Pengantar
Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan dapat berpotensi mengancam jiwa. Meskipun telah ada vaksinasi yang efektif, difteri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyakit ini memicu kekhawatiran dunia kesehatan karena tingkat kematian yang tinggi jika tidak segera ditangani dengan tepat.
Memahami konsep penyakit difteri dan penatalaksanaannya menjadi sangat penting bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat luas. Pengetahuan yang memadai tentang penyakit ini dapat membantu dalam pencegahan, deteksi dini, dan upaya pengobatan yang efektif, sehingga angka morbiditas dan mortalitas dapat ditekan.
Definisi
Difteri adalah penyakit infeksi menular yang terutama memengaruhi selaput lendir faring, tonsil, laring, hidung, dan kadang-kadang kulit serta selaput lendir lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae, yang dapat menyebabkan pembentukan pseudomembran (selaput tiruan) pada area yang terinfeksi.
Bakteri penyebab difteri menghasilkan eksotoksin yang menghambat sintesis protein dalam sel manusia, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan lokal dan manifestasi sistemik yang serius, termasuk kerusakan jantung, ginjal, dan sistem saraf.
Etiologi dan Patogenesis
Difteri disebabkan oleh bakteri aerobik Gram-positif berbentuk batang (rod-shaped) yang disebut Corynebacterium diphtheriae. Terdapat tiga biotipe utama dari bakteri ini: gravis, intermedius, dan mitis, yang semuanya dapat menghasilkan toksin jika terinfeksi oleh bakteriofag lysogenik yang membawa gen toksin.
Cara Penularan
Corynebacterium diphtheriae menyebar melalui:
- Droplet pernapasan (batuk atau bersin dari penderita
- Kontak langsung dengan luka pada kulit penderita
- Objek yang terkontaminasi dengan bakteri (handuk, mainan, dll.)
Patogenesis
Bakteri biasanya berkembang biak di area permukaan selaput lendir bagian atas pernapasan. Setelah terinvasi, bakteri ini menghasilkan toksin diphtheria yang dapat menyebar melalui aliran darah dan getah bening. Toksin ini akan mengikat ke reseptor tertentu pada sel target dan kemudian menghambat sintesis protein dalam sel, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel.
Respon inflamasi terhadap infeksi dan toksin menyebabkan pembengkakan, nekrosis jaringan, dan pembentukan pseudomembran yang khas dari difteri. Pseudomembran ini terdiri dari fibrin, sel darah putih, sel epitel yang mati, dan mikroorganisme yang terpadat menjadi lapisan tebal yang dapat menutupi saluran napas.
Manifestasi Klinis
Periode inkubasi difteri berkisar antara 2-5 hari, namun dapat berlangsung hingga 10 hari. Manifestasi klinis difteri sangat bervariasi, mulai dari infeksi asimtomatik hingga bentuk yang berat dan mengancam jiwa. Berdasarkan lokasi dan keparahan, difteri dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk:
Difteri Nasofaring
Ini adalah bentuk yang paling umum dan serius. Ciri khasnya meliputi:
- Demam ringan hingga sedang (38-39C)
- Sakit tenggorokan yang progresif
- Pembentukan pseudomembran yang khas pada tonsil, faring, atau laring
- Bengkak pada leher (bull neck) yang disebabkan oleh pembesaran kelenjar getah bening
- Suara serak dan kesulitan bernapas jika laring terlibat
- Malaise dan kelemahan umum
Difteri Laring
Bentuk ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan obstruksi saluran napas yang fatal. Gejalanya meliputi:
- Stridor (bunyi napas yang abnormal dan tajam)
- Batuk menyalak (croupy cough)
- Suara serak
- Dyspnea (kesulitan bernapas) yang progresif
- Cyanosis (kebiruan pada kulit dan selaput lendir) pada tahap lanjut
Difteri Kulit
Bentuk ini biasanya lebih ringan dan sering terjadi di daerah tropis dengan sanitasi kurang baik. Ciri-cirinya meliputi:
- Luka kulit kronis dengan tumbuhnya pseudomembran
- Eritema (kemerahan) dan edema
- Nyeri pada area luka
- Penyembuhan yang lambat
Difteri Lainnya
Selain bentuk-bentuk di atas, difteri juga dapat menyerang konjungtiva (difteri mata), vagina, dan telinga, meskipun bentuk ini lebih jarang terjadi.
