A.A. Navis dikenang sebagai salah satu maestro sastra Indonesia yang memiliki kepekaan luar biasa dalam menggambarkan realitas sosial melalui karya-karyanya. Kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami merupakan salah satu mahakarya beliau yang tidak hanya kuat dari segi plot dan tema, tetapi juga menonjol karena keunikan gaya bahasanya. Gaya bahasa yang digunakan Navis dalam kumpulan cerpen ini tidak berfungsi sekadar sebagai pembungkus cerita, melainkan menjadi alat pisau bedah yang tajam untuk mengkritik, menyindir, sekaligus mengajak pembaca merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan, khususnya yang berkaitan dengan spiritualitas dan kehidupan sosial.
Salah satu ciri utama gaya bahasa A.A. Navis dalam kumpulan ini adalah kesederhanaan dan kelugasan. Navis tidak menggunakan kosa kata yang berbunga-bunga atau kalimat yang berputar-putar yang sering kali ditemukan dalam karya sastra klasik yang berat. Ia menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami oleh kalangan awam namun memiliki kedalaman makna. Bahasa yang lugas ini menciptakan efek realisme yang kuat. Pembaca seolah-olah disajikan cerita tanpa jarak; dialog antartokoh terasa natural, mencerminkan pergumulan batin dan sosial yang sesungguhnya. Kesederhanaan ini tidak mengurangi bobot cerita, justru membuat pesan yang disampaikan lebih tembus karena tidak terhalang oleh kompleksitas linguistik.
Selain kesederhanaan, unsur ironi dan sarkasme juga mendominasi gaya bahasa dalam cerpen-cerpen Navis, terutama dalam cerpen tituler "Robohnya Surau Kami". Ironi digunakan sebagai senjata untuk menyerang kemunafikan. Navis dengan cermat mempertentangkan antara kesalehan yang tampak di luar dengan kekosongan spiritual di dalam. Dalam cerpen tersebut, ia menggambarkan bagaimana orang-orang yang rajin ke surau dan beribadah ternyata melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama di luar surau. Gaya bahasa yang satir ini terasa kuat ketika Navis menutup cerita dengan kehancuran surau itu sendiri, yang merupakan simbol runtuhnya nilai keagamaan yang hanya dipahami secara ritualistik tanpa esensi moral. Penggunaan kalimat-kalimat sindiran yang menusuk membuat pembaca terketuk dan melakukan instropeksi diri.
Ciri khas lain yang tak dapat dipisahkan dari gaya bahasa A.A. Navis adalah penggunaan dialek dan nuansa Minangkabau. Meskipun ditulis dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat pilihan kata, dan ungkapan yang digunakan sering kali membawa aroma khas ranah Minang. Hal ini wajar mengingat latar belakang Navis dan setting tempat dalam cerpen-ceritanya yang sering kali berada di Sumatera Barat. Interjeksi atau kata-kata seru khas Minang kadang diselipkan untuk memberikan kehidupan pada dialog. Penggunaan gaya bahasa ini berfungsi memperkuat local colour atau warna lokal, sehingga cerita tidak terasa mengambang dan memiliki akar budaya yang kuat. Nuansa ini membuat pembaca langsung dapat membayangkan suasana dan lingkungan sosial tempat para tokoh berada.
Dari aspek pembangunan suasana, Navis mengandalkan deskripsi yang efektif namun ekonomis. Ia tidak perlu berlama-lama menghabiskan paragraf demi paragraf untuk menggambarkan pemandangan alam atau wajah tokoh. Dengan beberapa kata pilihan yang tepat, ia mampu menembak suasana hati atau iklim sosial yang ingin ditonjolkan. Gaya bahasa ini menunjukkan efisiensi Navis sebagai penulis cerpen yang sadar akan media kritisnyasingkat, padat, dan berisi. Setiap kalimat memiliki beban makna, sehingga pembaca tidak dapat melewatkan satu pun kalimat tanpa risiko kehilangan fragmen penting dari cerita.
Dialog dalam kumpulan cerpen ini juga digarap dengan gaya yang to-the-point. Navis menggunakan dialog sebagai sarana utama untuk mengungkapkan konflik. Karakter-karakter dalam ceritanya berbicara layaknya manusia realistis; kadang kaku, kadang emosional, tapi selalu relevan dengan konteks. Tidak ada monolog panjang yang berlebihan. Percakapan mereka sering kali menyimpan subteks yang dalam, sesuatu yang dibaca di antara baris-baris dialog tersebut. Gaya bahasa dialogis ini membuat karya cerpen Navis terasa dinamis dan mengalir, menarik pembaca untuk terus mengikuti alur percakapan yang kadang penuh dengan ketegangan sosial.
Penggunaan simbolisme melalui bahasa juga menjadi aspek penting. Navis seringkali menempatkan objek-objek tertentu, seperti surau, kuburan, atau benda-benda sehari-hari, sebagai simbol yang mengandung makna filosofis. Surau dalam bahasa Navis bukan sekadar bangunan fisik untuk beribadah, melainkan representasi dari sistem kepercayaan dan komunitas. Robohnya surau dalam narasi disampaikan dengan gaya bahasa yang hening namun memilukan, memberikan sentuhan tragis yang kuat tanpa perlu ekspresi berlebihan. Simbolisme ini muncul secara alami dalam alur kata-kata, bukan dipaksakan, sehingga pembaca dapat menafsirkan maknanya sesuai dengan pengalaman bacaan dan kehidupan mereka.
Terakhir, gaya bahasa A.A. Navis dalam kumpulan ini sarat dengan nuansa humanisme. Meskipun kritik yang dilontarkannya tajam dan kadang terasa kasar bagi penerimaan umum, ada empat yang mendasari setiap kalimat. Navis menulis dengan bahasa yang mengungkapkan keprihatinan terhadap nasib manusia, khususnya manusia yang terjebak dalam dilema antara tradisi, agama, dan modernitas. Bahasa yang digunakan bersifat inklusif, mengajak pembaca untuk berempati pada tokoh-tokoh yang mengalami kegagalan, kemunafikan, atau konflik batin.
Secara keseluruhan, gaya bahasa dalam Robohnya Surau Kami adalah perpaduan antara realisme, ironi, dan kedaerahan. A.A. Navis berhasil menciptakan sebuah karya yang abadi dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna. Melalui pemilihan kata yang tepat, struktur kalimat yang efisien, dan sentuhan ironi yang cerdas, Navis tidak hanya menceritakan kisah tentang runtuhnya sebuah surau, tetapi juga menggambarkan kegelisahan eksistensial umat manusia. Gaya bahasanya tetap relevan hingga kini, mengingat isu-isu yang diangkatkemunafikan dan kekosongan spiritualadalah problematika universal yang tidak lekang oleh waktu. Kejelian Navis meracik bahasa menjadikan kumpulan cerpen ini sebagai bahan kajian yang tak pernah habis dibahas dalam kajian sastra Indonesia.
