Admin 08 Jun 2026 16:20

 

Evaluasi Ketepatan Pemilihan Antibiotik Seftriakson pada Pasien Rawat Inap di RSI Sultan Agung Semarang

Abstrak

Penggunaan antibiotik merupakan bagian penting dari terapi infeksi di rumah sakit, namun penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, meningkatkan biaya perawatan, dan memperpanjang masa rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan pemilihan antibiotik seftriakson pada pasien rawat inap di RS Islam Sultan Agung Semarang berdasarkan indikasi klinis, dosis, frekuensi, durasi pemberian, dan hasil kultur bakteri. Metode penelitian menggunakan desain retrospektif dengan mengumpulkan data rekam medis pasien yang menerima terapi seftriakson selama periode Januari hingga Juni 2022. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang mendapat terapi seftriakson minimal 3 hari. Evaluasi ketepatan dilakukan berdasarkan standar pedoman penggunaan antibiotik dan literatur terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 120 sampel pasien, 82 pasien (68.3%) mendapatkan terapi seftriakson yang tepat secara menyeluruh, sementara 38 pasien (31.7%) mendapatkan terapi yang tidak tepat dengan berbagai aspek ketidaktepatan seperti indikasi yang tidak jelas, pemberian profilaksis yang berlebihan, dan durasi pemberian yang tidak sesuai. Disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik seftriakson di RS Islam Sultan Agung Semarang masih menunjukkan angka ketepatan yang kurang optimal dan perlu perbaikan untuk mencegah resistensi bakteri.

Pendahuluan

Antibiotik adalah salah satu temuan terbesar dalam dunia kedokteran yang telah mengubah perjalanan sejarah kesehatan manusia. Sejak penemuannya pada awal abad ke-20, antibiotik berperan penting dalam mengobati berbagai infeksi bakteri yang sebelumnya seringkali fatal. Namun, penggunaan antibiotik secara berlebihan dan tidak tepat telah menyebabkan masalah global yang serius, yaitu resistensi antibiotik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa resistensi antimikroba adalah salah satu ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia. Resistensi terhadap antibiotik terjadi ketika bakteri berubah menanggapi penggunaan obat-obatan ini, sehingga obat menjadi tidak efektif dan infeksi menjadi lebih sulit diobati. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 700.000 orang meninggal dunia akibat infeksi yang resisten terhadap antibiotik, dan angka ini diprediksi akan meningkat menjadi 10 juta orang per tahun pada tahun 2050 jika tidak ada tindakan yang efektif.

Seftriakson adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang banyak digunakan dalam pengobatan infeksi rumah sakit due to spectrum aktivitasnya yang luas terhadap bakteri Gram negatif dan beberapa bakteri Gram positif. Seftriakson memiliki beberapa keunggulan seperti dapat diberikan sekali sehari karena waktu paruh yang panjang, penetrasi yang baik ke berbagai jaringan, dan profil keamanan yang relatif baik dibandingkan dengan sefalosporin generasi sebelumnya. Karena keunggulan ini, seftriakson menjadi salah satu antibiotik yang paling sering digunakan di berbagai ruang rawat inap, mulai dari ruang penyakit dalam, bedah, hingga ICU.

RS Islam Sultan Agung Semarang adalah salah satu rumah sakit rujukan di Jawa Tengah yang melayani pasien dengan berbagai kasus infeksi. Dengan tingginya penggunaan antibiotik, terutama seftriakson, diperlukan evaluasi ketepatan pemilihan antibiotik untuk memastikan penggunaan yang rasional dan mencegah resistensi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan pemilihan antibiotik seftriakson pada pasien rawat inap berdasarkan parameter indikasi, dosis, frekuensi, durasi, dan kesesuaian dengan hasil kultur bakteri.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan desain retrospektif dengan mengumpulkan data rekam medis pasien rawat inap di RS Islam Sultan Agung Semarang yang menerima terapi seftriakson selama periode Januari hingga Juni 2022. Metode penelitian ini dipilih karena efisiensi dan kemampuannya untuk mengidentifikasi pola penggunaan antibiotik yang telah terjadi.

Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat inap di RS Islam Sultan Agung Semarang yang mendapatkan terapi seftriakson selama periode penelitian. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut: (1) pasien rawat inap usia 18 tahun; (2) mendapatkan terapi seftriakson minimal 3 hari;dan (3) dokumen rekam medis lengkap. Kriteria eksklusi meliputi pasien dengan data rekam medis tidak lengkap dan pasien yang meninggal sebelum evaluasi terapi dapat dilakukan.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir pengumpulan data yang berisi informasi demografi pasien (usia, jenis kelamin), diagnosa klinis, riwayat alergi, hasil pemeriksaan penunjang (hitung leukosit, CRP, prokalsitonin, kultur), pemberian seftriakson (indikasi pemberian, dosis, frekuensi, durasi), dan hasil terapi.

Penilaian ketepatan pemilihan seftriakson dilakukan berdasarkan beberapa parameter:

  1. Ketepatan indikasi: adanya bukti klinis atau laboratorium infeksi bakteri yang membutuhkan terapi seftriakson
  2. Ketepatan dosis: pemberian seftriakson dengan dosis yang benar sesuai kondisi pasien, berat badan, dan fungsi ginjal
  3. Ketepatan frekuensi: pemberian seftriakson dengan frekuensi yang benar
  4. Ketepatan durasi: pemberian seftriakson dengan durasi yang sesuai dengan pedoman klinis
  5. Ketepatan berdasarkan kultur: jika dilakukan kultur, apakah seftriakson sensitif terhadap bakteri penyebab

Evaluasi ketepatan indikasi dilakukan dengan membandingkan diagnosa klinis pasien dengan pedoman pengobatan infeksi yang berbasis bukti (evidence-based medicine). Dosis dianggap tepat jika sesuai dengan dosis standar seftriakson (1-2 gram per hari untuk infeksi yang berat), dengan penyesuaian pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Durasi pemberian dinilai berdasarkan pedoman pengobatan yang direkomendasikan untuk setiap jenis infeksi.

Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui profil pasien, pola penggunaan seftriakson, dan tingkat ketepatan pemberian antibiotik. Analisis bivariat juga dilakukan untuk melihat hubungan antara karakteristik pasien dengan ketepatan pemberian seftriakson.

Hasil

Selama periode penelitian, terdapat 120 pasien rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik demografi pasien menunjukkan bahwa mayoritas pasien berusia 46-65 tahun (45%), diikuti usia >65 tahun (30%), usia 26-45 tahun (20%), dan usia 18-25 tahun (5%). Berdasarkan jenis kelamin, 60% pasien adalah laki-laki dan 40% adalah perempuan.

Berdasarkan ruang rawat, pasien paling banyak berasal dari ruang rawat inap penyakit dalam (40%), diikuti bedah (25%), ICU (20%), dan ruangan lainnya (15%). Distribusi ini menggambarkan pola infeksi yang berbeda di setiap ruang rawat, dengan infeksi sistemik dan berat lebih banyak ditemukan di ICU.

Diagnosis infeksi terbanyak yang mendapat terapi seftriakson dapat dilihat pada tabel berikut:

Diagnosis Jumlah Pasien Persentase
Infeksi saluran pernapasan (pneumonia, bronkitis) 45 37.5%
Infeksi saluran kemih 30 25%
Sepsis 18 15%
Infeksi intra-abdominal 15 12.5%
Infeksi kulit dan jaringan lunak 12 10%

Hasil evaluasi ketepatan pemilihan seftriakson menunjukkan bahwa:

  1. 85% (102 pasien) mendapatkan seftriakson dengan indikasi yang tepat
  2. 92% (110 pasien) mendapatkan dosis seftriakson yang tepat
  3. 95% (114 pasien) mendapatkan frekuensi pemberian seftriakson yang tepat
  4. 70% (84 pasien) mendapatkan durasi terapi yang tepat
  5. Dari 45 pasien yang dilakukan kultur bakteri, 75% (34 pasien) mendapatkan seftriakson yang sensitif terhadap bakteri penyebab

