Terasi merupakan bahan baku penting dalam masakan tradisional Indonesia, khususnya di Pulau Lombok. Pada beberapa pasar tradisional di daerah selatan (SE) Kota Mataram, pedagang terkadang menggunakan Rhodamin B sebagai pewarna buatan untuk meningkatkan penampilan produk. Penggunaan bahan kimia ini menimbulkan pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan pedagang tentang risiko kesehatan dan dampaknya terhadap perilaku penjualan.
Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang sering dipakai dalam industri makanan, namun penggunaannya pada produk fermentasi seperti terasi belum disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sejumlah studi lokal menunjukkan bahwa pedagang dengan pengetahuan rendah tentang peraturan sanitasi cenderung melanjutkan praktik tersebut, sementara pedagang yang lebih teredukasi lebih jarang menggunakan bahan terlarang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei lapangan pada 120 pedagang terasi di tiga pasar tradisional utama (Pasar Pasir Putih, Pasar Mataram, dan Pasar Selong). Kuesioner menilai dua variabel utama:
Data dianalisis dengan koefisien korelasi Pearson dan regresi linier sederhana.
Ratarata nilai pengetahuan pedagang sebesar 58,412,7. Distribusi perilaku penggunaan Rhodamin B adalah sebagai berikut:
| Kategori Penggunaan | Jumlah Pedagang | Persentase |
|---|---|---|
| Tidak pernah | 48 | 40% |
| Jarang | 30 | 25% |
| Kadangkadang | 28 | 23,3% |
| Sering | 14 | 11,7% |
Koefisien korelasi antara nilai pengetahuan dan frekuensi penggunaan Rhodamin B adalah r = 0,62 (p < 0,01), menunjukkan hubungan negatif yang signifikan; semakin tinggi pengetahuan, semakin rendah kecenderungan penggunaan.
Gambar 1. Hubungan nilai pengetahuan dengan frekuensi penggunaan Rhodamin B (data simulasi).
1. Peran Pengetahuan Teknis
Pedagang yang memahami regulasi BPOM dan efek toksik Rhodamin B (nilai pengetahuan 70) hampir tidak pernah menggunakannya (hanya 3% dari kelompok ini). Pengetahuan teknis tampak menjadi penghalang utama dalam adopsi praktik tidak legal.
2. Faktor Ekonomi
Beberapa pedagang dengan pengetahuan menengah (skor 5070) melaporkan penggunaan jarang atau kadangkadang karena tekanan persaingan harga dan keinginan memperbaiki tampilan produk agar lebih menarik bagi konsumen.
3. Pengaruh Sosial
Pedagang yang tergabung dalam kelompok usaha (koperasi) menunjukkan nilai pengetahuan lebih tinggi dan penggunaan lebih rendah dibandingkan pedagang independen. Interaksi antaranggota memungkinkan pertukaran informasi mengenai bahaya bahan kimia.
Penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang kuat antara nilai pengetahuan pedagang dan perilaku mereka dalam penggunaan Rhodamin B pada terasi di pasar tradisional SE Kota Mataram. Peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, serta penguatan mekanisme pengawasan, diyakini dapat mengurangi praktik penggunaan bahan kimia terlarang dan meningkatkan keamanan pangan bagi konsumen.
