Pendidikan dasar merupakan pondasi penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan akademis seseorang. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah orientasi motivasi yang mereka miliki. Orientasi mastery atau orientasi penguasaan adalah salah satu bentuk motivasi belajar yang dianggap memiliki dampak signifikan terhadap kualitas belajar siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara orientasi mastery dengan kualitas belajar siswa SD Negeri Kalisabuk 02 pada tahun 2019. SD Negeri Kalisabuk 02 dipilih sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini memiliki karakteristik siswa yang beragam dan kondisi belajar yang representatif untuk sekolah dasar di wilayah tersebut.
Orientasi mastery adalah kecenderungan individu untuk memfokuskan upaya pada pemahaman dan penguasaan tugas atau materi pembelajaran. Siswa dengan orientasi mastery cenderung melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar, tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, dan menekankan nilai belajar dalam proses pembelajaran itu sendiri.
Menurut teori orientasi tujuan dari Dweck dan Leggett (1988), terdapat dua jenis orientasi tujuan utama dalam konteks belajar, yaitu orientasi mastery dan orientasi performansi. Siswa dengan orientasi mastery berfokus pada pengembangan kompetensi, sedangkan siswa dengan orientasi performansi lebih fokus pada menunjukkan kemampuan relatif dibandingkan orang lain.
Kualitas belajar mengacu pada sejauh mana proses dan hasil belajar siswa mencerminkan pemahaman mendalam, kemampuan aplikasi, dan pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Indikator kualitas belajar antara lain kemampuan pemahaman konsep, kemampuan analisis, kemampuan pemecahan masalah, tingkat keterlibatan dalam proses belajar, dan hasil belajar yang dicapai.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas IV, V, dan VI SD Negeri Kalisabuk 02 tahun ajaran 2019/2020, dengan jumlah total 156 siswa. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik proporsional random sampling, menghasilkan 112 siswa sebagai sampel.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan uji korelasi Pearson Product Moment untuk menguji hubungan antara variabel orientasi mastery dan kualitas belajar siswa.
Berdasarkan analisis data ditemukan bahwa secara umum orientasi mastery siswa SD Negeri Kalisabuk 02 berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 65.4 dari skor maksimal 100. Berikut adalah distribusi orientasi mastery siswa:
| Kategori Orientasi Mastery | Jumlah Siswa | Presentase |
|---|---|---|
| Tinggi | 23 | 20.5% |
| Sedang | 68 | 60.7% |
| Rendah | 21 | 18.8% |
Kualitas belajar siswa SD Negeri Kalisabuk 02 secara umum berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 61.8 dari skor maksimal 100. Aspek kualitas belajar yang paling tinggi adalah kemampuan pemahaman dasar, sedangkan aspek yang paling rendah adalah kemampuan aplikasi konsep dalam pemecahan masalah.
Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara orientasi mastery dengan kualitas belajar siswa SD Negeri Kalisabuk 02 (r = 0.542, p < 0.01). Besarnya koefisien korelasi menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel termasuk kategori sedang.
Selanjutnya, hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa orientasi mastery memprediksi 29.4% varians kualitas belajar siswa (R = 0.294). Ini berarti terdapat 70.6% faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini yang mempengaruhi kualitas belajar siswa.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dengan orientasi mastery yang lebih tinggi cenderung memiliki kualitas belajar yang lebih baik. Hal ini konsisten dengan teori motivasi yang menyatakan bahwa orientasi mendorong individu untuk mendekati tugas dengan tujuan mengembangkan kompetensi, yang pada akhirnya berkontribusi pada hasil belajar yang lebih baik.
Siswa dengan orientasi mastery yang tinggi cenderung lebih persisten dalam menghadapi kesulitan belajar, lebih berani mengambil risiko dalam pembelajaran, dan menggunakan strategi belajar yang lebih efektif. Perilaku-perilaku ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi pembelajaran dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks.
Bandingkan dengan siswa yang memiliki orientasi rendah, mereka cenderung fokus pada tujuan performansi (misalnya mendapatkan nilai tinggi) daripada pemahaman materi. Pendekatan ini seringkali menghasilkan pembelajaran yang dangkal dan kurang berkelanjutan.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anderman dan Maehr (1994) yang menunjukkan bahwa orientasi mastery berkorelasi positif dengan penggunaan strategi kognitif yang adaptif dan hasil belajar yang lebih baik. Selain itu, penelitian Stipek et al. (1998) juga menemukan bahwa siswa dengan orientasi mastery tinggi menunjukkan tingkat keterlibatan kognitif yang lebih tinggi dalam tugas-tugas akademik.
Faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kualitas belajar siswa namun tidak diteliti dalam penelitian ini meliputi kondisi lingkungan belajar, dukungan dari keluarga, metode pengajaran guru, kemampuan dasar siswa, dan faktor-faktor psikologis lain seperti kepercayaan diri dan kecemasan belajar.
Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa implikasi penting untuk praktik pendidikan di SD Negeri Kalisabuk 02 dan sekolah-sekolah dasar lainnya:
Penelitian ini telah menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara orientasi mastery dengan kualitas belajar siswa SD Negeri Kalisabuk 02 tahun 2019. Siswa dengan orientasi mastery yang lebih tinggi cenderung memiliki kualitas belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan orientasi mastery yang lebih rendah.
Temuan ini menekankan pentingnya mengembangkan orientasi mastery pada siswa sekolah dasar sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas belajar mereka. Guru, orang tua, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong orientasi mastery pada siswa.
Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal pendekatan yang digunakan (hanya kuantitatif), sampel yang terbatas pada satu sekolah, dan faktor-faktor lain yang tidak diteliti. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, menggunakan sampel yang lebih beragam, dan memasukkan variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi kualitas belajar siswa.
