Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan di seluruh dunia. Pada stadium akhir, pasien biasanya memerlukan terapi hemodialisis (HD) untuk menggantikan fungsi ekskresi ginjal. Salah satu tantangan utama dalam perawatan HD adalah mengontrol asupan cairan. Kelebihan cairan dapat menyebabkan hipertensi, edema, dan komplikasi kardiovaskular, sementara kekurangan cairan dapat menimbulkan hipotensi intradialisis. Kepatuhan pasien terhadap pembatasan asupan cairan (PAC) seringkali rendah karena faktor psikologis, sosial, dan kurangnya pendidikan yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan model konseptual yang mampu menjelaskan hubungan antarvariabel yang mempengaruhi kepatuhan, sehingga dapat dirancang intervensi yang lebih efektif. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan crosssectional dan penggunaan Structural Equation Modeling (SEM) untuk analisis data. Pasien PGK stadium akhir yang menjalani HD 3 kali seminggu di tiga rumah sakit besar di Indonesia. Sampel diambil secara purposive sebanyak 250 responden. Kuisioner yang terdiri dari 5 subskala: Data dianalisa dengan SPSS 28 untuk statistik deskriptif, kemudian SEM dilakukan menggunakan AMOS 24. Fit model dievaluasi dengan indeks /df, RMSEA, CFI, dan TLI. Model terdiri dari tiga variabel eksogen (Pengetahuan, Motivasi, Dukungan Sosial) dan dua variabel mediasi (Selfefficacy, Persepsi Risiko). Variabel endogen utama adalah Kepatuhan PAC. Hasil SEM (hipotetik): /df = 1.84, RMSEA = 0.045, CFI = 0.96, TLI = 0.95. Semua jalur signifikan pada p < 0.001, menunjukkan model memiliki fit yang memadai. Materi harus menekankan mekanisme fisiologis cairan, konsekuensi klinis, serta strategi praktis (mis: penggunaan botol takaran, pencatatan harian). Gunakan teknik motivational interviewing untuk memperkuat motivasi internal dan menetapkan tujuan yang realistis. Berikan latihan simulasi pengukuran cairan, feedback positif, serta contoh keberhasilan dari sesama pasien. Libatkan anggota keluarga dalam sesi edukasi, serta bentuk kelompok support di rumah sakit. Implementasikan aplikasi mobile yang mencatat asupan cairan, mengirim reminder, dan menampilkan grafik kepatuhan. Dengan mengintegrasikan keempat pilar di atas ke dalam protokol perawatan, diharapkan tingkat kepatuhan PAC dapat meningkat 2530% dalam 6 bulan pertama.Pengembangan Model Struktural Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan pada Klien PGK yang Menjalani Hemodialisis
Latar Belakang
Tujuan Pengembangan Model
Metode Penelitian
Desain
Populasi & Sampel
Instrumen
Analisis Data
Model Struktural yang Diusulkan
Variabel Tipe Hubungan Hipotesis Pengetahuan Eksogen Selfefficacy & Persepsi Risiko Semakin tinggi pengetahuan, selfefficacy dan persepsi risiko meningkat. Motivasi Eksogen Selfefficacy Motivasi intrinsik memediasi peningkatan kepercayaan diri. Dukungan Sosial Eksogen Selfefficacy & Persepsi Risiko Dukungan keluarga/teman memperkuat keyakinan dan kesadaran risiko. Selfefficacy Mediasi Kepatuhan PAC Selfefficacy tinggi berhubungan dengan kepatuhan lebih baik. Persepsi Risiko Mediasi Kepatuhan PAC Kesadaran akan konsekuensi cairan berlebih meningkatkan kepatuhan. Implikasi Klinis
1. Edukasi Terstruktur
2. Pendekatan Motivasi
3. Penguatan Selfefficacy
4. Dukungan Sosial
5. Monitoring Berkelanjutan
