Kencur (Kaempferia galanga Linn.) adalah tanaman obat tradisional yang telah lama digunakan dalam pengobatan di Asia Tenggara. Salah satu kandungan aktif utama dari rimpang kencur adalah etil p-metoksisinamat yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis termasuk antiinflamasi, analgesik, dan antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sifat fisik dari sediaan krim, gel, dan salep yang mengandung etil p-metoksisinamat dari ekstrak rimpang kencur. Sediaan diformulasikan dalam berbagai basis dan dievaluasi sifat fisiknya meliputi organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, dan stabilitas selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap sediaan memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing. Salep memiliki tekstur yang lebih tahan lama namun daya sebar yang lebih rendah dibandingkan krim dan gel. Gel menunjukkan viskositas tertinggi dan daya sebar yang baik, namun memiliki kecenderungan untuk mengering pada permukaan. Krim menunjukkan keseimbangan yang baik antara sifat fisik yang diinginkan dengan penerimaan yang lebih baik pada penggunaan topikal. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pemilihan basis sediaan topikal yang sesuai untuk formulasi mengandung etil p-metoksisinamat berdasarkan indikasi terapi yang dituju.
Kencur (Kaempferia galanga Linn.) merupakan tanaman obat tradisional yang banyak digunakan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Rimpang kencur telah lama dikenal memiliki berbagai khasiat pengobatan seperti antiinflamasi, analgesik, antispasmodik, antimikroba, dan antihiperlipidemia. Berbagai studi farmakologi telah dilakukan untuk mengeksplorasi potensi terapetik dari tanaman ini.
Salah satu senyawa aktif utama yang ditemukan dalam rimpang kencur adalah etil p-metoksisinamat (ethyl p-methoxycinnamate). Senyawa ini termasuk dalam golongan turunan asam sinamat dan telah dilaporkan memiliki berbagai aktivitas biologis yang menarik. Etil p-metoksisinamat memiliki aktivitas antiinflamasi yang signifikan dengan mekanisme yang berbeda dari obat antiinflamasi nonsteroid konvensional. Selain itu, senyawa ini juga menunjukkan aktivitas analgesik, antimikroba, dan anti-oksidan.
Dalam pengembangan formulasi topikal, pemilihan basis sediaan yang sesuai sangat penting untuk memastikan stabilitas dan ketersediaan obat. Sediaan topikal yang umum digunakan meliputi krim, gel, dan salep. Setiap jenis sediaan memiliki karakteristik fisik yang berbeda yang dapat mempengaruhi efektivitas terapi dan kenyamanan penggunaan.
Krim adalah emulsi minyak-dalam-air atau air-dalam-minyak yang memiliki keseimbangan antara sifat pelembab dan kemudahan pengaplikasian. Gel adalah sistem semi-solid yang mengandung jumlah air yang tinggi dan membentuk matriks rigid yang memberikan sensasi dingin saat diaplikasikan. Salep biasanya berbasis hidrokarbon atau lemak yang memberikan efek oklusif dan lebih tahan lama pada kulit.
Rimpang kencur segar dikumpulkan, dicuci bersih, dan dikeringkan. Rimpang kering kemudian ditumbuk menjadi serbuk kasar. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% selama 3 hari dengan pergantian pelarut setiap 24 jam. Filtrat yang diperoleh dikonsentrasikan dengan rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak kental. Isolasi etil p-metoksisinamat dilakukan dengan teknik kromatografi vakum kolom menggunakan pelarut heksan-etil asetat dengan gradasi komposisi. Identifikasi senyawa dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri Infra Merah (FTIR) dan Kromatografi Gas-Massa (GC-MS).
Tiga formulasi sediaan topikal dikembangkan: krim, gel, dan salep. Untuk sediaan krim digunakan basis emulsi minyak-dalam-air dengan komposisi: air, stearat asam, gliserol monostearat, setil alkohol, metil paraben, propil paraben, propilen glikol, dan etil p-metoksisinamat. Untuk sediaan gel digunakan basis karbopol dengan komposisi: karbopol 940, trietanolamin, propilen glikol, metil paraben, propil paraben, air dan etil p-metoksisinamat. Untuk sediaan salep digunakan basis hidrokarbon dengan komposisi: vaselin putih, minyak mineral, dan etil p-metoksisinamat.
Setiap sediaan dievaluasi sifat fisiknya meliputi:
Secara organoleptik, ketiga sediaan menunjukkan karakteristik yang berbeda. Krim menampilkan warna putih susu dengan tekstur lembut dan mudah dioleskan, memberikan sensasi sedikit berminyak di kulit. Gel memiliki transparansi tinggi dengan tekstur licin dan memberikan sensasi dingin saat diaplikasikan, serta tidak meninggalkan rasa lengket. Salep berwarna putih atau transparan tergantung pada jenis basis yang digunakan, dengan tekstur tebal dan memberikan efek oklusif yang lebih kuat di kulit.
Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa krim memiliki pH berkisar antara 5.5-6.5, mendekati pH kulit normal yang berada di sekitar 5.5. Gel menunjukkan pH antara 6.0-7.0, sedikit lebih tinggi dari krim namun masih dalam rentang toleransi kulit. Salep dengan basis hidrokarbon tidak memiliki pH yang dapat diukur secara signifikan karena tidak mengandung fase air yang cukup. Nilai pH yang sesuai denganpH kulit penting untuk menghindari iritasi dan mempertahankan fungsi barrier kulit.
