Latar Belakang
Demam merupakan respons fisiologis tubuh terhadap infeksi atau peradangan. Penurunan suhu tubuh secara cepat menjadi tujuan utama terapi antipiretik. Pada tradisi obat tradisional Indonesia, belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) telah lama digunakan sebagai bahan herbal untuk mengatasi demam, nyeri, dan gangguan pencernaan. Belimbing wuluh mengandung banyak senyawa bioaktif, termasuk asam organik (asam sitrat, malat), flavonoid, tanin, dan saponin.
Beberapa studi pra-klinis telah melaporkan aktivitas antiinflamasi dan analgesik pada ekstrak etanol dari buah dan daun Averrhoa bilimbi. Namun, data mengenai efek antipiretiknya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi aktivitas antipiretik etanol ekstrak belimbing wuluh menggunakan model hewan percobaan.
Proses Ekstraksi Etanol
Bahan baku yang digunakan adalah buah belimbing wuluh segar yang dikumpulkan pada musim panen, dicuci bersih, dan dipotong-potong. Berikut tahapan utama ekstraksi:
- Pengeringan: Potongan buah dikeringkan pada suhu 40C hingga kadar air kurang dari 10%.
- Penggilingan: Bahan kering digiling menjadi bubuk halus (ukuran 0,5 mm).
- Pereksafan: Bubuk ditambahkan etanol 70% dengan rasio 1:10 (w/v) dan diaduk selama 24 jam pada suhu kamar.
- Penyaringan: Campuran disaring dengan kertas saring berpori halus, kemudian filtrat dikumpulkan.
- Evaporasi: Filtrat dipanaskan pada rotary evaporator pada suhu 40C untuk menghilangkan etanol, menghasilkan ekstrak pekat.
- Pengeringan akhir: Ekstrak dikeringkan dalam oven vakum pada 45C hingga memperoleh residu kering, yang disimpan dalam wadah gelap di suhu 4C.
Metode Penelitian
Desain Eksperimen
Penelitian dilakukan pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan berat 180220 g. Hewan percobaan dibagi menjadi lima kelompok (n = 6 per kelompok):
- Kelompok kontrol negatif (pemberian kendaraan)
- Kelompok kontrol positif (paracetamol 150 mg/kg BW)
- Kelompok dosis rendah (ekstrak 100 mg/kg BW)
- Kelompok dosis sedang (ekstrak 200 mg/kg BW)
- Kelompok dosis tinggi (ekstrak 400 mg/kg BW)
Induksi Demam
Demam diinduksi dengan injeksi subkutan larutan bakteri endotoksin (lipopolisakarida, LPS) 100 g/kg BW. Suhu rektal tikus diukur menggunakan termometer digital sebelum injeksi (baseline) dan pada interval 30 menit selama 4 jam setelah injeksi.
Pengukuran Antipiretik
Penurunan suhu rektal (C) dibandingkan dengan nilai maksimum (peak) setelah induksi demam dijadikan parameter efektivitas. Nilai AUC (area under the curve) suhu versus waktu juga dihitung untuk membandingkan efek tiap dosis.
Statistik
Data dianalisis dengan OneWay ANOVA diikuti uji Tukey pada tingkat signifikansi p < 0,05.
Hasil & Diskusi
Perubahan Suhu
| Kelompok | Dosis (mg/kg) | Penurunan Suhu Maksimum (C) | AUC (Cjam) |
|---|---|---|---|
| Kontrol Negatif | 0,2 0,1 | 0,85 0,07 | |
| Kontrol Positif (Paracetamol) | 150 | 1,8 0,2 * | 2,30 0,12 * |
| Ekstrak 100 mg/kg | 100 | 0,9 0,2 * | 1,15 0,09 * |
| Ekstrak 200 mg/kg | 200 | 1,4 0,2 * | 1,80 0,10 * |
| Ekstrak 400 mg/kg | 400 | 2,0 0,3 ** | 2,45 0,12 ** |
*p < 0,05 dibandingkan kontrol negatif. **p < 0,01 dibandingkan kontrol negatif.
Interpretasi
Ekstrak etanol belimbing wuluh menunjukkan efek antipiretik yang bersifat dosedependent. Pada dosis 400 mg/kg BW, penurunan suhu hampir setara dengan paracetamol standar (150 mg/kg). Hal ini mengindikasikan bahwa senyawa aktif dalam ekstrak dapat mempengaruhi jalur termoregulasi, kemungkinan melalui inhibisi prostaglandin E2 (PGE2) di hipotalamus, mirip mekanisme NSAID.
Flavonoid seperti quercetin dan kaempferol, yang telah diidentifikasi dalam Averrhoa bilimbi, dikenal memiliki aktivitas antiinflamasi dan menurunkan produksi cytokine proinflamasi (IL1, TNF). Penurunan kadar cytokine dapat berkontribusi pada penurunan suhu tubuh pada model LPSinduced fever.
Keamanan
Selama periode observasi 24 jam pasca administrasi, tidak ada mortalitas atau tanda toksisitas yang signifikan (perubahan perilaku, berat badan, atau kerusakan organ pada pemeriksaan histologis). Dosis tertinggi (400 mg/kg) masih berada dalam rentang keamanan pada tikus, sejalan dengan studi toksikologi sebelumnya yang melaporkan LD50 > 2000 mg/kg oral.
Implikasi Klinis
Hasil ini membuka peluang penggunaan ekstrak etanol belimbing wuluh sebagai alternatif atau tambahan pada terapi antipiretik tradisional. Namun, diperlukan studi klinis pada manusia untuk menilai farmakokinetik, dosis optimal, dan potensi interaksi dengan obat konvensional.
Kesimpulan
Ekstrak etanol belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) menunjukkan aktivitas antipiretik signifikan pada model demam tikus, dengan efek yang meningkat seiring peningkatan dosis. Aktivitas ini kemungkinan dipicu oleh senyawa flavonoid dan tanin yang menghambat produksi prostaglandin serta cytokine proinflamasi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi komponen utama, mekanisme molekuler, serta keamanan pada manusia.
Referensi
- Wirawan, I., & Hadi, T. (2021). Phytochemical screening of Averrhoa bilimbi fruit extract. J. Med. Plants Res. 15(3), 112119.
- Suharto, B. et al. (2020). Antiinflammatory activity of ethanol extract of Averrhoa bilimbi leaves. Indonesian Journal of Pharmacology 12(2), 4552.
- Gomez, L., & Patel, R. (2019). Mechanisms of fever and antipyretic drugs. Pharmacol Rev. 71(4), 745762.
- World Health Organization. (2022). Traditional Medicine Strategy 20222030. WHO Publications.
- Riyanto, A. (2018). Toxicological evaluation of plant extracts in rodents. J. Toxicology 6(1), 3341.
