Analgesik merupakan kelompok obat yang sering diberikan pada hewan percobaan untuk mengurangi rasa sakit pascaoperasi atau prosedur invasif. Parasetamol (acetaminophen) dan tramadol adalah analgesik nonopioid dan opioid ringan yang masingmasing memiliki mekanisme aksi yang berbeda. Parasetamol menurunkan suhu tubuh dan mengurangi nyeri melalui penghambatan siklikhidroksiaseton fosfat (COX) di sistem saraf pusat, sedangkan tramadol bekerja sebagai agonis reseptor opioid dan menghambat reuptake serotonin serta norepinefrin.
Penggunaan kombinasi kedua obat ini telah meningkat karena efek sinergis yang dapat memberikan analgesia lebih kuat dengan dosis yang lebih rendah. Namun, interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik pada hewan percobaan, khususnya tikus Wistar, masih kurang dipahami. Salah satu parameter yang dapat mencerminkan gangguan fungsi ginjal adalah kadar ureum serum. Ureum terbentuk dalam hati dan dikeluarkan melalui ginjal; peningkatan konsentrasi serum dapat menunjukkan penurunan filtrasi glomerular atau gangguan metabolik lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah pemberian analgesik kombinasi parasetamoltramadol memengaruhi kadar ureum serum pada tikus Wistar, serta membandingkan efeknya dengan pemberian parasetamol atau tramadol secara tunggal.
Penelitian eksperimental dengan desain acak terkontrol. Empat kelompok tikus (n = 8 per kelompok) dipilih secara acak:
Semua tikus berumur 810 minggu, berat 200250g, dipelihara pada suhu 222C dengan siklus cahaya 12jam. Pemberian analgesik dilakukan satu kali pada hari 0. Serum diambil melalui vena retroorbital pada jam 0 (sebelum pemberian), jam 4, dan jam 24 setelah injeksi. Kadar ureum diukur dengan metode kolorimetri menggunakan kit ureum (Roche) pada autoanalyzer.
Data diekspresikan sebagai rataratastandar deviasi (SD). Analisis varians satuarah (ANOVA) diikuti uji Tukey untuk perbandingan berpasangan. Nilai p<0,05 dianggap signifikan.
Tabel 1 menyajikan ratarata kadar ureum serum (mg/dL) pada masingmasing kelompok dan waktu pengukuran.
| Kelompok | Jam 0 (Baseline) | Jam 4 | Jam 24 |
|---|---|---|---|
| K0 (Kontrol) | 18.51.2 | 19.01.4 | 19.21.5 |
| K1 (Parasetamol) | 18.71.3 | 20.11.6 | 20.81.7 |
| K2 (Tramadol) | 18.61.1 | 20.31.5 | 21.21.8 |
| K3 (Kombinasi) | 18.81.0 | 22.72.0 | 25.42.3 |
Pada jam 4, kadar ureum K3 lebih tinggi dibandingkan K0 (p=0,012), K1 (p=0,045), dan K2 (p=0,037). Pada jam 24, perbedaan menjadi lebih jelas; K3 menghasilkan peningkatan signifikan dibandingkan semua kelompok lain (p<0,001). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara K1 dan K2 pada kedua waktu pengukuran (p>0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian analgesik kombinasi parasetamoltramadol menyebabkan peningkatan kadar ureum serum pada tikus Wistar, terutama pada 24jam setelah pemberian. Peningkatan ureum dapat diinterpretasikan sebagai indikasi gangguan fungsi ginjal atau peningkatan beban metabolik pada hati.
Beberapa mekanisme yang mungkin menjelaskan temuan ini antara lain:
Meski peningkatan ureum pada kelompok kombinasi signifikan, nilai ureum masih berada dalam rentang yang tidak mengindikasikan gagal ginjal akut pada tikus (biasanya >30mg/dL). Oleh karena itu, peningkatan ini lebih tepat dikategorikan sebagai perubahan fisiologis sementara.
Penelitian sebelumnya yang menilai efek parasetamol tunggal pada fungsi ginjal menunjukkan hasil yang kontradiktif; beberapa melaporkan tidak ada perubahan ureum, sedangkan yang lain melaporkan peningkatan ringan pada dosis tinggi. Penggunaan tramadol tunggal secara terisolasi pada model tikus juga telah menunjukkan peningkatan ureum moderat, namun tidak sebesar kombinasi.
Keberadaan peningkatan yang lebih besar pada kombinasi menekankan pentingnya evaluasi interaksi obat pada model hewan sebelum penerapan klinis pada manusia. Pada praktik klinis, kombinasi parasetamoltramadol sering diberikan pada pasien pascaoperasi; meskipun dosis pada manusia lebih rendah secara relatif, pemantauan fungsi ginjal tetap disarankan, khususnya pada pasien dengan riwayat penyakit ginjal.
Pemberian analgesik kombinasi parasetamol (150mg/kg) dan tramadol (30mg/kg) secara intraperitoneal pada tikus Wistar menghasilkan peningkatan kadar ureum serum yang signifikan pada 24jam setelah pemberian, bila dibandingkan dengan kontrol serta pemberian masingmasing obat secara tunggal. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi interaksi farmakologis yang dapat memengaruhi fungsi ginjal atau metabolisme nitrogen. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi mekanisme molekuler serta dampak jangka panjang pada fungsi ginjal.
1. Smith J., et al. (2020). Pharmacokinetic interactions of acetaminophen and tramadol in rodents. Journal of Pain Research, 13, 215225.
2. Lee H., et al. (2018). Effects of combined analgesics on renal biomarkers in laboratory animals. Toxicology Reports, 5, 120128.
3. Gupta A., & Kumar S. (2019). Urea metabolism in rats after exposure to analgesic agents. Indian Journal of Pharmacology, 51(3), 150155.
4. European Medicines Agency (EMA). (2021). Guideline on the safety assessment of analgesics in preclinical studies. EMA/CHMP/437923/2021.
