Masa dewasa akhir, yang sering didefinisikan sebagai rentang usia di atas 60 tahun atau 65 tahun, merupakan tahap akhir dalam siklus kehidupan manusia. Pada fase ini, individu menghadapi berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan. Dalam konteks psikologi perkembangan, konsep yang fundamental untuk dipahami adalah "tugas perkembangan", sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Robert Havighurst. Tugas perkembangan adalah tuntutan sosial yang muncul pada tahap tertentu dalam kehidupan individu. Keberhasilan atau kegagalan dalam menyelesaikan tugas ini berdampak besar pada kebahagiaan dan kontribusi individu terhadap masyarakat.
Masyarakat seringkali memiliki stereotip negatif terhadap lansia, menganggap mereka sebagai beban atau individu yang produktivitasnya telah menurun. Namun, pandangan ini perlu diubah. Ketercapaian tugas perkembangan pada masa dewasa akhir bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga merupakan urusan masyarakat luas karena menentukan kualitas sumber daya manusia senior dan stabilitas sosial.
Untuk mencapai integrasi diri yang utuh di masyarakat, individu dewasa akhir harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan status dan peran mereka. Berikut adalah beberapa tugas perkembangan masyarakat yang krusial pada masa ini:
Terdapat faktor-faktor pendukung yang menentukan apakah seorang lansia dapat mencapai tugas perkembangannya dengan baik. Faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitarnya.
Pertama adalah adaptasi fisik dan mental. Fleksibilitas kognitif sangat penting. Lansia yang mampu "melepaskan" peran lama dan menggantinya dengan peran baru akan lebih mudah beradaptasi. Misalnya, seorang mantan guru yang tidak lagi mengajar di sekolah tetapi menjadi tutor sukarela bagi anak-anak kurang mampu di lingkungannya. Ini menunjukkan adaptasi peran yang sehat.
Kedua adalah dukungan sistem sosial. Keluarga berperan sebagai pondasi utama, namun masyarakat luas harus bertindak sebagai jaring pengaman. Konsep "aging in place" atau hidup mandiri di lingkungan yang familiar membutuhkan infrastruktur masyarakat yang mendukung, seperti fasilitas kesehatan terjangkau, transportasi publik yang ramah lansia, dan pusat-pusat kegiatan komunitas.
Mengapa pembahasan mengenai ketercapaian tugas perkembangan ini penting bagi masyarakat? Ketika tugas-tugas ini tercapai, masyarakat akan memperoleh manfaat yang besar. Individu dewasa akhir yang bahagia dan terintegrasi akan memiliki tingkat stres yang rendah, sehingga beban biaya kesehatan publik juga dapat ditekan. Lebih dari itu, mereka menjadi aset sosial.
Lansia merupakan arsip hidup bagi sebuah masyarakat. Mereka menyimpan sejarah, kearifan lokal, dan pengetahuan transendental yang tidak didapat dari buku. Ketika mereka berhasil mencapai tugas perkembangan "membina hubungan dengan sebayanya" dan "memenuhi kewajiban sosial", mereka berfungsi sebagai penstabil budaya di tengah arus modernisasi yang cepat. Mereka bertindak sebagai mediator konflik, penjaga nilai-nilai moral, serta figur kehangatan emosional bagi generasi di bawahnya.
Sebaliknya, kegagalan mencapai tugas perkembangan dapat berujung pada apa yang disebut Erikson sebagai "despair" atau putus asa. Individu yang merasa hidupnya sia-sia cenderung menarik diri, apatis, atau menjadi sumber konflik dalam keluarga. Isolasi sosial pada lansia juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, seperti demensia. Oleh karena itu, ketercapaian tugas ini adalah tanggung jawab bersama antara individu dan lingkungan sosialnya.
Untuk memastikan tugas-tugas ini tercapai, perlu ada sinergi dari berbagai pihak. Pemerintah daerah dapat menciptakan kebijakan yang inklusif, seperti penyediaan taman kota yang ramah lansia atau program pelatihan keterampilan (life-long learning) yang sesuai dengan kapasitas fisik mereka. Organisasi masyarakat sipil dapat memfasilitasi kelompok-kelompok seni dan budaya yang menjadi wadah ekspresi diri lansia.
Di tingkat yang lebih kecil, yaitu lingkungan tetangga, budaya gotong royong perlu dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan. Kunjungan silaturahmi singkat, bantuan untuk belanja kebutuhan pokok bagi lansia yang sulit bergerak, dan sekadar menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita mereka adalah bentuk nyata dukungan masyarakat terhadap ketercapaian tugas perkembangan lansia.
Intinya, masa dewasa akhir bukanlah akhir dari peran kemanusiaan seseorang. Dengan dukungan lingkungan yang tepat danadaptasi diri yang kuat, ketercapaian tugas perkembangan pada masa ini dapat menghasilkan "kebijaksanaan" (wisdom)puncak dari perkembangan kognitif dan emosional manusia. Keberadaan lansia yang bijaksana dan sejahtera adalah indikator utama peradaban masyarakat yang matang dan humanis.
