Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting di Indonesia. Varietas Bonanza adalah salah satu varietas jagung manis yang populer karena kualitas dan produktivitasnya yang tinggi. Waktu panen yang tepat sangat menentukan kandungan gula pada jagung manis, yang merupakan indikator utama kualitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu panen optimal yang menghasilkan kandungan gula tertinggi pada jagung manis varietas Bonanza. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan waktu panen (20, 22, 24, 26, 28, dan 30 hari setelah penyerbukan) dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gula jagung manis varietas Bonanza meningkat hingga mencapai puncak pada 24 hari setelah penyerbukan, kemudian menurun secara signifikan pada hari kelima belas setelah puncak. Waktu panen optimal untuk mendapatkan kandungan gula tertinggi adalah 24-26 hari setelah penyerbukan.
Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) adalah salah satu jenis tanaman pangan yang populer di Indonesia dan banyak dikonsumsi sebagai sayuran maupun bahan industri pangan. Jagung manis memiliki kandungan gula yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung biasa (Zea mays L.), sehingga rasanya lebih manis dan disukai konsumen. Kualitas jagung manis sangat dipengaruhi oleh kandungan gula yang memiliki peran penting dalam menentukan tingkat penerimaan konsumen (Sudarsono, 2017).
Salah satu varietas jagung manis yang populer di Indonesia adalah varietas Bonanza. Varietas ini memiliki berbagai keunggulan seperti produktivitas tinggi, daya adaptasi yang luas, dan rasa yang manis (Balai Penelitian Tanaman Serealia, 2015). Namun, seperti halnya jagung manis lainnya, kualitas dan kandungan gula varietas Bonanza sangat dipengaruhi oleh waktu panen yang tepat.
Waktu panen yang tepat merupakan faktor kritis dalam produksi jagung manis karena berhubungan langsung dengan kandungan gula (total dissolved solids atau TDS) yang merupakan indikator kualitas utama. Kandungan gula pada jagung manis mengalami perubahan seiring dengan perkembangan biji jagung, dan puncak kandungan gula biasanya terjadi pada periode tertentu setelah penyerbukan (Tracy, 1994). Panen terlalu dini akan menghasilkan kandungan gula yang rendah, sedangkan panen terlambat akan menyebabkan penurunan kandungan gula akibat proses respirasi dan konversi gula menjadi kanji (Williams, 2008).
Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) merupakan salah satu dari enam ras utama jagung (Zea mays L.) yang dikenal secara luas, bersama dengan jagung dent, jagung flint, jagung tepung, jagung popcorn, dan jagung pakan. Perbedaan utama antara jagung manis dengan jagung lainnya adalah pada kandungan gulanya. Jagung manis memiliki gen sugary1 (su1) yang menyebabkan akumulasi gula ganda (maltosa dan sukrosa) pada endosperma biji yang matang, menghasilkan kandungan gula yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung lainnya (Tracy, 1994)
Proses pematangan biji jagung manis mengikuti pola yang berbeda dengan jagung biasa. Pada jagung manis, kandungan gula meningkat seiring dengan perkembangan biji hingga mencapai puncak tertentu, kemudian menurun karena konversi gula menjadi kanji. Pada jagung biasa, proses ini terjadi lebih cepat sehingga pada saat panen, kandungan gula sangat rendah dan sebagian besar karbohidrat sudah berbentuk kanji (Williams, 2008).
Secara fisiologis, fase perkembangan biji jagung dapat dibagi menjadi beberapa tahap:
Varietas Bonanza adalah salah satu varietas jagung manis unggul yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia (BaliTas) dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Varietas ini dihasilkan melalui seleksi massal selama beberapa generasi dari populasi jagung manis yang memiliki potensi tinggi. Bonanza dirilis sebagai varietas unggul pada tahun 2015 dan sejak itu menjadi salah satu varietas jagung manis yang paling populer di Indonesia (Balai Penelitian Tanaman Serealia, 2015).
Berikut adalah karakteristik utama varietas Bonanza:
Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia selama periode September 2022 hingga Januari 2023. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 250 mdpl, dengan tipe agroekosistem lahan kering.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan enam perlakuan waktu panen dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah waktu panen pada umur biji yang berbeda setelah penyerbukan:
Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu panen berpengaruh sangat nyata (P < 0.01) terhadap kandungan gula pada jagung manis varietas Bonanza. Tabel 1 menunjukkan rata-rata kandungan gula pada berbagai waktu panen setelah penyerbukan.
Tabel 1. Kandungan Gula Jagung Manis Varietas Bonanza pada Berbagai Waktu Panen
| Waktu Panen (Hari Setelah Penyerbukan) | Kandungan Gula (Brix) |
|---|---|
| 20 | 10.5 0.4 c |
| 22 | 13.2 0.5 b |
| 24 | 15.7 0.3 a |
| 26 | 15.3 0.4 a |
| 28 | 12.8 0.5 b |
| 30 | 11.2 0.5 c |
Keterangan: Angka diikuti huruf yang sama di belakangnya menunjukkan tidak beda nyata pada uji DNMRT taraf 5%
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kandungan gula pada jagung manis varietas Bonanza meningkat dari hari ke-20 hingga mencapai puncak pada hari ke-24 setelah penyerbukan dengan nilai 15.7Brix. Setelah itu, kandungan gula menurun secara bertahap hingga hari ke-30. Waktu panen 24 dan 26 hari setelah penyerbukan memberikan kandungan gula tertinggi dan tidak berbeda secara nyata, namun berbeda nyata dengan waktu panen lainnya.
Peningkatan kandungan gula hingga mencapai puncak pada hari ke-24 setelah penyerbukan sesuai dengan fase fisiologis pematangan biji jagung manis. Pada fase ini, proses fotosintesis masih aktif menghasilkan karbohidrat yang ditranslokasi ke biji dalam bentuk gula sederhana (sukrosa, glukosa, dan fruktosa). Enzim yang terlibat dalam biosintesis gula seperti sukrosa fosfat sintase dan sukrosa sintase bekerja optimal pada fase ini (Tracy, 1994).
Penurunan kandungan gula setelah hari ke-24 disebabkan oleh proses fisiologis konversi gula menjadi kanji yang bertindak sebagai cadangan energi jangka panjang untuk tanaman. Enzim amilase dan ADP-glukosa piridoksiltransferase berperan dalam proses konversi ini. Selain itu, peningkatan aktivitas respirasi biji yang semakin matang juga mengksumsi gula sebagai sumber energi, sehingga menyebabkan penurunan kandungan gula yang dapat diukur (Williams, 2008).
Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi petani jagung manis, khususnya yang menanam varietas Bonanza. Waktu panen yang tepat (24-26 hari setelah penyerbukan) sangat menentukan kualitas produk dalam hal kandungan gula, yang merupakan faktor utama penerimaan konsumen. Keterlambatan waktu panen akan menyebabkan penurunan kualitas dengan penurunan kandungan gula hingga 30% atau lebih.
Petani dianjurkan untuk memantau waktu penyerbukan secara teliti dan mencatat tanggalnya sebagai referensi untuk menentukan waktu panen yang optimal. Penyerbukan biasanya terjadi antara 50-55 hari setelah tanam, namun ini dapat bervariasi tergantung kondisi lingkungan dan praktik budidaya. Dengan demikian, waktu panen optimal untuk varietas Bonanza adalah sekitar 74-81 hari setelah tanam.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan:
