Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh volume darah dalam tabung vakum yang mengandung antikoagulan EDTA terhadap hasil indeks eritrosit pada pasien anemia. Pemeriksaan hematologi rutin bergantung pada kepatuhan prosedur pengambilan sampel darah, termasuk volume darah yang diaspirasikan ke dalam tabung pengumpul. Keterbatasan pengambilan sampel pada pasien anemia seringkali menyebabkan penggunaan tabung dengan volume darah yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Desain penelitian ini bersifat eksperimental analitik dengan membandingkan hasil indeks eritrosit (Hb, Ht, MCV, MCHC, MCH, RDW) dari sampel darah pasien anemia yang diambil dalam volume penuh, 75%, dan 50% dari kapasitas tabung vakum EDTA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan volume darah dalam tabung EDTA memberikan pengaruh signifikan terhadap beberapa indeks eritrosit, terutama Hb, Ht, MCHC, dan MCH, sedangkan MCV dan RDW menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Penelitian ini menyimpulkan pentingnya kepatuhan terhadap volume darah standar dalam pengambilan sampel menggunakan tabung EDTA untuk memperoleh hasil pemeriksaan eritrosit yang akurat pada pasien anemia.
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum di dunia, mempengaruhi sekitar 1,62 miliar orang secara global atau sekitar 24,8% dari populasi dunia. Di Indonesia, prevalensi anemia masih tinggi, terutama pada kelompok ibu hamil, balita, dan remaja putri. Diagnosa anemia didasarkan pada pemeriksaan darah lengkap yang meliputi pemantauan konsentrasi hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), serta indeks eritrosit lainnya seperti Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC), dan Red Blood Cell Distribution Width (RDW).
Pemeriksaan hematologi rutin bergantung pada berbagai faktor pra-analitik yang dapat mempengaruhi hasil tes, salah satunya adalah teknik pengambilan sampel darah. Tabung vakum dengan antikoagulan Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) merupakan wadah standar untuk pengambilan sampel darah pemeriksaan hematologi. EDTA bekerja dengan cara mengikat ion kalsium, sehingga mencegah proses pembekuan darah. Namun, efektivitas EDTA sangat bergantung pada rasio yang tepat antara volume darah dan konsentrasi EDTA dalam tabung.
Namun, dalam praktik klinis, seringkali dihadapi situasi di mana volume darah yang berhasil diperoleh tidak sesuai dengan kapasitas tabung, terutama pada pasien dengan kondisi tertentu seperti anemia berat, pada pasien pediatrik, atau pada pasien dengan vena yang sulit diakses. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana variasi volume darah dalam tabung vakum EDTA mempengaruhi hasil indeks eritrosit, khususnya pada pasien anemia yang sudah memiliki parameter eritrosit yang abnormal.
Teknik pengambilan sampel darah yang benar merupakan langkah krusial dalam pemeriksaan laboratorium. Menurut Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI), pengambilan sampel darah menggunakan tabung vakum harus mematuhi urutan pengisian tabung dan volume sampel yang sesuai. Urutan pengambilan sampel penting untuk mencegah kontaminasi antar-tabung, sementara volume sampel menjadi krusial untuk mempertahankan rasio darah:antikoagulan yang optimal.
EDTA adalah antikoagulan yang paling sering digunakan untuk pemeriksaan hematologi. EDTA bekerja dengan mengikat ion kalsium yang diperlukan dalam proses koagulasi, sehingga mencegah pembekuan darah. EDTA tersedia dalam bentuk garam kalium (K2EDTA) atau garam natrium (Na2EDTA). K2EDTA lebih disukai karena memiliki kelarutan yang baik dan tidak menyebabkan perubahan volume sel.
Indeks eritrosit merupakan parameter yang digunakan untuk mengkarakterisasi sel darah merah dan membantu dalam mendiagnosis jenis anemia. Parameter tersebut meliputi:
Beberapa studi telah mengevaluasi pengaruh rasio darah:antikoagulan tidak sesuai terhadap hasil pemeriksaan hematologi. EDTA yang berlebihan dapat menyebabkan pengkerutan eritrosit, yang mengakibatkan penurunan volume sel dan peningkatan konsentrasi hemoglobin. Sebaliknya, jumlah EDTA yang tidak mencukupi dapat menyebabkan pembentukan mikrokoagul yang tidak terlihat, mempengaruhi distribusi eritrosit dan akhirnya memberikan hasil yang tidak akurat.
Penelitian oleh Lippi et al. (2019) menunjukkan bahwa tabung yang diisi di bawah kapasitas (underfilled) memberikan pengaruh signifikan terhadap hasil pemeriksaan hematologi khususnya pada Ht, MCHC, dan MCH. Studi lain oleh Dzik (2020) menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap volume standar dalam pengambilan sampel darah untuk menghindari diagnosis klinis yang salah, terutama dalam kasus anemia.
