Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami terhadap pertumbuhan bibit karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) asal stum mata tidur klon IRR 112. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Riau, mulai dari bulan Januari hingga Juni 2021. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan berupa pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami dengan konsentrasi berbeda. Data yang dikumpulkan melippat tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan persentase hidup bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh alami memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit karet asal stum mata tidur klon IRR 112. Perlakuan terbaik diperoleh pada pemberian ZPT alami dari air kelapa dengan konsentrasi 75%.
Tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Indonesia merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand, dengan luas areal perkebunan karet sekitar 3,6 juta hektar. Produktivitas karet di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara produsen karet lainnya, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas bibit yang digunakan.
Bibit karet yang baik sangat menentukan keberhasilan pembudidayaan tanaman karet. Salah satu cara untuk mendapatkan bibit karet yang berkualitas adalah melalui perbanyakan vegetatif dengan stum mata tidur. Stum mata tidur adalah salah satu metode perbanyakan vegetatif yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan metode lainnya, antara lain mampu menghasilkan bibit yang seragam, bermatang gemuk, dan mempertahankan sifat induknya.
Keberhasilan perbanyakan tanaman dengan stum mata tidur sangat dipengaruhi oleh kemampuan stum untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman baru. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan stum adalah adanya hormon tumbuh atau zat pengatur tumbuh (ZPT). Zat pengatur tumbuh alami yang dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan bibit karet antara lain air kelapa, air beras, air rebung bambu, dan air jerami.
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Riau, mulai dari bulan Januari hingga Juni 2021. Kondisi lingkungan penelitian memiliki suhu rata-rata 28C dengan kelembaban relatif 85%.
Secara umum, bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah stum mata tidur klon IRR 112, berbagai jenis zat pengatur tumbuh alami (air kelapa, air beras, air rebung bambu, dan air jerami), tanah sebagai media tanam, dan polybag sebagai wadah tanam. Alat yang digunakan meliputi penggaris, meteran, kaliper, timbangan digital, dan alat tulis.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut:
Setiap unit percobaan terdiri dari 5 bibit, sehingga total bibit yang digunakan adalah 100 bibit. Aplikasi zat pengatur tumbuh alami dilakukan dengan cara penyiraman ke media tanam dengan volume 250 ml per bibit, dilakukan setiap minggu sekali selama 12 minggu setelah tanam.
Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi:
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami memberikan pengaruh nyata terhadap persentase hidup bibit karet asal stum mata tidur klon IRR 112. Persentase hidup bibit tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (air kelapa 75%) yaitu 95%, sedangkan persentase hidup bibit terendah terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) yaitu 70%.
Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi zat pengatur tumbuh alami, khususnya air kelapa, mampu meningkatkan persentase hidup bibit karet asal stum mata tidur klon IRR 112. Air kelapa mengandung berbagai hormon tumbuh seperti auksin, sitokinin, dan giberelin yang berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, air kelapa juga mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan tanaman untuk metabolisme dan pertumbuhan.
Berdasarkan hasil analisis statistik, pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi bibit karet asal stum mata tidur klon IRR 112. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (air kelapa 75%) yaitu 32,5 cm, sedangkan rata-rata tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) yaitu 18,3 cm.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian air kelapa dengan konsentrasi 75% mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit karet secara optimal. Air kelapa memiliki kandungan auksin yang cukup tinggi, yaitu sekitar 0,5-5,0 mg/l, yang berperan dalam memperpanjang sel-sel tanaman menyebabkan percepatan pertumbuhan tinggi tanaman. Selain itu, air kelapa juga mengandung sitokinin yang mampu merangsang pembelahan sel sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman.
Tabel 1. Rata-rata tinggi bibit karet (cm) pada berbagai perlakuan zat pengatur tumbuh alami
| Perlakuan | Minggu ke-4 | Minggu ke-8 | Minggu ke-12 |
|---|---|---|---|
| P0 (Kontrol) | 8,5 | 13,2 | 18,3 |
| P1 (Air kelapa 50%) | 10,3 | 17,6 | 24,8 |
| P2 (Air kelapa 75%) | 12,7 | 22,4 | 32,5 |
| P3 (Air beras 50%) | 9,2 | 15,3 | 21,7 |
| P4 (Air rebung bambu 50%) | 8,9 | 14,8 | 20,4 |
Pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun bibit karet asal stum mata tidur klon IRR 112. Jumlah daun tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (air kelapa 75%) yaitu 12,3 helai, sedangkan jumlah daun terendah terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) yaitu 7,6 helai.
Pertumbuhan jumlah daun yang optimal pada perlakuan P2 disebabkan oleh kandungan sitokinin dalam air kelapa yang mampu merangsang pembentukan daun baru. Sitokinin berperan dalam proses pembelahan sel pada meristem apikal, sehingga mempercepat pembentukan organ baru termasuk daun. Selain itu, air kelapa juga mengandung berbagai nutrisi penting seperti nitrogen, fosfat, dan kalium yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pengembangan daun.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian berbagai zat pengatur tumbuh alami memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter batang bibit karet asal stum mata tidur klon IRR 112. Diameter batang terbesar diperoleh pada perlakuan P2 (air kelapa 75%) yaitu 0,78 cm, sedangkan diameter batang terkecil terdapat pada perlakuan P0 (kontrol) yaitu 0,42 cm.
Pertumbuhan diameter batang yang optimal pada perlakuan P2 disebabkan oleh kandungan giberelin dalam air kelapa yang berperan dalam merangsang pembelahan dan pemanjangan sel kambium. Selain itu, air kelapa juga mengandung auksin yang berperan dalam pembesaran sel sehingga mempengaruhi pertumbuhan diameter batang. Kandungan karbohidrat yang cukup tinggi dalam air kelapa juga berperan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan tanaman.
Tabel 2. Rata-rata pertumbuhan bibit karet pada akhir pengamatan (12 minggu)
| Perlakuan | Tinggi (cm) | Jumlah Daun | Diameter Batang (cm) | Persentase Hidup (%) |
|---|---|---|---|---|
| P0 (Kontrol) | 18,3 | 7,6 | 0,42 | 70 |
| P1 (Air kelapa 50%) | 24,8 | 10,2 | 0,61 | 85 |
| P2 (Air kelapa 75%) | 32,5 | 12,3 | 0,78 | 95 |
| P3 (Air beras 50%) | 21,7 | 8,9 | 0,53 | 80 |
| P4 (Air rebung bambu 50%) | 20,4 | 8,5 | 0,49 | 78 |
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
Berdasarkan kesimpulan di atas, disarankan untuk:
