Sectio caesarea merupakan salah satu prosedur bedah yang paling sering dilakukan secara global. Anestesi spinal adalah teknik anestesi yang paling umum digunakan untuk prosedur ini karena berbagai keuntungannya termasuk kemudahan pelaksanaan, efektivitas analgesik, dan profil keamanan yang baik bagi ibu dan bayi. Namun, salah satu tantangan utama dalam anestesi spinal untuk sectio caesarea adalah terjadinya hipotensi akibat blok simpatis, yang dapat mencapai insidensi hingga 80% tanpa pencegahan yang adekuat.
Hydroxyethyl starch (HES) adalah koloid intravena yang banyak digunakan untuk resusitasi volume dan pemeliharaan hemodinamik selama operasi. HES tersedia dalam berbagai larutan pembawa, termasuk larutan seimbang (seperti Ringer laktat modifikasi) dan natrium klorida 0.9% (salin normal). Pemilihan larutan pembawa ini memiliki implikasi penting terhadap homeostasis pasien, termasuk keseimbangan asam-basa.
Anestesi spinal menyebabkan blokade vasomotor simpatis yang mengakibatkan vasodilatasi vaskular dan penurunan resistensi vaskular sistemik. Pada pasien hamil, efek ini diperburuk oleh kompresi vena kava oleh uterus yang mengakibatkan penurunan pengembalian vena dan cardiac output. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan perfusi jaringan maternal dan plasenta, yang pada akhirnya dapat memicu asidosis metabolik.
Selain itu, pasiensi anestesi spinal juga sering mengalami depresi pernapasan atau hiperventilasi yang dapat mempengaruhi keseimbangan asam-basa. Hiperventilasi dapat menyebabkan alkalosis respiratorik sementara hipoventilasi dapat menyebabkan asidosis respiratorik. Kedua kondisi ini akan memengaruhi pH darah dan status asam-basa pasien.
Sebuah penelitian prospektif, acak, dan terkontrol dilakukan pada 60 pasien dengan kategori fisik ASA I-II yang dijadwalkan untuk menjalani sectio caesarea elektif dengan anestesi spinal. Pasien dibagi secara acak menjadi dua kelompok:
Kedua kelompok menerima 500 ml larutan studi 15 menit sebelum induksi anestesi spinal. Anestesi spinal dilakukan pada ruang L3-L4 atau L4-L5 menggunakan bupivacain 0.5% hiperbarik. Variabel utama yang diukur adalah pH darah arteriel pada beberapa titik waktu:
Variabel sekunder yang diamati meliputi tekanan darah, frekuensi jantung, kebutuhan ephedrine atau phenylephrine, perubahan gas darah lainnya (PaCO2, HCO3-), dan parameter neonatus ( skor APGAR, pH darah tali pusat).
Ditemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam perubahan pH antara kedua kelompok. Pasien yang menerima HES 6% dalam larutan seimbang mempertahankan pH yang lebih tinggi secara statistik signifikan dibandingkan dengan kelompok HES salin pada semua pengukuran setelah induksi spinal.
Berikut adalah ringkasan hasil pengukuran pH pada berbagai titik waktu:
| Titik Waktu | HES 6% dalam Larutan Seimbang | HES 6% dalam NaCl 0.9% |
|---|---|---|
| Baseline | 7.41 0.02 | 7.40 0.03 |
| 5 Menit Setelah Induksi | 7.40 0.03 | 7.37 0.04* |
| Setelah Ekstraksi Janin | 7.38 0.04 | 7.33 0.05* |
| 30 Menit Pascaoperasi | 7.39 0.03 | 7.35 0.04* |
| 6 Jam Pascaoperasi | 7.40 0.02 | 7.36 0.03* |
*P < 0.05 dibandingkan dengan HES larutan seimbang
Ditemukan juga bahwa pasien pada kelompok larutan seimbang membutuhkan jumlah vasopresor yang lebih rendah (3.2 1.1 mg ephedrine) dibandingkan dengan kelompok larutan salin (5.4 1.8 mg ephedrine). Tidak ada perbedaan signifikan dalam skor APGAR atau pH darah tali pusat antara kedua kelompok.
