Pasar modal Indonesia terus berkembang seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan digitalisasi layanan keuangan. Generasi milenial (lahir antara 19811996) menjadi segmen penting bagi industri investasi karena perilaku konsumsi yang dipengaruhi oleh teknologi, nilainilai sosial, dan aspirasi finansial jangka panjang. Namun, meskipun akses informasi semakin mudah, tingkat partisipasi milenial dalam pasar modal masih relatif rendah dibandingkan dengan harapan para pemangku kepentingan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktorfaktor yang memengaruhi minat berinvestasi pada pasar modal di kalangan milenial dengan menggunakan kerangka Reasoned Action Approach (RAA). RAA, yang dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen, menekankan peran niat (intention) sebagai prediktor utama perilaku, yang dipengaruhi oleh sikap (attitude), norma subjektif (subjective norm), dan persepsi kontrol perilaku (perceived behavioral control).
RAA menyatakan bahwa keputusan berinvestasi dipengaruhi oleh tiga konstruksi utama:
Ketiga elemen tersebut berinteraksi menghasilkan niat berinvestasi, yang pada gilirannya memprediksi perilaku nyata seperti pembelian saham, obligasi, atau reksa dana.
Penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei dilakukan pada 500 responden milenial yang berusia 2335 tahun dan berdomisili di kotakota besar Indonesia. Kuesioner daring disusun berdasarkan skala Likert 5 poin untuk mengukur sikap, norma subjektif, persepsi kontrol, niat, serta perilaku investasi aktual.
Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh masingmasing variabel independen terhadap niat, serta regresi logistik untuk memprediksi probabilitas perilaku investasi. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji dengan Cronbachs Alpha (0,78).
Sikap positif secara signifikan meningkatkan niat berinvestasi ( = 0,42, p < 0,001). Responden yang menganggap investasi sebagai cara efektif untuk menumbuhkan kekayaan jangka panjang cenderung memiliki keinginan kuat untuk memulai investasi.
Pengaruh norma subjektif terbukti lebih lemah daripada sikap ( = 0,18, p = 0,032). Namun, dukungan keluarga dan teman tetap berperan penting, terutama bagi milenial yang masih bergantung pada jaringan sosial dalam pengambilan keputusan finansial.
Persepsi kontrol memiliki efek paling kuat ( = 0,55, p < 0,001). Tingkat literasi keuangan, akses ke aplikasi investasi, dan kepercayaan terhadap penyedia layanan menjadi faktor kunci. Milenial yang merasa mampu mengelola risiko dan memahami mekanisme pasar lebih mungkin melakukan investasi nyata.
Niat berinvestasi menempati peran mediating yang signifikan ( = 0,62, p < 0,001) antara konstruk RAA dan perilaku investasi. Sekitar 68% responden yang menyatakan niat kuat telah melakukan setidaknya satu transaksi investasi dalam tiga bulan terakhir.
Dari temuan di atas, dapat disarankan:
Penelitian ini menunjukkan bahwa Reasoned Action Approach dapat menjelaskan secara komprehensif variabelvariabel yang memengaruhi minat berinvestasi pada generasi milenial. Sikap positif dan persepsi kontrol terhadap investasi menjadi prediktor utama niat, sementara norma subjektif berperan sebagai faktor pendukung. Upaya peningkatan partisipasi milenial dalam pasar modal hendaknya menitikberatkan pada pendidikan finansial, peningkatan kepercayaan diri dalam mengelola investasi, serta penciptaan lingkungan sosial yang mendukung.
Ke depan, penelitian lanjutan dapat memperluas sampel ke wilayah semiurban, menambahkan variabel psikologis lain seperti risk tolerance, serta menguji intervensi berbasis digital yang dirancang khusus untuk milenial.
