Penelitian mengenai kebijakan luar negeri Filipina terhadap Amerika Serikat selama masa kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte memerlukan pendekatan metodologis yang komprehensif. Perubahan signifikan dalam orientasi kebijakan luar negeri Filipina, dari tradisional pro-Amerika menjadi lebih independen dan bahkan kadang-kadang konfrontatif, menuntut analisis yang mendalam.
Pendekatan kualitatif merupakan fondasi utama dalam penelitian ini. Metodologi ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konteks historis, dinamika politik internal, dan pertimbangan strategis yang mendasari perubahan kebijakan luar negeri Filipina. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk menangkap nuansa dan kompleksitas hubungan bilateral yang tidak dapat diukur secara kuantitatif.
Analisis dokumen merupakan komponen krusial dalam penelitian ini. Dokumen-dokumen yang dianalisis meliputi pernyataan resmi pemerintah Filipina, pidato Presiden Duterte, perjanjian bilateral, dan dokumen strategis keamanan nasional. Analisis ini membantu mengidentifikasi pergeseran retorika dan substansi dalam kebijakan luar negeri Filipina terhadap Amerika Serikat.
Analisis historis diperlukan untuk menempatkan kebijakan Duterte dalam konteks hubungan Filipina-AS yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Metodologi ini memungkinkan pemahaman tentang bagaimana kebijakan Duterte merepresentasikan kontinuitas atau diskontinuitas dari kepemimpinan sebelumnya. Analisis komparatif juga berguna untuk membandingkan pendekatan Duterte dengan presiden-presiden Filipina lainnya dalam mengelola hubungan dengan Amerika Serikat.
Penelitian ini juga mempertimbangkan pendekatan tingkat analisis pemerintahan (level of analysis) dengan fokus pada peran pemimpin (leader-centric analysis). Kepribadian Duterte yang unik dan gaya kepemimpinan yang konfrontatif memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan luar negeri Filipina. Analisis ini memerlukan pemeriksaan terhadap latar belakang Duterte, pandangan ideologisnya, dan gaya komunikasinya.
Dalam konteks yang lebih luas, analisis geopolitik membantu memahami bagaimana perubahan lanskap keamanan regional dan persaingan besar antara Amerika Serikat dan China mempengaruhi kebijakan luar negeri Filipina. Selain itu, pendekatan konstruksionisme berguna untuk menganalisis bagaimana identitas nasional dan persepsi kolektif Filipina tentang diri mereka dan peran mereka dalam tatanan internasional memengaruhi kebijakan luar negeri mereka.
Wawancara dengan para ahli hubungan internasional, akademisi, mantan pejabat pemerintah, dan diplomat dapat memberikan wawasan berharga tentang kebijakan luar negeri Filipina. Wawancara semi-terstruktur memungkinkan fleksibilitas untuk menjelajahi berbagai perspektif dan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan luar negeri.
Penerapan metode studi kasus akan berguna untuk menganalisis momen-momen kritis dalam hubungan Filipina-AS selama masa Duterte, seperti perdebatan mengenai kehadiran militer AS di Filipina, respon terhadap isu hak asasi manusia, dan pembalikan posisi Filipina dalam sengketa Laut China Selatan. Studi kasus yang mendalam memberikan pemahaman rinci tentang dinamika decision-making dan faktor-faktor yang memengaruhi hasil kebijakan.
Integrasi berbagai pendekatan metodologis menjadi penting untuk menghasilkan analisis yang komprehensif dan holistik. Kombinasi analisis dokumen, analisis wawancara, dan konteks historis memungkinkan peneliti membangun narasi yang kuat tentang bagaimana dan mengapa kebijakan luar negeri Filipina berubah selama masa Duterte.
Untuk memastikan validitas dan reliabilitas penelitian, teknik triangulasi akan digunakan. Triangulasi metodologis melibatkan penggunaan berbagai sumber data dan metode untuk mengkonfirmasi temuan penelitian. Selain itu, peer review melalui presentasi di konferensi akademik dan publikasi di jurnal yang direview mitra akan membantu memvalidasi temuan penelitian.
Penelitian ini mengakui beberapa batasan metodologis. Keterbatasan akses dokumen rahasia pemerintah, bias dalam pernyataan publik, dan dinamika politik yang berubah dengan cepat merupakan tantangan yang perlu diatasi. Selain itu, persepsi subjektif dari wawancara dapat memengaruhi interpretasi data kualitatif.
Metodologi penelitian yang komprehensif dan multi-metodologis diperlukan untuk mengungkap kompleksitas kebijakan luar negeri Filipina terhadap Amerika Serikat selama masa kepemimpinan Presiden Duterte. Melalui kombinasi pendekatan kualitatif, analisis dokumen, perspektif historis, dan wawancara dengan para ahli, penelitian ini dapat memberikan kontribusi berharga bagi pemahaman akademik tentang dinamika hubungan internasional di Asia Pasifik dan faktor-faktor yang mendorong perubahan kebijakan luar negeri negara.
