Admin 07 Jun 2026 09:56

 

Hubungan Faktor Perilaku Pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan Kadar Gula Darah Lansia di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan

Kajian Epidemiologis dan Perilaku Kesehatan

Abstrak

Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang prevalensinya semakin meningkat di kalangan lansia. Pengendalian gula darah sangat ditentukan oleh perilaku pasien dalam menjalankan pengobatan dan pola hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor perilaku pengendalian DMT2, yang meliputi diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan minum obat, dengan kadar gula darah pada lansia di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan diet, aktivitas fisik, dan ketaatan minum obat terhadap kadar gula darah lansia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbaikan perilaku pengendalian diabetes adalah kunci utama dalam menurunkan angka kejadian komplikasi di kalangan lansia.

Latar Belakang

Penuaan populasi adalah fenomena global yang terjadi hampir di seluruh negara, termasuk Indonesia. Bertambahnya usia harapan hidup membawa konsekuensi logis yaitu meningkatnya jumlah penduduk lansia. Perubahan struktur demografi ini diikuti oleh perubahan pola penyakit, di mana penyakit menular tidak lagi menjadi ancaman utama, melainkan beralih ke penyakit tidak menular (PTM). Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 menempati posisi tertinggi sebagai penyakit kronis yang sering diderita oleh lansia.

Diabetes Mellitus Tipe 2 adalah gangguan metabolisme kronis dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena defekensi sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Pada lansia, risiko terkena DMT2 meningkat karena penurunan fungsi fisiologis tubuh, seperti penurunan massa sel beta pankreas dan peningkatan resistensi insulin akibat penurunan aktivitas fisik dan penumpukan lemak viseral.

Situasi ini menjadi perhatian serius bagi Puskesmas Patihan. Sebagai pusat kesehatan masyarakat strata pertama, Puskesmas Patihan memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan masalah kesehatan lansia melalui Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Posbindu bertujuan untuk memantau kesehatan lansia secara dini dan berkelanjutan, salah satunya melalui pemeriksaan gula darah rutin. Data awal di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan menunjukkan bahwa masih terdapat proporsi lansia penderita DMT2 yang memiliki kadar gula darah tidak terkontrol.

Kadar gula darah yang tidak terkontrol merupakan pintu masuk menuju berbagai komplikasi mikrovaskular (seperti retinopati dan nefropati) dan makrovaskular (seperti penyakit jantung koroner dan stroke). Pengendalian gula darah pada DMT2 tidak hanya bergantung pada pemberian obat hipoglikemik oral atau insulin, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku pasien, yaitu kemampuan pasien untuk mengatur pola makan (diet), melakukan aktivitas fisik, dan kepatuhan dalam melaksanakan regimen pengobatan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain analytic observational dengan pendekatan cross sectional. Pendekatan ini dipilih karena peneliti ingin mengukur variabel independen (faktor perilaku pengendalian DM) dan variabel dependen (kadar gula darah) secara simultan pada satu waktu tertentu.

Populasi dan Sampel

Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh lansia penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 yang terdaftar dan aktif memeriksakan diri di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria inklusi: lansia usia 60 tahun ke atas, telah didiagnosis DMT2 minimal 6 bulan, bersedia menjadi responden, dan tidak mengalami gangguan kognitif yang berat. Jumlah sampel yang diperoleh adalah 65 responden.

Variabel Penelitian

  • Variabel Independen: Faktor perilaku pengendalian DMT2, yang diukur melalui 3 sub-variabel:
    • Penerapan Diet Diabetes (menggunakan kuesioner Diet Knowledge and Behavior).
    • Aktivitas Fisik (menggunakan kuesioner Physical Activity Rating).
    • Kepatuhan Minum Obat (menggunakan Morisky Medication Adherence Scale/MMAS).
  • Variabel Dependen: Kadar Gula Darah Sewaktu (GDS), diukur menggunakan glucometer digital yang dikalibrasi.

Analisis Data

Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase, serta bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square untuk menentukan hubungan antar variabel dengan tingkat signifikansi 95% ( = 0,05).

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan terhadap 65 responden lansia di Posbindu Puskesmas Patihan, diperoleh gambaran karakteristik responden dan hubungan variabel penelitian sebagai berikut:

Karakteristik Responden

Sebagian besar responden berusia pada rentang 60-70 tahun (75,4%), dengan dominasi jenis kelamin perempuan (67,7%). Durasi menderita DMT2 terbanyak adalah >5 tahun (60%).

Hubungan Perilaku Diet dengan Kadar Gula Darah

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa dari 65 responden, mereka yang menerapkan diet diabetes dengan baik berjumlah 35 orang. Dari kelompok ini, 80% memiliki kadar gula darah dalam kategori terkontrol. Sebaliknya, pada responden dengan diet yang buruk, hanya 15% yang kadar gula darahnya terkontrol. Nilai p-value sebesar 0,001 (<0,05) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku diet dengan kadar gula darah lansia.

Perilaku Diet Gula Darah Terkontrol (n) Gula Darah Tidak Terkontrol (n) Total
Baik 28 7 35
Kurang 5 25 30
Total 33 32 65

Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kadar Gula Darah

Kegiatan fisik yang teratur membantu meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa lansia yang melakukan aktivitas fisik secara teratur (minimal 30 menit, 3 kali seminggu) memiliki kontrol gula darah yang lebih baik. Uji Chi-Square menghasilkan nilai p-value 0,003, yang berarti ada hubungan bermakna antara aktivitas fisik dan gula darah.

Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kadar Gula Darah

Kepatuhan minum obat merupakan faktor krusial dalam farmakoterapi. Responden yang patuh minum obat (sesuai dosis, frekuensi, dan waktu) menunjukkan tingkat keberhasilan kontrol gula darah yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang tidak patuh. Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan nilai p-value 0,000.

Rangkuman Statistik

Ketiga faktor perilaku (Diet, Aktivitas Fisik, dan Kepatuhan Obat) semuanya menunjukkan nilai p-value < 0,05. Hal ini berarti secara statistik ada bukti yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ketiga faktor tersebut berhubungan secara signifikan dengan kadar gula darah lansia di lokasi penelitian.

Pembahasan

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa peran perilaku individu dalam pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2 sangat dominan. Meskipun faktor genetik dan usia berkontribusi terhadap resistensi insulin, namun intervensi gaya hidup tetap menjadi penentu utama keberhasilan terapi.

Faktor Diet

Diet yang tidak terkontrol, terutama konsumsi karbohidrat sederhana tinggi dan gula, secara langsung meningkatkan beban glukosa darah. Pada lansia, kemampuan pankreas untuk beradaptasi dengan lonjakan glukosa telah menurun. Temuan penelitian yang menunjukkan hubungan signifikan antara diet dan gula darah sejalan dengan teori bahwa pengaturan asupan nutrisi adalah pilar utama manajemen DM. Di Posbindu Puskesmas Patihan, edukasi diet perlu diperkuat, tidak hanya secarateoritis namun juga praktikal (misalnya demo memasak makanan sehat untuk lansia).

Faktor Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot tanpa memerlukan insulin dalam jumlah besar (insulin-independent glucose uptake). Lansia yang cenderung sedenter memiliki risiko lebih besar akumulasi glukosa dalam darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia yang rutin berolahraga ringan hingga sedang memiliki kadar gula darah yang lebih stabil. Namun, keterbatasan fisik lansia akibat penyakit degeneratif lain (osteoartritis) seringkali menjadi hambatan. Oleh karena itu, jenis olahraga yang disarankan haruslah low-impact seperti senam lansia atau jalan santai.

Faktor Kepatuhan Minum Obat

DMT2 merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan seumur hidup. Ketidakpatuhan sering terjadi karena alasan "merasa sehat", lupa, atau efek samping obat. Dalam konteks penelitian ini, kepatuhan minum obat menunjukkan hubungan paling kuat dengan kontrol gula darah. Hal ini mengindikasikan bahwa obat hipoglikemik oral masih menjadi penangkal utama bagi lansia di wilayah kerja Puskesmas Patihan. Peran keluarga dalam mengingatkan lansia untuk minum obat menjadi sangat vital karena penurunan daya ingat (memory decline) yang biasa terjadi pada usia lanjut.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor perilaku pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 (meliputi pola diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan minum obat) dengan kadar gula darah lansia di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan. Lansia yang memiliki perilaku pengendalian yang baik cenderung memiliki kadar gula darah yang terkontrol.

Saran

  • Bagi Puskesmas Patihan: Meningkatkan intensitas edukasi di Posbindu tidak hanya secara lisan, tetapi juga dengan pendekatan praktikal yang mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi lansia. Perlu adanya program khusus pendampingan lansia yang memiliki gula darah tidak terkontrol.
  • Bagi Petugas Kesehatan: Harus lebih proaktif dalam memantau kepatuhan minum obat lansia, misalnya melalui penggunaan reminder atau keterlibatan keluarga. Evaluasi aktivitas fisik lansia perlu dilakukan secara berkala.
  • Bagi Keluarga: Keluarga berperan penting sebagai support system. Membantu menyiapkan makanan sesuai diet diabetes dan mengawasi jadwal minum obat adalah bentuk dukungan konkret yang dapat dilakukan.
  • Bagi Lansia: Diharapkan meningkatkan kesadaran diri tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat meskipun telah menjalani pengobatan medis. Menganggap DMT2 sebagai "teman hidup" yang harus diatur, bukan beban.
```

File Referensi Untuk Hubungan Faktor Perilaku Pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Kadar Gula Darah Lansia Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan
Screenshoot
Nama File
skripsi_fara_shoufika__201403062.pdf

Ukuran File
2.94 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Hubungan Faktor Perilaku Pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Kadar Gula Darah Lansia Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Patihan. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Hubungan Faktor Perilaku Pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Kadar Gula Darah Lan...


admin
Admin
2026-06-07 09:56:15

Hubungan Antara Kepatuhan Diet Dengan Perubahan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Meli...


admin
Admin
2026-06-03 00:24:05

Efektivitas Hidroterapi Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes M...


admin
Admin
2026-06-07 13:34:11

Konsumsi Rebusan Daun Sirih Merah Efektif Terhadap Perubahan Kadar Gula Darah Pada Penderi...


admin
Admin
2026-06-07 02:00:25

Penyuluhan Kesehatan Lansia Dan Pemeriksaan Tensi, Gula Darah, Asam Urat, Cholesterol Sert...


admin
Admin
2026-06-07 22:52:24