca(NO3)2 secara signifikan meningkatkan perkecambahan, pertumbuhan vegetatif, aktivitas antioksidan, dan produksi gabah pada empat varietas padi sawah yang ditanam di lahan salin (EC=6dSm-1). Respon paling kuat terlihat pada varietas komersial IR64, Ciherang, dan Inpari30, yang masingmasing mengalami kenaikan produksi gabah 2746% dibandingkan kontrol. Rojolele, sebagai varietas tahan garam, tetap unggul dalam hasil total, namun peningkatan produksi pada varietas lain menunjukkan potensi besar untuk memanfaatkan lahan marginal melalui teknologi priming. Penggunaan seedpriming dapat menjadi strategi agronomi yang praktis, murah, dan ramah lingkungan untuk meningkatkan ketahanan pangan pada daerah pesisir dan lahan dengan salinitas tinggi.Pertumbuhan dan Produksi Empat Varietas Padi Sawah (Oryza sativa L.) Hasil Seedpriming pada Lahan Salin
Latar Belakang
Tujuan Penelitian
Metode Penelitian
Lokasi dan Lahan
Varietas dan Perlakuan Seedpriming
Varietas Priming Larutan Durasi IR64 Kontrol Air bersih - IR64 Primed 1mM GA3 + 0,5mM Ca(NO3)2 12jam Ciherang Kontrol Air bersih - Ciherang Primed 1mM GA3 + 0,5mM Ca(NO3)2 12jam Inpari 30 Kontrol Air bersih - Inpari 30 Primed 1mM GA3 + 0,5mM Ca(NO3)2 12jam Rojolele Kontrol Air bersih - Rojolele Primed 1mM GA3 + 0,5mM Ca(NO3)2 12jam Desain Percobaan
Pengukuran
Hasil Penelitian
Perkecambahan
Pertumbuhan Vegetatif
Produksi Gabah
Varietas Kontrol (tonha-1) Primed (tonha-1) % IR64 3,2 4,6 +44 Ciherang 3,0 4,3 +43 Inpari30 2,8 4,1 +46 Rojolele 4,5 5,7 +27 Aktivitas Enzim Antioksidan
Kandungan Prolamin
Diskusi
Kesimpulan