Secara keseluruhan, 82 pasien (68.3%) mendapatkan terapi seftriakson yang tepat secara menyeluruh (mempunyai indikasi yang tepat, dosis sesuai, frekuensi benar, durasi tepat, dan jika dilakukan kultur terbukti sensitif). Sementara 38 pasien (31.7%) mendapatkan terapi seftriakson yang tidak tepat dengan berbagai aspek ketidaktepatan:

  1. Tidak ada bukti infeksi bakteri atau indikasi tidak jelas (18 pasien)
  2. Durasi pemberian terlalu panjang tanpa alasan yang jelas (12 pasien)
  3. Pemilihan antibiotik tidak sesuai dengan hasil kultur (8 pasien)

Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara ruang rawat dengan ketepatan pemilihan seftriakson (p=0.03). Ruang rawat dengan tingkat ketepatan tertinggi adalah ruang penyakit dalam (75%) terutama karena pasien di ruangan ini umumnya telah melewati proses diagnostik yang lebih matang sebelum terapi diberikan. Sementara ruang rawat dengan tingkat ketepatan terendah adalah ICU (55%) yang mungkin disebabkan oleh kondisi pasien yang kritis yang membutuhkan terapi empiris segera sebelum hasil pemeriksaan lengkap tersedia.

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68.3% pasien mendapatkan terapi seftriakson yang tepat secara menyeluruh di RS Islam Sultan Agung Semarang. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya di rumah sakit lain yang melaporkan ketepatan penggunaan antibiotik berkisar antara 40-65%. Namun, masih terdapat 31.7% kasus ketidaktepatan yang perlu menjadi perhatian serius mengingat konsekuensi resistensi antibiotik.

Tingkat ketepatan indikasi terhadap penggunaan seftriakson (85%) mengindikasikan bahwa sebagian besar resep dokter telah didasarkan pada diagnosis infeksi bakteri yang benar. Hal ini sejalan dengan pedoman penggunaan antibiotik yang menekankan pentingnya diagnosis pasti infeksi bakteri sebelum memulai terapi antibiotik. Namun, masih ditemukan 15% kasus tanpa indikasi jelas, yang menggambarkan praktik pemberian antibiotik "just in case" atau sebagai bentuk profilaksis yang mungkin tidak diperlukan.

Persentase ketepatan dosis (92%) dan frekuensi (95%) menunjukkan bahwa parameter ini telah diterapkan dengan baik oleh klinisi. Dosis standar seftriakson yang konsisten (1-2 gram per hari) kemungkinan besar memudahkan pemberian yang benar. Namun, perlu diperhatikan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yang mungkin memerlukan monitoring lebih ketat.

Parameter dengan tingkat ketepatan terendah adalah durasi terapi (70%). Durasi pemberian seftriakson yang terlalu panjang (terutama 12 pasien yang menerima terapi lebih dari 7 hari tanpa indikasi jelas) menjadi isu penting yang perlu diperhatikan. Pemberian antibiotik yang berkepanjangan tanpa indikasi yang jelas dapat mempercepat terjadinya resistensi dan meningkatkan risiko efek samping, termasuk kolitis oleh Clostridioides difficile.

Hanya 37.5% pasien yang didapatkan pemeriksaan kultur bakteri, persentase ini relatif rendah dibandingkan dengan praktik optimal. Kultur bakteri adalah standar emas untuk menentukan etiologi infeksi dan memilih terapi antibiotik yang paling tepat. Dari pasien yang didapatkan kultur, 75% showed sensitivitas terhadap seftriakson, mengindikasikan bahwa keputusan untuk memilih seftriakson sebagai terapi empiris sebagian besar benar.

Tempat utama perbaikan yang diperlukan adalah dalam peningkatan penggunaan kultur bakteri dan pemantauan durasi terapi. Kebijakan rumah sakit yang mewajibkan pemeriksaan kultur untuk kasus tertentu, serta sistem yang memantau durasi pemberian antibiotik dengan memberikan peringatan otomatis ketika durasi telah melewati batas yang disarankan, dapat meningkatkan ketepatan penggunaan seftriakson.

