Asuhan kebidanan kontinuitas (Continuity of Midwifery Care) adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan kewajiban profesinya, mulai dari masa kehamilan, persalinan, masa nifas, sampai dengan masa bayi baru lahir (BBL) dan Keluarga Berencana (KB). Tujuan utama dari penerapan asuhan kebidanan kontinuitas ini adalah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh.
Berdasarkan data kesehatan terkini, komplikasi kehamilan dan persalinan masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik dan berkesinambungan sangat diperlukan untuk memantau perkembangan kehamilan, mendeteksi dini tanda-tanda bahaya, serta memastikan tatalaksana yang tepat saat proses persalinan dan setelahnya. Laporan ini akan membahas secara mendalam mengenai asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny. S secara kontinuitas.
Kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan spermatozoa dan ovum, kemudian diikuti nidasi atau implantasi. Kehamilan normal berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari (hitungan minggu terakhir haid) dan dibagi menjadi 3 triwulan.
Selama kehamilan, terjadi berbagai perubahan fisiologis pada tubuh ibu untuk mendukung pertumbuhan janin, di antaranya:
| Nama | Ny. S (Nama Samaran) |
|---|---|
| Usia | 26 Tahun |
| Suku / Bangsa | Jawa / Indonesia |
| Agama | Islam |
| Pendidikan | SMA |
| Pekerjaan | Ibu Rumah Tangga |
| Status Perkawinan | Menikah (2 Tahun) |
Klien datang ke klinik dengan keluhan terlambat haid selama 3 bulan. Klien mengaku merasa mual (morning sickness) terutama di pagi hari, sering buang air kecil, dan mudah lelah. Riwayat haid teratur (28 hari), HPHT terakhir tanggal 15 Januari 2023. Klien menolak pemeriksaan USG karena alasan biaya, namun bersedia melakukan perawatan standar.
Berdasarkan pemeriksaan, diagnosa kehamilan adalah Gesta 1 Primigravida Usia Kehamilan 12 Minggu Intrauterine Tunggal Hidup.
Bidan melakukan konseling gizi secara langsung pada klien dan keluarga. Klien diberikan 30 tablet TTD untuk diminum selama 1 bulan. Imunisasi TT diberikan pada lengan kanan intramuskular.
Klien mengerti dan bersedia mengkonsumsi makanan bergizi serta tablet tambah darah. Lansia atau keluarga mendukung program pemantauan kehamilan di rumah. Jadwal kunjungan berikutnya dijadwalkan 1 bulan kemudian.
Saat kehamilan memasuki usia 39 minggu, klien melaporkan adanya his yang teratur. Klien dilarikan ke puskesnas setempat.
Diagnosa: Parturient kala I fase laten kemudian berangsung ke fase aktif. Tindakan yang dilakukan meliputi pemantauan partograf secara berkala setiap 1 jam satu kali. Memastikan ketenangan ibu via dukungan dari suami (pendampingan). Mendengarkan DJJ (Detak Jantung Janin) menggunakan doppler atau stetoskop laennec.
Obstetri Palpasi: Letak kepala (Cephalic Presentatio), Punggung sebelah kiri (LoA). Pembukaan serviks dipantau hingga lengkap (10 cm).
Setelah pembukaan lengkap, klien dipersilahkan untuk mengejan sesuai kontraksi. Bidan melakukan epistomi mediolateral dengan anestesi lokal untuk mempercepat proses kelahiran dan mencegah ruptur perineum spontan yang berat. Bayi lahir spontan kepala dengan seksio sesarea tidak dilakukan.
Plasenta lahir spontan Schultze (dengan permukaan licin di luar). Inspeksi kasat mata tidak terdapat jaringan plasenta yang tertinggal. Kontraksi uterus dinilai baik (bola padat). Tindakan aktif manajemen kala III diberikan yaitu injeksi Oksitosin 10 IU intramuskuler segera setelah bahu lahir.
Subjektif: Ibu mengaku sedikit nyeri pada bekas luka episiotomi, mengaku sudah bisa buang air kecil. Objektif: TD: 110/70, N: 80, S: 37C. TFU (Tinggi Fundus Uteri) setinggi pusat (umbilicus), involusi uterus baik. Lochia rubra sedikit. Kondisi plasenta lahir lengkap.
Tindakan: Memberikan edukasi menyusui dini (IMD) yang sudah dilakukan. Jika belum, dilanjutkan edukasi teknik menyusui yang benar agar puting susu tidak lecet. Klien dianjurkan banyak minum air putih untuk membantu produksi ASI.
Kondisi luka episiotomi telah sembuh dan jahatan dilepas (jika non-absorbable). TFU 2 jari di bawah pusat. Lochia berubah menjadi lochia serosa. Ibu dan bayi dalam kondisi sehat.
Identitas Bayi: Laki-laki, lahir dengan BB 3100 gram, PB 49 cm, LK 32 cm.
Penilaian Bayi Baru Lahir:
Edukasi tentang manajemen laktasi, cara mandi bayi, serta tanda-tanda bahaya pada bayi (demam, kuning, tidak mau menyusu).
Asuhan kebidanan kontinuitas yang telah diberikan kepada Ny. S berjalan dengan baik dan lancar. Kehamilan berjalan normal tanpa komplikasi berarti, persalinan berlangsung spontan melalui jalan lahir pervaginam, dan masa nifas serta kondisi bayi baru lahir dalam keadaan sehat. Kerjasama yang baik antara bidan, klien, dan keluarga menjadi kunci keberhasilan tatalaksana ini. Penanganan masalah baik fisik maupun psikologis pada ibu bersalin dan nifas telah teratasi sesuai standar operasional prosedur (SOP).
1. Depkes RI. (2014). Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: EGC.
2. Saifuddin, A.B. (2012). Buku Acuan Residen Obstetri & Ginekologi. Jakarta: YBP-SP.
3. Varney, H. (2014). Varney's Midwifery. 5th Edition. Jones & Bartlett Learning.
4. Ikatan Bidan Indonesia. (2015). Standar Asuhan Kebidanan Indonesia. Jakarta.