Peringatan: Difteri dapat menyebabkan komplikasi serius yang berpotensi mengancam jiwa, termasuk miokarditis (peradangan otot jantung), neuritis (peradangan saraf), dan gagal napas akibat obstruksi saluran napas.
Diagnosa
Diagnosa difteri didasarkan pada manifestasi klinis serta konfirmasi laboratorium. Pemeriksaan klinis yang cermat sangat penting, terutama pada area epidemiologi dengan kejadian luar biasa (KLB).
Diagnosa Klinis
Diagnosa klinis difteri nasofaring dapat dilakukan bila ditemukan:
- Adanya pseudomembran putih kelabu pada amandel, faring, atau laring yang sulit dilepas dan jika dipaksa akan berdarah
- Bengkak jaringan lunak leher (bull neck)
- Gejala sistemik ringan bertentangan dengan tampak klinis yang berat
Untuk difteri laring, diagnosis dapat dicurigai pada pasien dengan manifestasi stridor, batuk menyalak, dan kesulitan bernapas yang progresif.
Pemeriksaan Laboratorium
Konfirmasi laboratorium meliputi:
- Kultur swab dari lesi (tonsil, faring, laring, atau luka kulit) untuk mengidentifikasi Corynebacterium diphtheriae
- Tes Elek (tombstone effect) untuk mendeteksi produktivitas toksin
- PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk deteksi gen toksin
Penting: Pemeriksaan laboratorium sangat penting bukan hanya untuk diagnosis, tetapi juga untuk epidemiologi dan pengendalian penyakit. Namun, pengobatan tidak boleh ditunda menunggu hasil laboratorium jika difteri dicurigai berdasarkan manifestasi klinis.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan difteri meliputi isolasi pasien, administrasi antitoksin diphtheria (DAT), terapi antibiotik, penatalaksanaan gejala dan komplikasi, serta tindakan pencegahan kontak.
Isolasi Pasien
Pasien dengan difteri harus segera diisolasi untuk mencegah penularan. Durasi isolasi minimal sampai hasil kultur swab nasofaring negatif dua kali berturut-turut dengan interval 24 jam.
Antitoksin Diphtheria (DAT)
Antitoksin diphtheria adalah komponen paling kritis dalam penatalaksanaan. Administer harus dilakukan sedini mungkin tanpa menunggu hasil laboratorium. Prinsip utama pemberian:
- Diberikan intravena atau intramuskular tergantung keparahan
- Uji sensitivitas (intradermal) sebelum pemberian untuk menilai reaksi hipersensitif
- Dosis tergantung pada lokasi, luasnya lesi, dan durasi penyakit
- Diberikan dalam kombinasi dengan kortikosteroid pada reaksi serum
| Tipe Difteri | Dosis DAT (unit) |
|---|---|
| Ringan (tonsil, faring, laring) | 20.000 - 40.000 |
| Sedang (nasofaringeal, tonsil luas) | 40.000 - 60.000 |
| Berat (bull neck, difteri laring, difteri maligna) | 80.000 - 100.000 |
| Difteri kulit | 20.000 - 40.000 |
Terapi Antibiotik
Antibiotik digunakan untuk membunuh bakteri dan menghilangkan produksi toksin baru. Pilihan antibiotik meliputi:
- Eritromisin: 500 mg 4 kali sehari selama 14 hari
- Penisilin G Procaine: 300.000 unit IM setiap 12 jam selama 14 hari
Pada pasien yang alergi terhadap penisilin, dapat digunakan clindamycin atau rifampin.