Temuan penting dalam penelitian ini adalah bahwa kelompok HES salin menunjukkan penurunan pH yang lebih besar yang konsisten dengan pola asidosis hiperkloremik, sedangkan kelompok HES larutan seimbang menunjukkan pemeliharaan pH yang lebih baik dengan perubahan yang lebih kecil dari nilai baseline.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa HES 6% dalam larutan seimbang memberikan pengaruh yang lebih baik pada pemeliharaan pH darah selama sectio caesarea dengan anestesi spinal. Terdapat beberapa mekanisme fisiologis yang dapat menjelaskan perbedaan ini:
1. Asidosis hiperkloremik: NaCl 0.9% memiliki kandungan klorida yang tinggi (154 mmol/L) dibandingkan dengan plasma (102-109 mmol/L). Pemberian volume besar larutan dengan konsentrasi klorida yang tinggi dapat menyebabkan dilutional acidosis dan berkontribusi pada asidosis hiperkloremik. Hal ini disebabkan oleh efek Stewart's approach pada keseimbangan asam-basa, di mana peningkatan ion kuat (seperti klorida) menurunkan pH darah.
2. Komposisi elektrolit larutan seimbang: Larutan seimbang memiliki komposisi elektrolit yang lebih mirip dengan plasma, termasuk konsentrasi natrium, kalium, kalsium, magnesium, klorida, dan anion organik (seperti laktat, asetat, atau malat) yang lebih sesuai dengan kebutuhan fisiologis. Hal ini membantu mempertahankan homeostasis asam-basa yang lebih baik.
3. Efek puffer: Larutan seimbang biasanya mengandung puffer seperti laktat yang dapat dikonversi menjadi bikarbonat di hati, membantu menetralkan asidosis metabolik. Konversi laktat ke bikarbonat memerlukan oksigen dan mempengaruhi metabolisme, namun secara umum memberikan efek alkali ringan yang bermanfaat dalam mencegah asidosis.
4. Perbaikan hemodinamik: Larutan seimbang memiliki efek yang lebih baik pada tonus vaskular dan perfusi jaringan dibandingkan dengan salin normal. Hal ini dapat mengurangi komponen asidosis yang terkait dengan hipoperfusi dan shunting vaskular yang terjadi selama blok simpatis.
5. Dampak pada ginjal: Beberapa studi menunjukkan bahwa larutan seimbang memiliki efek yang lebih baik pada aliran darah renal dan fungsi ginjal dibandingkan dengan larutan salin. Hal ini dapat berkontribusi pada ekskresi asam yang lebih efektif dan pemeliharaan keseimbangan asam-basa.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting dalam praktik klinis anestesi obstetri:
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa HES 6% dalam larutan seimbang memberikan pengaruh yang lebih baik pada pemeliharaan pH darah selama sectio caesarea dengan anestesi spinal dibandingkan dengan HES 6% dalam NaCl 0.9%. Perbedaan ini terutama terkait dengan profil elektrolit larutan yang lebih seimbang dan mencegah asidosis hiperkloremik yang dapat terjadi dengan penggunaan larutan salin normal.
Untuk praktisi anestesi dan bedah, pemilihan larutan pembawa seimbang untuk resusitasi volume pada pasien yang menjalani sectio caesarea dengan anestesi spinal direkomendasikan untuk mempertahankan homeostasis asam-basa yang lebih optimal, hemodinamik yang lebih stabil, dan kebutuhan vasopresor yang lebih rendah. Namun, penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan durasi follow-up yang lebih lama masih diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mengevaluasi efek pada outcome klinis jangka panjang.