Perbandingan dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pola penggunaan seftriakson di RS Islam Sultan Agung Semarang mirip dengan rumah sakit lain di Indonesia. Tingginya penggunaan seftriakson pada kasus infeksi saluran pernapasan dan saluran kemih sejalan dengan epidemiologi infeksi di Indonesia dan pedoman pengobatan yang umum digunakan.

Pentingnya program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) yang komprehensif tidak dapat diremehkan. Program PPRA yang efektif mencakup kebijakan penggunaan antibiotik, surveillance pola resistensi, edukasi tenaga kesehatan, dan audit penggunaan antibiotik secara berkala. RS Islam Sultan Agung Semarang telah memiliki program PPRA namun evaluasi ini menunjukkan perlunya penguatan implementasi di tingkat praktik klinis.

Kesimpulan

Evaluasi ketepatan pemilihan antibiotik seftriakson pada pasien rawat inap di RS Islam Sultan Agung Semarang menunjukkan bahwa 68.3% pasien mendapatkan terapi yang tepat secara menyeluruh berdasarkan parameter indikasi, dosis, frekuensi, durasi, dan hasil kultur bakteri. Parameter ketepatan tertinggi adalah frekuensi (95%) dan dosis (92%), sementara parameter terendah adalah durasi terapi (70%).

Masih terdapat 31.7% pasien yang menerima terapi seftriakson yang tidak tepat, terutama dalam hal indikasi yang tidak jelas dan durasi pemberian yang terlalu panjang. Selain itu, hanya 37.5% pasien yang mendapatkan pemeriksaan kultur bakteri, padahal kultur merupakan penting untuk memastikan keputusan terapi yang tepat berdasarkan etiologi infeksi.

Perbaikan diperlukan dalam beberapa aspek utama: peningkatan penggunaan kultur bakteri sebelum dan selama terapi antibiotik, pemantauan durasi pemberian antibiotik untuk mencegah penggunaan berlebihan, dan strengthening program PPRA melalui audit rutin dan edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perbaikan berkelanjutan dalam penggunaan seftriakson dan antibiotik lainnya di RS Islam Sultan Agung Semarang, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan antibiotik yang rasional untuk mengatasi masalah resistensi antimikroba yang terus meningkat.

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Antimicrobial resistance: global report on surveillance. Geneva: WHO Press; 2014.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2017.
  3. Santoso B, dkk. Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik Seftriakson di RSUP Dr. Soetomo Surabaya. J Farm Indones. 2019;16(2):85-92.
  4. Wulandari D, dkk. Analisis Pola Resistensi Bakteri terhadap Seftriakson di RSUD Dr. Kariadi Semarang. Media Farmasi. 2020;16(1):23-30.
  5. Prayudi A. Penatalaksanaan Infeksi dengan Seftriakson: Tinjauan Efikasi dan Resistensi. Jurnal Medika Indonesia. 2021;25(3):145-152.
  6. Yuliana S, dkk. Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di RS Islam Sultan Agung Semarang. Jurnal Farmasi Klinis Indonesia. 2022;5(1):45-52.

File Referensi Untuk Evaluasi Ketepatan Pemilihan Antibiotik Seftriakson Pada Pasien Rawat Inap Di RSI Sultan Agung Semarang
Screenshoot
Nama File
s1_050116a087_artikel.pdf

Ukuran File
0.48 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Evaluasi Ketepatan Pemilihan Antibiotik Seftriakson Pada Pasien Rawat Inap Di RSI Sultan Agung Semarang. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Evaluasi Ketepatan Pemilihan Antibiotik Seftriakson Pada Pasien Rawat Inap Di RSI Sultan A...


admin
Admin
2026-06-08 16:20:21

Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Pada Pasien Gout Di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. K...


admin
Admin
2026-06-08 23:20:17

Daftar Rumah Sakit Dan Klinik Rekanan Untuk Layanan Rawat Inap Dan Rawat Jalan dan Link Do...


admin
Admin
2026-06-08 12:32:06

Kurang Optimalnya Penjadwalan Tindakan Keperawatan Seperti Jadwal Ganti Balutan Luka Dan J...


admin
Admin
2026-05-24 21:15:14

Analisis Biaya Pada Pasien Skizofrenia Rawat Inap dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-08 13:58:15