Dari hasil pengukuran viskositas, sediaan gel menunjukkan nilai viskositas tertinggi, diikuti oleh krim dan kemudian salep. Viskositas gel berkisar antara 8000-12000 cps, krim antara 5000-8000 cps, dan salep antara 3000-6000 cps. Viskositas yang tinggi pada sediaan gel disebabkan oleh polimer karbopol yang membentuk struktur three-dimensional network yang jelas. Walaupun salep memiliki tekstur yang tampak lebih kental secara visual, viskositasnya lebih rendah karena strukturnya yang lebih longgar dibandingkan dengan jaringan polimer dalam gel.
Uji daya sebar menunjukkan bahwa sediaan gel memiliki kemampuan penyebaran terbaik dengan diameter penyebaran rata-rata 6-7 cm, diikuti oleh krim dengan diameter 5-6 cm, dan salep dengan diameter 3-4 cm. Daya sebar yang lebih baik pada sediaan gel dan krim disebabkan oleh kandungan fase air yang lebih tinggi yang memfasilitasi penyebaran sediaan secara merata di permukaan kulit. Salep dengan basis hidrokarbon memiliki resistensi penyebaran yang lebih tinggi karena sifat hidrofobiknya.
Pengujian stabilitas fisik selama 28 hari pada berbagai kondisi penyimpanan menunjukkan bahwa ketiga sediaan tidak mengalami perubahan organoleptik yang signifikan pada suhu kamar dan rendah. Namun, pada suhu tinggi (40C), sediaan gel menunjukkan kecenderungan untuk mengering pada permukaan (surface drying) setelah 14 hari penyimpanan. Krim menunjukkan sedikit pemisahan fase setelah 21 hari pada suhu tinggi, namun dapat dihomogenkan kembali dengan pengadukan ringan. Salep menunjukkan stabilitas yang baik pada semua kondisi penyimpanan tanpa perubahan fisik yang signifikan.
| Parameter | Krim | Gel | Salep |
|---|---|---|---|
| Warna | Putih susu | Transparan | Putih/transparan |
| Texture | Lembut | Licin | Tebal |
| pH | 5.5-6.5 | 6.0-7.0 | Tidak terukur |
| Viskositas (cps) | 5000-8000 | 8000-12000 | 3000-6000 |
| Daya Sebar (cm) | 5-6 | 6-7 | 3-4 |
| Stabilitas (28 hari) | Stabil, sedikit pemisahan fase pada suhu tinggi | Stabil, kecenderungan drying pada permukaan pada suhu tinggi | Stabil pada semua kondisi |
Secara keseluruhan, setiap sediaan menunjukkan keunggulan dan keterbatasan dalam sifat fisiknya. Sediaan gel memiliki viskositas tertinggi dan daya sebar terbaik, namun memiliki kecenderungan untuk mengering pada permukaan saat disimpan pada suhu tinggi. Sifat gel yang mengandung kadar air tinggi memberikan sensasi dingin yang menyegarkan saat diaplikasikan, namun juga menyebabkan evaporasi air yang dapat mengurangi kelembaban sediaan pada kondisi penyimpanan tertentu.
Sediaan krim menunjukkan keseimbangan yang baik antara sifat fisik yang diinginkan dengan nilai pH yang mendekati pH kulit normal. Krim memiliki daya sebar yang cukup baik dan memberikan efek pelembab karena kandungan emulsifiernya yang membantu mengurangi transepidermal water loss (TEWL). Namun, sediaan krim memiliki potensi untuk mengalami pemisahan fase pada kondisi penyimpanan yang ekstrem.
Sediaan salep menunjukkan stabilitas fisik terbaik tanpa perubahan signifikan selama penyimpanan. Namun, salep memiliki daya sebar yang lebih rendah dan memberikan sensasi berat dan lengket pada kulit. Sifat oklusif dari sale dapat menghambat evaporasi air dari kulit, namun juga dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman pada penggunaan jangka panjang atau pada kondisi lingkungan yang panas dan lembab.
Pemilihan sediaan yang sesuai harus mempertimbangkan indikasi terapi, kondisi kulit pasien, dan preferensi pengguna. Untuk kondisi kulit yang membutuhkan efek pelembab tinggi atau pada luka yang eksudatif, sediaan gel dengan efek cooling dapat lebih disukai. Untuk penggunaan pada area kulit yang kering atau memerlukan perlindungan jangka panjang, sediaan krim dapat memberikan keseimbangan yang optimal. Untuk kondisi dermatologis yang memerlukan efek oklusif tinggi atau aplikasi pada area dengan lipatan kulit, sediaan salep dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Dalam konteks formulasi etil p-metoksisinamat, perlu juga dipertimbangkan interaksi antara senyawa aktif dengan basis sediaan. Studi penetrasi in vitro dapat memberikan informasi tambahan mengenai sejauh mana etil p-metoksisinamat dapat menembus lapisan kulit dari berbagai jenis sediaan. Studi stabilitas kimiawi juga penting untuk dilakukan guna memastikan bahwa etil p-metoksisinamat tetap stabil dan tidak mengalami degradasi dalam sediaan selama penyimpanan.
Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi sifat fisik sediaan krim, gel, dan salep yang mengandung etil p-metoksisinamat dari ekstrak rimpang kencur, dapat disimpulkan bahwa:
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pemilihan basis sediaan topikal yang sesuai untuk formulasi mengandung etil p-metoksisinamat berdasarkan indikasi terapi yang dituju. Pengembangan sediaan topikal dengan kandungan etil p-metoksisinamat dari rimpang kencur memberikan potensi besar dalam pengembangan produk dermatologis berbasis bahan alami.
