Pemahatan mendalam mengenai mekanisme penyakit, cara kerja bakteri, hingga penentuan diagnosis klinis yang akurat. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meskipun terutama menyerang paru-paru (pulmonal), bakteri ini dapat menginfeksi bagian tubuh lainnya seperti ginjal, tulang belakang, dan otak. Penyakit ini menyebar melalui udara ketika penderita aktif batuk, bersin, atau meludah. Memahami bagaimana bakteri ini berkembang biak dan mengenali gejala dini adalah kunci utama dalam penanganan dan pencegahan penularan. Bagaimana bakteri tuberkulosa menyerang sistem kekebalan tubuh Infeksi dimulai ketika droplet (partikel kecil ludah) yang mengandung basil M. tuberculosis terhirup oleh individu yang sehat. Basil ini kemudian mencapai alveolus paru-paru. Makrofag alveolar mencoba menelan bakteri (fagositosis). Namun, pada tahap awal, bakteri TB mampu bertahan hidup dan bahkan membelah di dalam makrofag, menghindari mekanisme pertahanan tubuh. Bakteri yang telah membelah masuk ke dalam sistem limfe dan darah, menyebar ke area paru lain dan organ ekstrapulmoner. Ini menandai fase bakteremia awal. Sekitar 2-3 minggu pasca-infeksi, sistem imun tubuh (sel T) mulai bereaksi. Makrofag yang diaktifkan mengelilingi bakteri membentuk struktur yang disebut Granuloma atau fokus Ghon. Pada tahap ini, pasien biasanya positif tes tuberkulin tetapi asimtomatik (Latent TB). Jika sistem imun melemah (misalnya karena HIV, malnutrisi, atau diabetes), dinding granuloma dapat pecah. Bakteri yang terperangkap keluar, berkembang biak dengan cepat, dan menyebabkan kerusakan jaringan paru (kavitas). Pada tahap inilah gejala klinis muncul dan pasien menularkan. Klasifikasi TB berdasarkan lokasi anatomis dan riwayat pengobatan Jenis TB paling umum. Terjadi pada jaringan paru-paru. Ciri khasnya adalah keluhan batuk lama (lebih dari 2 minggu), berat badan turun, dan keringat malam. Infeksi di luar paru-paru. Dapat menyerang selaput paru (pleura), kelenjar getah bening (limfadenitis), tulang (spondylitis TB), selaput otak (meningitis TB), dan organ lain. Meliputi TB Resisten Isoniazid (H), Multidrug-Resistant TB (MDR-TB) resisten terhadap Isoniazid dan Rifampisin, hingga XDR-TB yang lebih sulit diobati. Langkah pemeriksaan untuk memastikan keberadaan bakteri TB Smear Mikroskopis BTA (Basil Tahan Asam): Metode paling cepat dan murah. Menggunakan pewarnaan Ziehl-Neelsen untuk melihat bakteri di bawah mikroskop. Tes Cepat Molekuler (TCM / GeneXpert): Mendeteksi DNA bakteri M. tuberculosis serta resistensi terhadap Rifampisin dalam waktu kurang dari 2 jam. Sangat akurat. Merupakan "Gold Standard" diagnosis. Sampel dibiakkan di media khusus (seperti Ogawa atau LJ). Memakan waktu 4-8 minggu untuk melihat pertumbuhan koloni, namun sangat sensitif. Penunjang diagnosis penting, terutama jika hasil pemeriksaan dahak negatif namun gejala klinis kuat. Gambaran tipikal adalah adanya infiltrat di lapangan atas paru, kavitasi, atau lesi nodular. Suntikan antigen tuberkulin (PPD) intrakutan. Pembacaan indurasi (bukan kemerahan) dilakukan setelah 48-72 jam. Positif jika indurasi >10 mm pada populasi umum. Hasil positif menunjukkan adanya infeksi TB (bukan aktif) atau sensitasi akibat vaksin BCG.Tuberkulosis
Sekilas Tentang TB
Patofisiologi
Inhalasi dan Penyimpanan
Fagositosis dan Multiplikasi
Penyebaran Limfatik
Imunitas Seluler dan Granuloma
Reaktivasi (TB Aktif)
Klasifikasi Tuberkulosis
TB Paru (Pulmonal)
TB Ekstraparu
TB Resisten Obat (TB-RO)
Tabel Klasifikasi TB Menurut WHO
Kategori Deskripsi TB Kasus Baru Pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TB atau telah minum obat TB kurang dari 1 bulan. TB Relaps Pasien yang dinyatakan sembuh sebelumnya, tetapi kembali positif bakteriologis. Kegagalan Pengobatan Pasien tetap positif BTA pada bulan ke-5 pengobatan atau setelahnya. Drop Out (Lama) Pasien pernah berobat TB > 1 bulan, berhenti, lalu kembali berobat dengan hasil positif. Diagnosis
1. Pemeriksaan Dahak (Sputum)
2. Budidaya Bakteri (Culture)
3. Foto Thorax (Rontgen)
4. Uji Tuberkulin (Mantoux / PPD)