Penatalaksanaan Dukung
- Pertahankan jalan napas yang paten intubasi atau trakeostomi bila diperlukan
- Perawatan jantung monitoring EKG pada semua pasien karena risiko miokarditis
- Berikan cairan dan elektrolit yang adekuat
- Bed rest ketat untuk pasien dengan komplikasi kardiac
- Terapi fisik dan rehabilitasi untuk pasien dengan kelainan neurologis
Penatalaksanaan Kontak
Orang-orang yang kontak erat dengan penderita difteri memerlukan:
- Surveilans selama 7 hari untuk gejala difteri
- Pengambilan swab kultur
- Profilaksis antibiotik (eritromisin 500 mg 4 kali sehari selama 7-10 hari atau benzathine penisilin G 600.000 unit)
- Suntik toksoid difteri (Td) bila status imunisasi tidak lengkap atau tidak diketahui
Komplikasi
Komplikasi difteri dapat dibagi menjadi komplikasi awal dan komplikasi lanjut yang biasanya disebabkan oleh efek sistemik dari toksin difteri.
Komplikasi Awal
- Obstruksi saluran napas akibat pembengkakan pseudomembran
- Fasial palsy akibat kerusakan saraf kranial
Komplikasi Lanjut
Komplikasi ini biasanya muncul 1-2 minggu setelah onset penyakit:
- Miokarditis komplikasi paling serius yang dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian
- Neuritis dapat memengaruhi saraf kranial terutama saraf vagus dan saraf laringeal berulang, serta saraf perifer
- Disfungsi respirasi akibat kelumpuhan otot respirasi
- Gagal ginjal akut (jarang)
- Sepsis (jarang)
Prognosis difteri sangat bergantung pada seberapa cepat pengobatan dimulai, dosis DAT yang adekuat, dan kemunculan komplikasi kardiac. Mortalitas dapat mencapai 5-10% bahkan dengan pengobatan yang optimal.
Pencegahan
Pencegahan utama difteri adalah melalui imunisasi dengan toksoid difteri yang sangat efektif.
Imunisasi Aktif
Imunisasi difteri di Indonesia merupakan bagian dari program imunisasi dasar yang diberikan dalam bentuk kombinasi dengan toksoid tetanus dan pertussis (vaksin DPT/DPT-HB-Hib). Jadwal imunisasi difteri di Indonesia adalah:
| Usia | Vaksin |
|---|---|
| 2 bulan | DPT-HB-Hib 1 |
| 3 bulan | DPT-HB-Hib 2 |
| 4 bulan | DPT-HB-Hib 3 |
| 18 bulan | DPT-HB-Hib Lanjutan |
| 5-7 tahun | Booster DPT |
| 10-12 tahun | Td |
Imunisasi Tambahan
Untuk orang dewasa, disarankan pemberian booster tetanus-diphtheria (Td) setiap 10 tahun sekali untuk menjaga imunitas tetap aktif.
Pencegahan Sekunder
- Isolasi terhadap pasien dan pengobatan segera
- Profilaksis terhadap kontak erat
- Edukasi kesehatan kepada masyarakat tentang penularan dan pentingnya imunisasi
- Surveilans epidemiologis untuk mendeteksi kluster kasus secara dini
Penelitian menunjukkan bahwa vaksin difteri memiliki tingkat efektivitas sekitar 87% untuk mencegah penyakit klinis, namun tingkat imunitas pada populasi menurun seiring bertambahnya usia jika tidak diberikan booster secara teratur.
Kesimpulan
Difteri adalah penyakit infeksi akut yang berpotensi mengancam jiwa, disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Meskipun dapat dicegah dengan vaksinasi yang efektif, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di beberapa daerah, termasuk Indonesia.
Manifestasi klinis difteri bervariasi dari infeksi ringan hingga berat dengan pembentukan pseudomembran yang khas. Diagnosis didasarkan pada manifestasi klinis dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Penatalaksanaan efektif memerlukan isolasi pasien, pemberian antitoksin diphtheria secepat mungkin, terapi antibiotik yang adekuat, serta penatalaksanaan dukungan yang komprehensif.
Komplikasi difteri, terutama miokarditis dan neuritis, dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Pencegahan melalui imunisasi rutin dan pemberian booster sesuai jadwal adalah strategi paling penting untuk mengendalikan penyakit ini.
Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi, deteksi dini kasus, serta penatalaksanaan yang cepat dan tepat merupakan kunci dalam upaya mengurangi beban penyakit difteri di masyarakat.