Penelitian ini menggunakan desain eksperimental analitik dengan pendekatan prospektif. Sampel darah pasien anemia diambil dan dibagi menjadi tiga tabung vakum EDTA dengan volume yang berbeda: penuh (sesuai kapasitas), 75%, dan 50% dari kapasitas tabung standar.
Populasi penelitian adalah pasien anemia yang menjalani pemeriksaan darah lengkap di Rumah Sakit Umum Pusat. Sampel diambil secara consecutive sampling dengan kriteria inklusi: pasien usia 18-65 tahun, didiagnosis anemia (Hb < 12 g/dL untuk wanita dan < 13 g/dL untuk pria), dan bersedia menjadi responden penelitian. Kriteria eksklusi: pasien dengan kondisi hemolitik, pasien yang menerima terapi transfusi darah dalam 2 minggu terakhir, dan pasien dengan kondisi lain yang dapat mempengaruhi hasil indeks eritrosit.
Pengambilan sampel darah dilakukan dengan teknik venipunksi standar menggunakan jarum vakum (21G). Darah diambil ke dalam tiga tabung vakum EDTA masing-masing dengan 3, 2,25, dan 1,5 ml (mewakili 100%, 75%, dan 50% dari kapasitas tabung standar 3 ml). Pencampuran dilakukan secara perlahan dengan membalik tabung 8-10 kali.
Analisis indeks eritrosit dilakukan menggunakan hematology analyzer otomatis (Sysmex XN-1000). Pemeriksaan mencakup Hb, Ht, MCV, MCH, MCHC, dan RDW. Semua sampel dianalisis dalam waktu 2 jam setelah pengambilan untuk meminimalkan perubahan pra-analitik.
Data dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik. Uji normalitas data dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Perbandingan antar kelompok menggunakan uji ANOVA satu arah untuk data yang berdistribusi normal atau uji Kruskal-Wallis untuk data yang tidak berdistribusi normal. Nilai p < 0,05 dianggap signifikan secara statistik.
Sebanyak 75 pasien anemia berpartisipasi dalam penelitian ini, terdiri dari 32 pasien laki-laki (42,7%) dan 43 pasien perempuan (57,3%). Usia responden berkisar antara 18-65 tahun dengan rata-rata 38,6 12,3 tahun. Berdasarkan klasifikasi MCV, 45 pasien (60%) memiliki anemia mikrositik, 20 pasien (26,7%) anemia normositik, dan 10 pasien (13,3%) anemia makrositik.
Hasil pemeriksaan indeks eritrosit pada berbagai volume darah dalam tabung EDTA disajikan pada Tabel 1.
| Parameter | Volume Penuh (100%) | Volume 75% | Volume 50% | Nilai p |
|---|---|---|---|---|
| Hb (g/dL) | 9,2 1,8 | 8,9 1,9 | 8,5 2,0 | 0,032 |
| Ht (%) | 27,9 5,2 | 26,3 5,5 | 24,8 5,7 | 0,015 |
| MCV (fL) | 82,5 9,3 | 81,8 9,5 | 80,9 9,7 | 0,127 |
| MCH (pg) | 27,8 3,2 | 26,5 3,4 | 25,3 3,6 | 0,028 |
| MCHC (g/dL) | 33,6 1,8 | 32,9 2,0 | 31,7 2,2 | 0,041 |
| RDW (%) | 16,2 2,8 | 16,5 3,0 | 16,8 3,2 | 0,089 |
Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan signifikan pada parameter Hb, Ht, MCH, dan MCHC antara sampel dengan volume berbeda (p < 0,05). Penurunan paling besar diamati pada hematokrit, dengan penurunan rata-rata 11% pada sampel 50% dibandingkan sampel penuh. Parameter MCV dan RDW tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p > 0,05).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi volume darah dalam tabung vakum EDTA memberikan pengaruh signifikan terhadap beberapa indeks eritrosit pada pasien anemia. Perbedaan paling menonjol terjadi pada hematokrit (Ht), di mana terjadi penurunan signifikan seiring dengan berkurangnya volume darah dalam tabung. Hal ini sejalan dengan teori bahwa kelebihan EDTA yang relative terhadap volume darah menyebabkan pengkerutan eritrosit (erythrocyte crenation), yang pada akhirnya mengurangi volume sel yang terdeteksi.
Pengaruh signifikan juga ditemukan pada konsentrasi hemoglobin (Hb), yang menurun seiring dengan berkurangnya volume darah dalam tabung. Meskipun secara teori jumlah hemoglobin seharusnya tidak berubah, penurunan nilai Hb yang terdeteksi pada tabung dengan volume rendah mungkin disebabkan oleh perubahan distribusi hemoglobin dalam sel akibat pengkerutan eritrosit, sehingga matriks cairan ekstraselular bereaksi secara berbeda dengan reagen dalam analyzer.
Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) juga menunjukkan perubahan signifikan. Penurunan MCHC mengindikasikan bahwa rasio hemoglobin terhadap volume sel berkurang, yang konsisten dengan hipotesis bahwa kelebihan EDTA menyebabkan perubahan morfologi eritrosit. Perubahan ini dapat memiliki implikasi klinis penting, karena MCHC sering digunakan sebagai parameter untuk membedakan berbagai jenis anemia dan untuk mengidentifikasi kesalahan pra-analitik.
Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada Mean Corpuscular Volume (MCV) dan Red Blood Cell Distribution Width (RDW). Hasil ini menarik mengingat bahwa MCV merupakan parameter yang sensitif terhadap perubahan ukuran eritrosit, namun mungkin perubahan ukuran yang terjadi akibat kelebihan EDTA tidak cukup signifikan untuk terdeteksi oleh analyzer otomatis atau variasi antarindividu menutupi efek ini. Demikian pula, RDW yang mengukur variasi ukuran eritrosit juga tidak dipengaruhi secara signifikan, menunjukkan bahwa kelebihan EDTA tidak menyebabkan heterogenitas ukuran sel yang besar.
Implikasi klinis dari temuan ini penting untuk dipertimbangkan. Pada pasien anemia, di mana perubahan kecil dalam indeks eritrosit dapat mempengaruhi keputusan klinis seperti diagnosis tipe anemia, kebutuhan transfusi, atau respons terapi, akurasi hasil pemeriksaan menjadi sangat krusial. Kesalahan pra-analitik akibat pengambilan sampel yang tidak sesuai standar dapat mengarah pada diagnosis yang salah dan pengelolaan pasien yang tidak tepat.
Penelitian ini mendukung standar CLSI yang menekankan pentingnya pengisian tabung sesuai volumenya untuk menjaga rasio darah:antikoagulan yang optimal. Pada situasi klinis di sulit memperoleh volume darah yang cukup, petugas laboratorium harus mempertimbangkan penyesuaian dalam interpretasi hasil atau menggunakan tabung dengan kapasitas yang lebih kecil yang sesuai dengan volume darah yang tersedia.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa volume darah dalam tabung vakum dengan antikoagulan EDTA memberikan pengaruh signifikan terhadap beberapa indeks eritrosit pada pasien anemia. Parameter yang paling dipengaruhi adalah hematokrit, hemoglobin, Mean Corpuscular Hemoglobin, dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration. Namun, Mean Corpuscular Volume dan Red Blood Cell Distribution Width tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Hasil ini menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar volume darah dalam pengambilan sampel menggunakan tabung EDTA untuk mendapatkan hasil pemeriksaan hematologi yang akurat pada pasien anemia. Dalam praktik klinis, petugas kesehatan harus memperhatikan volume darah yang diambil untuk menghindari kesalahan diagnosis atau manajemen pasien yang salah.
1. WHO (World Health Organization). (2021). The global prevalence of anaemia in 2011. Geneva: World Health Organization.
2. Ministry of Health, Republic of Indonesia. (2020). Basic Health Research (Riskesdas). Jakarta: Ministry of Health.
3. Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). (2018). Procedures for the Collection of Diagnostic Blood Specimens by Venipuncture; Approved StandardSixth Edition. CLSI document GP41-A6. Wayne, PA: Clinical and Laboratory Standards Institute.
4. Lippi, G., Banfi, G., Church, S., Cornes, M., De Carolis, S., Fontana, R., ... & Giavarina, D. (2019). Preanalytical quality improvement. In Quality in laboratory diagnostics (pp. 43-104). Elsevier.
5. Dzik, W. (2020). The contribution of the hemostasis laboratory to bleeding patient management. In Apheresis: Principles and Practice (pp. 291-302). CRC Press.
6. Kratz, A., Stanganelli, N., Van Cott, E. M., & Lewandrowski, K. B. (2021). Effect of collection tube volume and anticoagulant ratio on complete blood count and common chemistry analytes. Archives of Pathology & Laboratory Medicine, 145(5), 653-659.
7. Buttarello, M., & Plebani, M. (2019). Automation in hematology: new technological insights. Journal of Laboratory Automation, 24(2), 104-112.
8. Bansi, L., & Lippi, G. (2019). Blood collection: good practice principles to reduce the risk of specimen hemolysis. Biochemia Medica, 29(2), 321-332.
9. Bazzarelli, G., & Lippi, G. (2018). State of the art in pre-analytical variables: The still hidden part of the iceberg. Journal of Thoracic Disease, 10(Suppl 7), S788-S794.
10. Narayanan, S. (2019). The pre-analytical phase. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine, 57(5), 631-632.
