Penatalaksanaan Fisioterapi pada Low Back Pain Suspect Hernia Nucleus Pulposus
1. Pengantar
Low back pain (LBP) merupakan keluhan muskuloskeletal yang paling umum ditemui pada klinik fisioterapi. Salah satu penyebab utama LBP adalah hernia nucleus pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal dengan diskus prolaps. Pada kasus suspect HNP, gejala klinis belum dapat dipastikan melalui pencitraan, sehingga fisioterapis harus melakukan penilaian komprehensif dan menerapkan pendekatan terapeutik berbasis bukti.
2. Patofisiologi Singkat
Diskus intervertebralis terdiri atas annulus fibrosus (lapisan luar) dan nucleus pulposus (inti gel). Tekanan mekanik yang berulang atau trauma akut dapat menyebabkan robekan pada annulus, sehingga nucleus menonjol ke kanal spinal. Tekanan pada saraf spinal menimbulkan nyeri, parestesia, dan/atau penurunan kekuatan otot.
- HNP akut: Nyeri tajam, radikulopati, refleks terganggu.
- HNP kronis: Nyeri tumpul, kekakuan, penurunan fungsi.
3. Tujuan Terapi Fisioterapi
- Meredakan nyeri dan mengurangi penggunaan obat analgesik.
- Meningkatkan mobilitas segmen lumbar.
- Memulihkan kontrol motorik otot inti (core stability).
- Mencegah kekambuhan melalui edukasi postur dan ergonomi.
4. Pemeriksaan Awal
Pemeriksaan fisioterapi meliputi:
- Anamnesis: durasi nyeri, mekanisme cedera, faktor pemicu, riwayat medis.
- Pemeriksaan postural: penilaian kurva lumbar (lordosis) dan asimetri panggul.
- Range of Motion (ROM): fleksibilitas lumbar dan ekstremitas bawah.
- Tes Neurologis: tes straight leg raise (SLR), reflex, sensasi.
- Evaluasi kekuatan otot: gluteus maximus, gluteus medius, multifidus, erektor spinae.
5. Modus Terapi
5.1. Manajemen Nyeri Akut
- Terapi panas/dingin: kompres es 1015menit tiap 23jam selama 48jam pertama; selanjutnya panas hangat untuk relaksasi otot.
- Modalitas listrik: TENS (2030menit, frekuensi 80100Hz) untuk blokade nyeri.
- Ultrasonografi: 1MHz, 1W/cm, 58menit untuk meningkatkan sirkulasi.
5.2. Mobilisasi Pasif
Gerakan pasif pada segmen lumbar untuk mengurangi kekakuan dan meningkatkan aliran cairan intervertebralis.
- Mobilisasi segmental (grade III) pada L4L5 dan L5S1 selama 68set, 30detik/set.
- Teknik piriformis stretch untuk mengurangi tekanan saraf sciatic.
5.3. Latihan Penguatan Inti (Core Stability)
Fokus pada otot multifidus, transversus abdominis, dan oblique internal.
- Dead Bug: 3 set x 10 repetisi per sisi.
- BirdDog: 3 set x 12 repetisi per sisi.
- Plank Variasi: front plank 2030detik, side plank masingmasing 1520detik.
5.4. Latihan Penguatan Ekstensor Lumbar
- Superman: 3 set x 12 repetisi.
- Hyperextension pada bench: 3 set x 1012 repetisi.
5.5. Stretching Otot Piriformis & Hamstring
Setiap sesi, tahan 30detik, ulangi 34 kali.
5.6. Pendidikan & Ergonomi
- Instruksi mengangkat beban: tekuk lutut, jaga punggung lurus.
- Edukasi postur duduk (punggung menempel pada sandaran, kaki rata).
- Latihan microbreak setiap 30 menit saat kerja di meja.
6. Protokol Rehabilitasi Bertahap
| Tahap | Durasi | Fokus Terapi |
| I Akut | 02minggu | Kontrol nyeri, mobilisasi pasif, penguatan inti ringan. |
| II Subakut | 26minggu | Penguatan progresif, latihan fungsional, edukasi aktivitas. |
| III Pemulihan | 612minggu | Latihan beban, latihan kardio ringan, persiapan kembali ke pekerjaan. |
7. Tanda Peringatan (Red Flag) yang Memerlukan Rujukan
- Kehilangan kontrol otot (incontinence, foot drop).
- Nyeri tidak terkontrol meski terapi intensif.
- Gejala progresif atau muncul setelah trauma berat.
- Masalah medis kronis (mis. osteoporosis parah, tumor).
Jika muncul salah satu atau lebih tanda di atas, segera rujuk ke dokter spesialis ortopedi atau saraf.
8. Kesimpulan
Fisioterapi pada low back pain dengan kecurigaan hernia nucleus pulposus menuntut pendekatan bertahap, mulai dari kontrol nyeri hingga penguatan inti dan edukasi ergonomi. Penilaian yang cermat, penggunaan modalitas yang tepat, serta program latihan berbasis bukti dapat mempercepat pemulihan, mengurangi ketergantungan obat, dan menurunkan risiko kekambuhan. Kolaborasi dengan tenaga medis lain tetap penting untuk menyingkirkan red flag dan memastikan keamanan pasien.
Sumber: Literatur fisioterapi terkini, jurnal ortopedi, dan pedoman klinis Kementerian Kesehatan RI.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.